Boediono

Wakil Presiden Wakil Presiden RI (2009 - 2014)
LahirBlitar, 25 Februari 1953
ProfesiWakil Presiden Wakil Presiden RI (2009 - 2014)
Karier
  • Menteri Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia (1998-1999)
  • Menteri Kementerian Keuangan (2001-2004)
  • Menteri Koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (2005-2008)
  • Gubernur Bank Indonesia (2008-2009)
  • Wakil Presiden Wakil Presiden RI (2009-2014)

Boediono tak banyak bicara kala menjadi seorang Wakil Presiden. Meski namanya sempat tercatut dalam kasus Bank Centuri, ia adalah sosok yang terlibat pula dalam The Dream Team dan Bank Indonesia, Master of Economics, Monash University, Melbourne, Australia. Pada tahun 1972, sebelum ia dikenal masyarakat sebagai Wakil Presiden, sosok pendiam ini telah berhasil menjadi salah seorang pemikir dalam upaya menstabilkan kurs rupiah. Ia membawa rupiah pada kisaran nilai Rp 9000-an per dolar Amerika Serikat.

Tak cuma kurs rupiah, pemikirannya juga berhasil membuat suku bunga kredit berada di posisi yang cukup mampu untuk merangsang kegiatan bisnis dalam negeri. Kondisi ini memicu pertumbuhan ekonomi naik secara signifikan.

Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan periode 9 Agustus 2001 sampai 22 Mei 2008, di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Boediono menerapkan citra low profile dalam menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya. Selama mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001, ia juga tetap menunjukkan citra low profile. Paris Club merupakan ajang pertemuan penting untuk membahas anggaran tahun 2002, di mana ia bersama tim ekonomi dari Kabinet Gotong Royong saat itu akan  berhadapan langsung dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Pertemuan ini diberlangsungkan dengan tujuan untuk mengakhiri kerjama Indonesia dengan IMF yang selama ini telah menyuntik dana untuk kepentingan pembangunan bangsa Indonesia.

Di bawah kendali pria berkacamata yang lahir pada 25 Februari 1943, Blitar, Jawa Timur, Departemen Keuangan akhirnya mengalami masa transisi pasca program kerjasama dengan IMF. Banyak pihak bahkan dirinya sendiri mengungkapkan lepas dari IMF merupakan tindakan yang rawan, sebab menyangkut masalah dana. Pemberhentian kerjasama ini juga menyangkut rasa percaya pasar ekonomi internasional terhadap Indonesia.

Ditambah lagi saat itu, Pemilihan Umum pertama kali di Indonesia baru saja diberlangsungkan. Pendapat tokoh-tokoh perekonomian dunia terhadap pilihan kebijakan Indoneisa ini tentu akan memberi dampak gunjangan ekonomi, baik nasional maupun posisi Indonesia di dunia internasional. Akan tetapi, berkat kepercayaan diri dari sikap kepemimpinan Boediono, Departemen Keuangan dinyatakan berhasil melewati masa rawan tersebut.

Boediono malah berhasil menghimpun kerjasama dengan Bank Indonesia dan tim ekonomi lain untuk membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional atau IMF. Ada seseorang yang tak mau bekerjasama dengannya, dia adlaah Kwik Kian Gie, saat itu sedang menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas.

Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, Boediono diakui oleh lawan bisnis dan politiknya sebagai orang yang memiliki perhitungan yang cermat. Hal itu diakui pula oleh majalah BusinessWeek, Amerika Serikat. Majalah tersebut mengakui Boediono sebagai tokoh yang berkompeten sebagai Menteri Keuangan.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono ditunjuk sebagai sosok yang dinilai pantas menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Pada saat yang sama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

Setelah berhasil mengampu tugas sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Boediono pada 9 April 2008 disahkan sebagai Gubernur Bank Indonesia oleh DPR. Boediono menduduki posisi ini untuk menggantikan Burhanuddin Abdullah, selama periode 22 Mei 2008 sampai 16 Mei 2009.