Menuju konten utama

Lupakan Password, Saatnya Selfie!

HSBC dan MasterCard telah mengawali penggunaan metode biometrik berbasis teknologi pemindaian wajah bagi para nasabahnya. Penggunaan kata sandi telah usang. Kini dan di masa depan, membuka atau masuk ke rekening bank cukup dengan potret diri sendiri alias selfie.

Lupakan Password, Saatnya Selfie!
Ilustrasi pelanggan memverifikasi rekening bank merekadengan foto selfie. [Foto/Shutterstock]

tirto.id - Foto selfie tak lagi hanya untuk bergaya. Kini, foto selfie juga bisa digunakan untuk membuka rekening baru. Metode ini sudah diterapkan oleh HSBC. Para calon nasabah HSBC kini bisa membuka rekening baru dengan memanfaatkan teknologi pelacakan wajah. Calon nasabah tinggal memanfaatkan aplikasi mobile banking HSBC untuk mengambil potret diri alias selfie, dan setelah identitas terverifikasi, maka pembuatan rekening baru pun selesai.

Praktis dan efisien. Selaras dengan cita-cita Richard Davies selaku kepala divisi proporsi global untuk perbankan komersial HSBC yang berujar, “Dengan membuat prosedur identifikasi dan verifikasi menjadi lebih sederhana, kami akan menghemat waktu para nasabah dan mempercepat proses pembukaan rekening baru,” katanya sebagaimana dikutip Independent pada Selasa (6/9/2016).

Metode baru ini memang tetap membutuhkan foto di kartu identitas ataupun Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk prosedur pemeriksaan silang. Namun dengan metode baru ini para calon nasabah bank yang berkantor pusat di London, Inggris, itu tak perlu lagi repot-repot berangkat ke kantor cabang apalagi pusat sebagamana prosedur standar yang dahulu masih diterapkan.

Saat akan membuka rekening untuk keperluan transfer, penarikan, atau transaksi lainnya, para nasabah juga tak perlu lagi memasukkan kata sandi, cukup dengan selfie. Sebagaimana diungkapkan ke Bussines Insider, HSBC mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi pelacakan wajah akan menjadi pengalaman baru bagi para nasabah. Sebuah prosedur yang lebih canggih ketimbang metode biometrik lain, semisal pemakaian sidik jari.

Sejak beberapa tahun belakangan, para bankir telah bergelut dengan tantangan untuk mengimplementasikan metode biometrik dalam prosedur pengamanan finansial. Tujuannya tak lain untuk melindungi isi rekening para nasabah dari pembajakan atau pemalsuan identitas. Semakin lama, wacana pengamanan akun makin serius untuk dibahas sebab para pelaku kejahatan siber juga makin meningkatkan kemampuannya.

Urgensi penerapan metode biometrik ini hingga menjadi santapan utama di acara World Economic Forum (WEF) yang berlangsung pekan lalu. Usai dibahas panjang lebar, forum menghasilkan kesimpulan bahwa teknologi biometrik adalah salah satu kunci utama untuk mentransformasikan pelayanan finansial di masa depan, atau dalam perhitungan WEF, beberapa dekade ke depan.

Dalam kesimpulan lebih lengkapnya, selain metode biometrik ada pula proses komputasi berdasarkan awan (cloud computing), komputasi kognitif, teknologi blockchain, pembelajaran berbasis mesin, komputasi kuantum, dan komputasi robotik. Sejumlah kata kunci itu masuk dalam laporan WEF 2016 bertajuk “Masa Depan Infrastruktur Finansial”.

“Ini saatnya kita mesti menemukan cara baru untuk menggantikan penggunaan kata sandi. Kata sandi makin tak bisa lagi diandalkan saat hidup kita hari ini amat bergantung dengan dunia maya. Kita perlu menemukan cara baru untuk membuat diri kita lebih aman,” kata Malcolm Marshall, Kepala Pengamanan Global di “Big Four” dan akuntan sekaligus konsultan KPMG Internasional.

“Coba pikirkan berapa banyak kata sandi yang kita gunakan dan betapa susahnya mengingat itu semua. Bahkan aku mesti sesekali mengganti kata sandiku sendiri karena lupa terus,” ungkapnya kepada Bussines Insider.

HSBC tak sendirian. Bulan Februari lalu MasterCard mengumumkan akan menerapkan sistem pembayaran dan verifikasi baru berdasarkan selfie. Para nasabah bank yang berada dalam naungan pelayanan finansial MasterCard akan lebih sering memfungsikan kamera ponsel pintarnya untuk berfoto diri ketimbang mesti mengingat-ingat password saat akan membayar barang belanjaannya, atau ketika ingin mentransfer sejumlah uang kepada kerabat dekat.

Menurut survei MasterCard, sepertiga respondennya mengaku pernah membatalkan transaksi online hanya gara-gara lupa kata sandi rekeningnya. Lebih lanjut, 53 persen pembeli lupa kata sandi rekeningnya setidaknya satu kali dalam seminggu, dan menghabiskan lebih dari 10 menit untuk mengganti kata sandi baru. Survei itu juga berkata bahwa 92 persen respondennya lebih menyukai metode biometrik baru ketimbang yang lama.

Ann Cairns, kepala bagian pemasaran internasional MasterCard, berkata kepada CNBC bahwa metode biometrik telah dicoba di Amerika Serikat dan Belanda. Inggris menjadi tujuan selanjutnya. “Saya kira metode biometrik adalah langkah yang manjur untukmu dalam melakukan transaksi dengan tingkat keamanan yang lebih terjamin,” ujarnya.

Idealnya, pemakaian metode biometrik dengan pemanfaatan teknologi deteksi wajah ini memang jauh lebih aman. Saat ini aplikasi penjebol kata sandi sudah sedemikian marak, orang-orang masih menggunakan kata sandi yang gampang dibobol, dan bahkan kita tak bisa percaya lagi dengan mesin pengukur kekuatan kata sandi.

Toh prosedur pemanfaatan teknologi pendeteksi wajah ini tetap memerlukan kedipan mata si pemilik akun. Langkah tersebut mesti dilewati untuk menghindari kejahatan siber dimana si pelaku mencoba membuka akun atau rekening dengan cara menyodorkan foto korban ke arah kamera.

Mengapa Selfie?

Mengapa tidak? Kebijakan baru MasterCard dan HSBC setidaknya mempertimbangkan sebuah fenomena global yang hampir pernah dilakukan oleh semua orang yang memegang ponsel pintar. Bahkan sebagian diantaranya ada yang melakukan aktivitas narsis ini secara rutin. Ada yang disimpan untuk konsumsi pribadi, ada juga yang diuggah ke media sosial—sebagai jalan penegasan eksistensi diri.

Kemunculan media sosial membuka jalan bagi tren selfie, yang dimulai saat foto dengan tagar #selfie mulai muncul di website Flickr di awal tahun 2004 silam. Namun booming selfie sebagai viral di dunia maya menemukan sumbu ledaknya saat ponsel pintar pada tahun 2010, terutama kemunculan iPhone 4, yang mulai memasang kamera di bagian depan ponsel.

Tiga tahun berselang, laporan komunikasi dari Ofcom menyatakan bahwa 60 persen orang Inggris telah memiliki ponsel pintar. Riset terbaru dari Pew Research Centre di Amerika Serikat menujukkan bahwa 91 persen dari 800 responden anak mudanya pernah mengunggah foto selfie mereka ke dunia maya. Hasilnya naik dari persentase 79 persen di tahun 2006.

Data TechInfographic menunjukkan bahwa dua tahun yang lalu ada 1 juta foto selfie yang tercipta setiap hari. Paling banyak diunggah di Facebook (48 persen), lalu di Whatsapp dan SMS (27 persen), Twitter (9 persen), Instagram (8 persen), Snapchat (5 persen), dan Pinterest (2 persen). Menurut data Samsung di tahun 2014, 30 persen selfie dari total keseluruhan foto selfie dibuat oleh anak-anak muda usia di antara 18-24 tahun.

Khusus untuk Instagram, Lev Manovich, profesor ilmu komputer di The Graduate Center, The City University of New York, pernah membuat penelitian untuk menjajaki fenomena selfie di Instagram. Hasilnya, terhitung bulan Februari 2014, ada lebih dari 79 juta foto di Intagram dengan hastag #selfie. Ini belum termasuk 7 juta foto dengan hastag #selfies, 1 juta foto dengan hastag #selfienation, 400 ribu foto dengan hastag #selfiesfordays dan banyak foto selfie lain yang diunggah tanpa hastag #selfie.

Angka-angka fantastis tersebut seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi pondasi kebijakan HSBC, MasterCard, maupun bank dan perusahaan pelayanan finansial lain untuk segera menerapkan metode biometrik berbasis teknologi pemindaian wajah. Metode konvensional dengan mengunakan password sudah terlalu usang. Pun tak lagi aman.

Pendek kata: di masa depan, selfie adalah kata sandi.

Baca juga artikel terkait KATA SANDI atau tulisan lainnya dari Akhmad Muawal Hasan

tirto.id - Teknologi
Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti