Chairil Anwar

Penyiar Kantor Radio Jepang di Jakarta (1942-1942)
Lahir: Medan, Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 26 Juni 1922
Karir
  • Redaktur Gema Suasana (1948-1948)
  • Penyiar Kantor Radio Jepang di Jakarta (1942-1942)
Pendidikan
  • Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Medan (1939-1941)

Chairil Anwar Penyair Angkatan 45. Puisi pertamanya yang dimuat adalah: Nisan. Dimuat pada 1942. Ketika usia itu dia baru 20 tahun. Itu bukan puisi pertama yang dia tulis. Sebelum Nisan, banyak puisi-puisinya banyak ditolak Pandji Poestaka. Alasannya, puisi Chairil tidak sesuai dengan propaganda Militer Jepang yang kala itu menguasai Indonesia. Puisinya, Aku, yang ditulis tahun 1943, pada tahun 1945 dimuat di majalah Timur. Sebelumnya, puisi Aku pernah dijuduli sebagai: Semangat.

Puisi Karawang Bekasi ditulis setelah pembantaian sekitar 400an laki-laki di Rawagede pada 9 Desember 1947, oleh Tentara Belanda yang mengejar tentara dan pejuang Indonesia. Puisi itu bicara soal korban dan pejuang yang tewas dalam revolusi menegakan Republik Indonesia. Puisi Chairi kadang diidentikkan dengan Semangat Revolusi 1945. Di masa revolusi, antara Januari hingga Maret 1948, Chairil sempat bekerja di redaksi Gema Suasana. Hanya tiga bulan saja. Keluar dari sana, Chairil bekerja di mingguan Siasat. Dia termasuk dewan redaksi kebudayaan.Menurut HB Jassin, sejak 1942 hingga 1949, setidaknya dia menghasilkan 94 tulisan.

Chairil pernah berumah-tangga dengan Hapsah, sejak 6 September 1946 hingga akhir tahun 1948. Setelah bercerai, Chairil tak bisa produktif berkarya lagi . Kesehatan Chairil makin kacau. Chairil bahkan harus dilarikan ke CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Jakarta. Paru-paru Chairil terjangkiti penyakit Tubercolosis (TBC). Hingga nyawanya melayang pada 28 April 1949.

DarkLight