Menuju konten utama

Luhut Klaim Sawit Berkontribusi Turunkan Kemiskinan dan Ketimpangan

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim kelapa sawit memiliki sejumlah manfaat baik seperti misalnya menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan (gini ratio).

Luhut Klaim Sawit Berkontribusi Turunkan Kemiskinan dan Ketimpangan
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjadi pembicara dalam Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (18/12/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengklaim industri kelapa sawit memiliki sejumlah manfaat baik seperti misalnya menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan (gini ratio).

Ia menyebutkan hal itu dapat terjadi karena industri sawit Indonesia melibatkan masyarakat luas yang, menurut Luhut, menciptakan lapangan kerja bagi 17 juta orang.

“Palm oil ini melibatkan hampir 17 juta masyarakat. Itu sudah berhasil menurunkan gini ratio. Indonesia sekarang angka kemiskinan di bawah 10 persen,” ucap Luhut kepada wartawan usai 5th ICC Asia Pacific CEO Forum di Hotel Shangri-La pada Selasa (12/3/2019).

Saat ini, gini ratio Indonesia tercatat berada pada 0,384 per September 2018. Angka ini lebih rendah dibanding Maret 2018 pada 0,389 dan September 2017 mencapai 0,391.

Sementara itu, angka kemiskinan Indonesia berada di level 9,66 persen per 2018. Lebih rendah dibanding Maret 2018 di angka 9,82 persen dan September 2017 di angka 10,12 persen.

Namun, belum dapat dipastikan bilamana mayoritas penurunan kedua indikator itu memang disumbang oleh industri sawit.

Kendati demikian, Luhut meyakini jika keputusan negara Eropa yang mulai berancang-ancang menghambat ekspor sawit Indonesia merupakan keputusan yang patut dipertanyakan. Dalam hal ini terkait dengan Renewable Energy Directive (RED) II yang menganggap sawit sebagai sumber deforestasi dan alih fungsi lahan (ILUC).

Atas dasar klaimnya, Luhut mengatakan keputusan negara Eropa tersebut bertolak belakang dengan langkah mereka atas komitmen untuk menjalankan Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya dengan memerangi kemiskinan dan ketimpangan.

Karena itu, ia menuding langkah negara-negara Eropa itu menerapkan praktik standar ganda. Pasalnya, sumber minyak nabati lainnya yang berasal dari bunga matahari dan kedelai dari Amerika justru boleh masuk ke Eropa. Di saat yang sama, Uni Internasional untuk Konservasi Alam menilai kedua tanaman itu memiliki dampak lingkungan yang lebih buruk dibanding sawit.

“Kalau banned [larangan] ini kalian enggak konsisten terkait penurunan kemiskinan dan SDG’s. Kami juga feed rakyat kami jadi jangan pikirin orang utannya aja,” ucap Luhut.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI SAWIT atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Bisnis
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri