Festival Musik

Lorjhu' dan Favorit Awak Tirto di Synchronize Fest 2022 (Bag. 2)

Penulis: Nuran Wibisono, tirto.id - 17 Okt 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kami coba merangkum siapa penampilan favorit kami sepanjang tiga hari penyelenggaraan Synchronize Fest 2022.
tirto.id - Baca bagian satu di sini: Yang Favorit di Synchronize Fest 2022 Versi Awak Tirto (Bag. 1)


Ketika line up Synchronize Festival 2022 diumumkan, perhatian saya tertuju pada beberapa nama, salah satunya: Lorjhu'.

Lorjuk adalah nama kerang endemik Madura yang juga diolah jadi makanan khas Pulau Garam ini. Di dunia musik, lorjuk, ditulis dengan style Lorjhu’, adalah moniker bagi Badrus Zeman, seorang musisi dan seniman asal Sumenep, Madura.

Sebagai musisi Madura, Badrus mendekap erat identitasnya ini. Tema-tema lagunya berkisah banyak tentang kehidupan tanah airnya: pesisir, laut, petani tembakau, juga panen. Semua dipadukan dengan musik rock n roll era lampau: fuzz malu-malu, isian solo sedikit canggung, dan tiga kord yang tak pernah gagal.

Yang paling utama: liriknya ditulis dalam bahasa Madura. Dia, segerbong dengan Theory of Discoustic, menjadi pembenar bahwa bahasa tak jadi masalah dalam musik. Kamu bisa saja tak mengerti apa arti lirik yang mereka tulis, tapi kamu tetap bisa menikmatinya.

Lagu favorit saya adalah “Nemor”, sebuah lagu rock agraris dengan alunan seruling yang merupakan jawaban tandingan atas “Sweet Home Alabama”. Nemor adalah bahasa Madura untuk ‘musim kemarau’. Bagi orang Madura, musim kemarau memang seperti sekeping mata uang. Di satu sisi, akan ada banyak kekeringan. Namun, musim kemarau membawa berkah panen bagi petani tembakau, nelayan, hingga petani garam. Di sela keringat mengucur deras, uang berdatangan dan ekonomi bisa berputar.


Terakna langik, lebat gilinah pello

Mesemma tani, berkat ollena bhakoh

Nase’ buje cabbhi, akoa ghangang maronggi


Bujena dhaddi, epolong melle kalabi

Langit yang cerah, terlihat dari keringatnya

Senyum para petani berkat hasil tembakau

Nasi garam dan cabai, berkuah sayur kelor

Garamnya siap, panenlah untuk beli pakaian baru


Setelah menunggu sekitar dua tahun, akhirnya album Paseser (2022) dirilis via Demajors. Secara personal saya menikmati album ini. Bukan hanya karena ada darah Madura yang mengalir dalam nadi, tapi karena lewat album ini, Badrus berhasil mengemas musik Lorjhu' jadi bisa dinikmati oleh nyaris semua orang. Ada beat yang mengajakmu berjoget dan menggoyangkan kepala seperti di "Lakonah Oreng Manceng", "Kembang Koneng", dan "Nemor". Ada juga "Toron" dan "Romassanah Kerrong" yang syahdu.

Petang itu, di hari ketiga (9/10), saya sudah berdiri di dalam Gigs Stage setengah jam sebelum Lorjhu' manggung. Bukan apa, Gigs Stage yang menampilkan band-band dan musisi yang tengah naik daun, selalu penuh jika kamu meleng sedikit. Saya tak ingin itu kejadian.

Ketika akhirnya Lorjhu', sekarang sudah berkembang sebagai sebuah band dan sudah bukan jadi proyek personal Badrus semata, naik panggung, semangat sudah membuncah sampai ubun-ubun. Saya merangsek ke depan. Lorjhu' tampil berlima, termasuk drummer Gaharaiden Soetansyah yang merupakan eks drummer Gribs.

Di dalam Gigs Stage itu, lengkap dengan lampu temaram dan backdrop glow in the dark yang menambah kadar psikedelik, saya menyaksikan Lorjhu' sudah berhasil menerabas semua sekat, termasuk bahasa. Penampilan mereka nyaris tanpa cela, padu, dan efektif. Mereka membuat banyak anak muda tertarik pada kultur Madura, terbukti dengan beberapa obrolan dan pertanyaan selepas Lorjhu' manggung --semoga tak terjebak dan berhenti pada eksotisme belaka.

Bahasan lebih dalam Lorjhu' mungkin akan kita simpan untuk lain kesempatan.

Infografik favorit awak Tirto di Synchronize Fest 2022
Infografik favorit awak Tirto di Synchronize Fest 2022. tirto.id/quita



Tahun ini, total ada enam orang awak Tirto yang meliput Synchronize. Dari enam itu, ada dua orang yang sebenarnya membeli tiket sejak dua tahun lalu dan tak melakukan refund. Mereka percaya bahwa Synchronize Festival akan memberikan suguhan yang tak mengecewakan.


Kami semua, rasa-rasanya, punya selera musik yang berbeda satu sama lain. Tentu ada beberapa band yang jadi favorit bersama. Namun konsep festival membuat kesamaan selera ini kadang tak mewujud dalam pilihan menonton. Jadilah kami sering berpisah satu sama lain, menonton artis yang sudah ditandai, dan ketemu lagi untuk makan bareng, atau bertemu di panggung yang sama setelahnya.

Maka kami coba merangkum siapa penampilan favorit kami sepanjang tiga hari penyelenggaraan Synchronize Fest 2022 ini. Tentu ini bukan berarti kami tak menyukai penampil lain yang kami tonton, dan ini bukan senarai terbaik. Apalagi keterbatasan teks sudah tentu jadi hambatan terbesar di sini.

Jadi, ini dia penampilan terfavorit di Synchronize Fest menurut awak Tirto.id:


Afwan Fathul Barry, Video

Lorjhu’:

Alasannya lebih ke pride Madura sih kalo aku. Haha. Tapi kalau jawaban lebih serius, meski bahasa jadi kendala, tapi musiknya asyik buat dinikmati.



Andhika Krisnuwardhana, Video


Jhonny Iskandar feat Nunung cs:

Di penampilan mereka, aku lihat umur gak jadi masalah. Jhonny Iskandar masih energetik, bisa mengimbangi Nunung Cs yang secara usia lebih muda. Wah penampilan mereka pecah, sih.

Down For Life dan Gondrong Gunarto:

Buatku ini juga penampilan yang menarik. Down For Life memang selalu ingat akar mereka sebagai orang Jawa, dan penampilan mereka yang mengundang Gondrong Gunarto, seniman gamelan asal Solo, jadi bukti. Dan ya, penampilan mereka dahsyat, gamelan campur metal. Gak ada matinya, asli. Mereka berhasil menggabungkan musik gamelan yang tradisional, dengan musik metal yang kontemporer.

The Brandals:

Seperti biasa, The Brandals, mau di panggung kecil atau besar, selalu tampil penuh semangat. Nah kemarin mereka dapat panggung besar. Eka tetap berhasil jadi frontman yang membius. Menyalakan flare di lagu "Awas Polizei" itu keren banget!


Irfan Amin, Reporter News

Aku sebenarnya menunggu dua penampilan reuni di Synchronize Festival 2022 ini. Payung Teduh x Pusakata, dan Cokelat.

Sayangnya, menurutku, penampilan Payung Teduh x Pusakata masih belum maksimal. Kedua belah pihak terkesan masih punya ego yang tertahan. Itu dilihat dari suasana penampilan yang masih kurang cair dari keduanya. Itu juga kelihatan dari pemain yang beberapa kali salah dalam memainkan alat. Tetapi hal itu bisa tertutupi karena penonton bernyanyi bersama dan kondisi pertunjukkan adalah festival, jadi ada sahutan suara dari penampilan band lainnya yang menutupi.

Bisa disimpulkan reuni Payung Teduh x Pusakata masih kurang ikhlas.

Untuk perbandingan reuni juga ada Cokelat. Mereka bisa mengemas penampilan lebih rapi dengan video testimoni antar pemain di setiap musik yang dibawakan. Jadi penonton bisa merasakan konflik antara Kikan x Cokelat. Nggak cuma sekadar main musik doang. Menurutku sih ini reuni yang ideal. Ada behind the story dari konflik dan rekonsiliasi dengan bermain bersama di atas panggung


Zulkifli Songyanan, Penulis Mild Report


Lorjhu’:

Sebelumnya, aku sama sekali gak tahu mereka, baik karya maupun namanya. Namun begitu, aku bisa menikmati musik mereka, ikut goyang dan menggelengkan kepala, walaupun sama sekali gak paham bahasa Madura. Musikalitasnya apik. Kombinasi musik rock dan langgam lokal Madura (yang terdengar seperti lagu-lagu rakyat, iya gak sih?) terdengar rancak, sedap. Pengalaman menonton kayak begini juga penting bagi sebuah festival: mengenalkan penonton kepada band yang belum mereka kenal.


Ahmad Band:

Penampilan Ahmad Dhani cs ini emang udh kutandai sejak line-up Synchronize diumumkan. Sebagai super band, penampilan mereka gak mengecewakan, bahkan ketika ada satu kesalahan—Yoyo tiba-tiba berhenti menggebuk drum sehingga intro di sebuah lagu diulang dari awal—performa macam begitu saja masih menghibur penonton. Tiga kali menyebut nama Ferdy Sambo di sela membawakan “Distorsi” menunjukkan bahwa lagu-lagu dengan muatan kritik sosial dalam Ideologi Sikap Otak (1998)—satu-satunya album Ahmad Band—masih relevan.


Aris Widiarto, Video


Payung feat Pusakata :

Pasti ada banyak banget penonton yang menunggu momen reuni Is dengan Payung Teduh. Menurutku, penampilan mereka masih sedikit canggung. Walau ya itu juga wajar, mengingat betapa tegangnya hubungan mereka ketika memutuskan pisah jalan dulu. Menurutku, penampilan mereka bisa membayar lunas penantian selama ini, sih.


Lorjhu':

Sama seperti Zul, sebelumnya aku juga tidak tahu Lorjhu' itu seperti apa. Ketika akhirnya nonton, aku tidak menyangka kalau rock dan Madura bisa menghasilkam irama yang waw sekali.


Cokelat :

Ya, karena Kikan adalah kunci. Penantian panjang yang musti dirayakan. Dan penampilan mereka memang asyik sekali malam itu. Kikan membuktikan kalau memang cuma dia yang cocok jadi vokalis Cokelat.


The Brandals:

Di panggung mereka, aku melihat Eka kembali ke trahnya sebagai seorang vokalis band rock n roll, tengil dan liar di atas panggung.


Sir Dandy:

Kalau ini, aku seperti melihat sirkus di atas panggung. Penontonnya keren, aktif, liar, sangar. Mereka naik ke atas panggung, stage diving, dan menurutku Sir Dandy berhasil menjadi pawang sirkus yang baik.


Baca juga artikel terkait LORJHU atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Fifa Chazali

DarkLight