Anthony Salim

LahirJawa Tengah, Indonesia, 25 Oktober 1949
Profesi
Karier
  • CEO Salim Group (1998-2016)

Anthony Salim alias Liem Hong Sien adalah pemimpin Salim Group. Dia termasuk dalam 10 Tokoh Bisnis yang paling berpengaruh tahun2005 versi Warta Ekonomi. Karena keberhasilannya membangun kembali Group Salim setelah krisis ekonomi tahun 1998. Anthony Salim lahir dari keluarga konglomerat.

Setelah krisis moneter, Anthony Salim sebagai penerus pimpinan Salim Group, harus melunasi hutangnya dengan cara menjual beberapa perusahaan yang dimilikinya, yaitu PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional. Namun, dia tidak mau menjual Indofood Sukses Makmur yang menghasilkan mie instan dan Bogasari Flour Mills penghasil tepung terigu. Keduanya termasuk penghasil mie instan dan tepung terigu terbesar di dunia. Pada tahun 2009, PT Indofood pernah mencatat laba bersih yang diperolehnya tahun itu yakni mencapai Rp2 Triliun. Selain dua perusahaan penting itu, dia memiliki beberapa perusahaan yang diantaranya terdaftar di bursa efek Jakarta.

Anthony Salim bekerja sama dengan Nestle S.A untuk memperbesar pangsa pasar yang semakin sulit untuk ditembus. Untuk melancarkan bisnisnya tersebut, Anthony Salim berani untuk menyetor 50% saham. Strateginya dalam memimpin perusahaan tergolong berhasil. Dia yakin dengan adanya komunikasi yang baik dengan karyawan, maka kinerja perusahaan bisa fokus dan menghasilkan. Ayahnya, Sudono Salim alias Liem Sioe Liong. Pendiri dan pemimpin dari Salim Group sebelumnya.

Ayahnya, di jaman orde baru adalah pengusaha yang dekat dengan Presiden Soeharto. Sebelum terjadi krisis moneter 1998, Salim Group yang dipimpin ayahnya mengalami masa keemasan. Majalah Forbes, bahkan pernah menobatkan pendiri Salim Group tersebut sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Ketika terjadi krisis moneter, Salim Group banyak mempunyai hutang hingga mencapai 55 Trilyun rupiah. Anthony Salim pernah dinobatkan sebagai taipan terkaya nomor 3 di Indonesia oleh Majalah Globe Asia. Kekayaannya ditaksir mencapai US$3 miliar dollar.