As'ad Samsul Arifin

Dewan Penasihat PBNU
Lahir: -
Karir
  • Dewan Penasihat PBNU

As'ad Samsul Arifin atau dikenal dengan sebutan Kiai Haji Raden As'ad Samsul Arifin adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ia adalah ulama besar sekaligus tokoh dari Nahdlatul Ulama dengan jabatan terakhir sebagai Dewan Penasihat (Musytasar) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayatnya. Ia adalah penyampai pesan (Isyarah) yang berupa tongkat disertai ayat al-Qur'an dari K.H. Kholil Bangkalan untuk K.H. Hasyim Asy'ari, yang merupakan cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai As'ad adalah anak pertama dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah, keduanya berasal dari Pamekasan, Madura. Ia mempunyai adik bernama Abdurrahman. Ia dilahirkan di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.


Kiai As'ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama K.H. Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Ampel dari jalur sang ayah. Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu Sunan Kudus.


Pada usia enam tahun, Kiai As'ad dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Sedangkan adiknya, Abdurrahman, yang masih berusia empat tahun dititipkan kepada Nyai Salhah, saudara sepupu ibunya yang masih bermukim di Mekah.


Setelah lima tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As'ad diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus, Situbondo, yang pada saat itu masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus. Kiai As'ad diajak ayahnya pindah ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam di sana.

Pada masa mudanya, KH R. As’ad muda menghabiskan masa lajangnya di berbagai pondok pesantren di pulau jawa. Beberapa PONPES yang pernah beliau tempati dalam mengais ilmu agama, antara lain PP Demangan Bangkalan asuhan KH. Cholil, PP Panji, Buduran, PP Tetango Sampang, PP Sidogiri Pasuruan, PP Tebu Ireng Jombang dan berbnagai PONPES lainnya di Pulau Jawa dan Madura.

Setelah malang melintang di berbagai pesantren beliau melanjutkan studinya ke Makkatal Mukarromah dan disana beliau berguru kepada Ulama’-ulama besar seperti Sayyid Muhammad Amin Al-Qutby, Syekh Hasan Al-Massad, Sayyid Hasan Al-Yamani dan Syekh Abbas Al-Maliki, serta beberapa ulama besar lainnya.

Setelah pemilu 1955, Kyai As’ad menjadi anggota konstituante sampai tahun 1959. setelah Lembaga itu di bubarkan oleh Bung Karno beliau tidak banyak beraktivitas di bidang politik.
Pada tahun 1971, Kyai As’ad menjadi DPRD KAbupaten Situbondo dan pada tahun 1977 beliau mendukun PPP karena NU saat itu mendukung PPP.


Selain itu, Kyai As’ad merupakan salah satu diantara sekian ulama yang selalu menjembati persoalan-persoalan yang terjadi antara pemerintah dan umat islam, khususnya warga NU. Sikapnya yang tegas dantangkas sertabijaksana, beliaiu mampu memainkan perannya sebagai ulama’ NU (pengayom Masyarakat) sekaligus sebagai politisi yang arif.

 

 

 

DarkLight