Busyro Muqoddas

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (2010)
LahirYogyakarta, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia, 17 Juli 1952
ProfesiKetua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (2010)
Karier
  • Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia (2005-2010)
  • Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (2010)
Pendidikan
  • Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (1977)
  • Magister Hukum dari Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada (1995)
  • Doktor Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (2010)

Muhammad Busyro Muqoddas merupakan seorang tokoh hukum Indonesia kelahiran Yogyakarta 17 Juli 1952 yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2011-2014. Busyro tumbuh besar dalam gerakan Islam Muhammadyah. Ayahnya seorang pegawai Departemen Agama dan ibunya merupakan guru agama Islam di Madrasah Mu'allimat Muhammadiyah, Yogyakarta. Perjalanan hidupnya diwarnai dengan latar belakang keluarga yang religius. Penampilannya yang kalem membuat banyak orang meragukan gaya kepemimpinan Busyro. Ia kerap dianggap tidak tegas dan cenderung kompromistis. Namun, kinerjanya mulai tampak cemerlang ketika ia dipercaya untuk memimpin Komisi Yusial (KY) selama lima tahun.

Ketika dirinya menjabat Ketua KY, Busyro pernah mengusulkan wacana kocok ulang hakim agung dalam rangka mereformasi sistem peradilan terhadap hakim agung yang berjumlah 49 orang. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membersihkan dunia peradilan. Saat itu, Busyro bersama KY berencana memeriksa 13 hakim agung yang dipimpin Ketua MA (2001-2008) & Ketua Dewan Pers (2010-2014) Bagir Manan. Namun, lembaga peradilan tertinggi d Indonesia itu kemudian mengajukan gugatan kepada Komisi Konstitusi. Bahkan sempat melaporkan ke polisi terkait dengan adanya dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan KY terhadap hakim agung. Setelah berlangsung cukup lama, gugatan ini tidak diketahui ujungnya.

Selain itu, langkah Busyro yang patut diapresiasi ketika menjabat sebagai ketua KY adalah ketika ia melimpahkan kasus komisioner Komisi Yudisial Irawady Joenoes ke jalur hukum. Irawady tersandung kasus penyuapan gedung baru KY di Jalan Kramat, Jakarta yang berbuntut pada hukuman delapan tahun penjara dan denda Rp 400 juta. Sebelum menjadi Ketua KY, Busyro adalah akademisi dan advokat yang pernah membela kasus-kasus yang berhadapan dengan penguasa. Misalnya, dalam kasus penembak misterius, Abdullah Umar yang dituduh terlibat dalam kasus Komando Jihad, penembakan Mozes Gatotkaca, dan lain sebagainya. Melihat contoh tersebut, Busyro memang bukan orang yang gampang diajak berkompromi.

 

Busyro kecil menghabiskan banyak waktu di Yogyakarta. Hampir semua pendidikannya diselesaikan di kampung halamannya, mulai dari TK tahun 1956 di TK ABA Suronatan, SD Muhammadiyah Ngupasan lulus tahun 1964, SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta hingga SMA Muhammadiyah 1 tahun 1968. Pria yang gemar membaca buku ini akhirnya memutuskan untuk mengambil bidang hukum di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1972. Gelar sarjana hukum-nya berhasil diraih pada tahun 1977. Sementara gelar Magister Hukum diselesaikannya di Universitas Gajah Mada pada tahun 1990 yang ditempuh sejak tahun 1985. Sementara gelar doctoral didapatkannya pada tahun 2010 dari Universitas Islam Indonesia.

Selama pendidikannya di Universitas Islam Indonesia Busyro tercatat sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia tahun 1973-1975. Di kampusnya, Busyro juga sempat menggeluti pekerjaan di dunia pendidikan dan hukum. Ia pernah menjabat sebagai Direktur LKBH dan Pusdiklat Universitas Islam Indonesia, Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia dan juga sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Selain menempuh pendidikan formal, peraih penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) di tahun 2008 ini juga pernah mengikuti berbagai pelatihan, seperti Pelatihan Investigasi Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Berat yang diikuti di tahun 2004. Busyro juga pernah tercatat sebagai salah satu peserta yang aktif dalam pelatihan internasional bidang Human Rights, Conflict Transformation and Peace Promotion in Norwegia atas kerjasama Dirjen Perlindungan HAM, Departemen Hukum dan HAM RI bersama Institute of Human Rights, University of Oslo Norwegia di Bogor pada tahun 2004.

Pada tahun 1972 Busyro Muqoddas pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah selama 2 tahun. Ia juga pernah menjadi Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1985 sampai tahun 1990. Busyro menjabat sebagai Ketua Komisi Yudisial selama 5 tahun sejak tahun 2005 sebelum akhirnya menggantikan Antasari Azhar sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi untuk tahun 2010-2011. Busyro dilantik dan diambil sumpah oleh Presiden RI pada 20 Desember 2010. Sebelumnya, Busyro telah disetujui DPR sebagai Ketua KPK pada 25 November 2010 melalui pemungutan suara di Komisi III DPR, mengalahkan Bambang Widjojanto.

Selain aktif mengajar dan berorganisasi, Busyro juga menulis. Ia berpengalaman menyunting buku Politik Pembangunan Hukum Nasional dan Kekerasan Politik yang Over Acting, serta termasuk dalam tim penulis buku Peran Kapolri Dalam Konflik Sosial Politik di Indonesia.