Lukisan Gua Maros dan Homo sapiens sebagai Pendongeng Ulung

Ilustras Homo Sapiens. FOTO/iStockphoto
Oleh: Indira Ardanareswari - 18 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kemampuan untuk mendongeng adalah keistimewaan paling unik yang hanya dimiliki Homo sapiens.
Sebuah lukisan gua purbakala kembali ditemukan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di dalamnya terekam sebuah adegan perburuan anoa yang dilakukan oleh sekelompok manusia setengah binatang. Para arkeolog memperkirakan usia lukisan ini mencapai lebih dari 44.000 tahun.

Penemuan lukisan gua di Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak 1950-an dan berlanjut hingga 2018. Namun, kebanyakan lukisan yang ditemukan di gua-gua purba di Sulawesi dan Kalimanan hanya merekam bentuk-bentuk hewan atau objek tertentu yang bersifat kiasan. Lukisan gua di Maros dianggap sangat penting karena untuk pertama kalinya manusia digambarkan dalam aktivitas berburu.

“Saya belum pernah melihat hal semacam ini sebelumnya. Selama ini kami sudah melihat ratusan lukisan gua di kawasan ini, tapi kami belum pernah melihat sesuatu yang menggambarkan adegan perburuan,” kata Adam Brumm, peneliti dari Universitas Griffith Australia seperti dikutip dari Nature.

Meski masih diperdebatkan, sebagian arkeolog percaya lukisan yang ditemukan di antara ratusan gua purba di daerah Kars Maros-Pangkep ini menyimpan narasi cerita tertua yang pernah dituturkan oleh nenek moyang manusia modern, yakni Homo sapiens.

Homo sapiens dan Fiksi Pertama Umat Manusia

Spesies Homo sapiens diketahui telah mendiami daratan Afrika sejak 300.000 tahun yang lalu. Mereka adalah nenek moyang manusia modern yang bertahan hidup melewati perubahan iklim, berevolusi, sampai akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Para pakar purbakala memperkirakan Homo sapiens tiba di benua Asia dan Australia antara 80.000 hingga 60.000 tahun yang lalu. Guy Gugliotta dalam artikel “The Great Human Migation” yang terbit di Smithsonian Magazine, merinci usia migrasi Homo sapiens ke Indonesiad dan sekitarnya jauh lebih tua dibandingkan kedatangan mereka di Eropa. Homo sapiens pertama kali tiba di Asia Tenggara dan Australia sekitar 45.000 tahun lalu.


Menilik temuan lukisan gua di Maros yang berusia 44.000 tahun, ketika berpindah Homo sapiens kemungkinan sudah membawa dan mengembangkan kemampuan mereka meramu fiksi. Gambaran tentang manusia setengah hewan yang sedang berburu, seperti yang dituturkan Adam Brumm, sama persis seperti mitologi yang lebih dulu berkembang di Afrika sejak 70.000 tahun silam.

Apabila teori di balik penemuan lukisan gua di Maros dapat dibuktikan, maka artinya manusia purba di Sulawesi juga sudah mampu membayangkan hal-hal di luar realitas objektif yang tersedia di alam. Mereka sudah piawai meramu mitos dan menceritakannya kembali ke dalam gambar lukisan yang dipulas di gua-gua tempat tinggal mereka.

“Kami belum tahu apa arti lukisan tersebut, tapi sepertinya berhubungan dengan perburuan yang berkonotasi dengan mitos atau kekuatan supranatural,” lanjut Brumm.

Kemampuan manusia purba Sulawesi dalam menciptakan mitos dan fiksi ini diklaim jauh lebih maju dibandingkan yang terjadi di Eropa. Menurut Brumm, cerita mitos yang dibawakan dalam wujud lukisan dan artefak manusia berkepala singa sebelumnya pernah ditemukan di Eropa, tetapi perkiraan usianya tidak lebih dari 40.000 tahun.

Pada abad ke-19, tidak banyak ilmuwan yang percaya bahwa lukisan gua atau artefak purbakala memiliki kapasitas mempengaruhi hidup manusia selayaknya cerita fiksi. Hipotesis yang berkembang pada waktu itu menyebut Homo sapiens sekedar memulas warna acak pada dinding gua untuk menghasilkan hiasan rumah.

Anggapan ini mulai berubah begitu memasuki pertengahan abad ke-20. Di tengah maraknya gagasan strukturalisme, para ilmuwan dengan semangat mengkaitkan penemuan lukisan dan simbol dalam gua purbakala dengan penciptaan peradaban manusia, khususnya terkait bahasa.

Lukisan gua, menurut Miyagawa, besar kemungkinan digunakan oleh Homo sapiens untuk berkomunikasi satu sama lain, jauh sebelum mereka mengenal tulisan. Penyebaran ke penjuru dunia secara tidak langsung juga menunjukkan keunikan spesies manusia ini membuat jaringan yang berasal dari mitos purbakala.

“Di setiap daratan yang ditinggali Homo sapiens pasti memiliki lukisan gua. Anda bisa menemukannya di Eropa, di Timur Tengah, di Asia, di mana pun, selayaknya bahasa manusia,” kata Shigeru Miyagawa, profesor linguistik di Kajian Sastra dan Budaya Jepang di MIT.


Mendongeng untuk Bertahan Hidup

Manusia modern atau yang dikenal juga dengan sebutan Homo sapiens adalah pewaris tunggal Bumi. Fakta ini tak terbantahkan. Di antara spesies nenek moyang manusia lain yang berasal dari anggota genus Homo, Sapiens beserta keturunannya merupakan kelompok terakhir yang berhasil bertahan hidup.

Selama lebih dari ratusan ribu tahun, Homo sapiens bertahan dengan cara berevolusi. Dari makhluk sepele, mereka berubah menjadi spesies utama di muka Bumi. Manusia modern pula satu-satunya kelompok makhluk hidup yang mampu bekerja sama dalam jumlah besar, merumuskan sesuatu untuk mencegah kepunahan.

Pertanyaannya, bagaimana bisa?

Sejarawan asal Israel, Yuval Noah Harari, mengatakan bahwa itu semua bisa terjadi berkat imajinasi. Dibandingkan makhluk lainnya, hanya Homo sapiens yang mampu membangun realitas baru di luar kenyataan objektif demi keberlangsungan hidup. Melaluinya, nenek moyang kita menciptakan apa yang disebut dengan fiksi.

“Kita dapat bekerjasama dengan baik bersama orang lain yang tidak kita kenal, karena hanya kitalah satu-satunya makhluk di Bumi yang dapat menciptakan dan mempercayai cerita fiksi,” kata Harari dalam acara TED Global London pada Juni 2015.


Fiksi manusia modern memiliki cara kerja yang sama dengan lukisan gua purbakala. Seperti halnya mitologi manusia berkepala binatang, Homo sapiens memakai cara yang sama untuk berkomunikasi dan menurunkan kecerdasan kognitif mereka satu sama lain. Pola ini terus diulang sejak zaman purba hingga kini.

Harari dalam bukunya yang termasyur, Sapiens: A Brief History of Humankind (2011, hlm. 27), Harari menyebut kondisi ini sebagai Revolusi Kognitif. Ia menjelaskan bahwa legenda, mitos, dan kepercayaan yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk dongeng lahir dari ruang yang sama. Kemampuan untuk mendongeng adalah keistimewaan paling unik yang hanya dimiliki Homo sapiens.

“Lukisan gua adalah bagian dari cara memahami bagaimana Homo sapiens bisa tiba pada kemampuan kognitif tingkat tinggi,” kata Shigeru Miyagawa, mendukung argumen Harari.

Fiksi atau dongeng, dalam penjelasan Harari, bukan semata-mata hal yang memungkinkan seseorang membayangkan sesuatu. Fiksi juga harus berupa cerita atau kepercayaan yang berkembang secara kolektif. Berkat kemampuan semacam ini, Homo sapiens mampu bekerjasama secara fleksibel dalam jumlah besar dan menjamin berkelangsungan hidup spesies mereka.

Harari memperkuat argumennya dengan membeberkan bahwa sepanjang sejarah umat manusia, dongeng dapat berbentuk berbagai macam rupa. Hal semacam ini khususnya ditunjukan dari cara agama atau kepercayaan tertentu memelihara ketaatan umatnya lewat mitos-mitos. Dalam konsep negara modern, dongeng serupa juga ditumbuhkan melalui cerita-cerita nasionalisme yang bertujuan menjaga keutuhan negara.

“Selama setiap orang mempercayai dan menaati cerita yang sama, mereka juga akan mengikuti peraturan yang sama, serta norma dan nilai yang sama,” kata Harari.

Dalam beberapa abad terakhir, manusia berhasil menumbuhkan realitas subjektif yang hanya hidup dalam imajinasi masyarakat modern. Harari menyebutnya sebagai “sebuah realita yang terbuat dari konsep-konsep fiktif.” Ia memberi contoh konsep fiktif yang paling berhasil menyatukan seluruh orang di muka Bumi adalah uang.

“Uang adalah konsep paling sukses yang ditemukan dan disebarkan oleh manusia. Tidak semua manusia percaya Tuhan, tidak semua percaya HAM, tidak semua percaya pada nasionalisme, namun semua orang percaya akan uang,” katanya.

“Uang pada hakikatnya tidak memiliki nilai objektif. Kemudian datanglah para pendongeng ulung, para bankir besar, para menteri perekonomian. Mereka memberi konsep yang sangat meyakinkan bahwa selembar kertas bisa ditukar dengan beberapa buah pisang. Selama orang mempercayai cerita ini, semua akan berhasil,” tutup Harari.

Baca juga artikel terkait HOMO SAPIENS atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight