Longsor dan Banjir di 13 Kota di Sulsel Sebabkan 79 Orang Meninggal

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 1 Februari 2019
Hingga Jumat (1/2/2019), tercatat 79 orang meninggal dunia, 1 orang hilang, 46 orang luka-luka.
tirto.id - Bencana banjir dan longsor melanda 13 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Hingga Jumat (1/2/2019), tercatat 79 orang meninggal dunia, 1 orang hilang, 46 orang luka-luka,dan 9.429 orang mengungsi akibat bencana tersebut.

Berdasarkan keterangan tertulis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diterima Tirto, 13 kabupaten/kota yang dilanda banjir dan longsor adalah Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap , Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai.

Selain korban meninggal, bencana juga menyebabkan kerusakan fisik meliputi 559 unit rumah rusak, 22.156 unit rumah terendam, dan 13.808 ha sawah terendam dan puso.

Bencana juga merusak sejumlah bangunan, yaitu 12 unit tempat ibadah, 8 fasilitas pemerintahan, 2 unit pasar, 34 unit jembatan, dan 70 fasilitas pendidikan.

Menurut Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari yaitu mulai Rabu (23/1/2019) hingga Rabu (6/2/2019).

BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung.

"Amati kondisi lingkungan sekitar Anda. Orang tua hendaknya lebih meningkatkan mengawasi anaknya. Jangan melakukan aktivitas di sekitar sungai karena seringkali tiba-tiba terjadi peningkatan debit sungai karena di hulu hujan deras," ujar Sutopo.

Masyarakat juga diminta mewaspadai longsor, sebab longsor seringkali terjadi tiba-tiba.

Beberapa tanda potensi longsor di perbukitan atau lereng antara lain adanya retakan tanah, timbulnya amblesan, munculnya mata air atau rembesan air di lereng, pohon miring, atau air sumur atau kolam tiba-tiba menjadi keruh.


Baca juga artikel terkait BANJIR SULSEL atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Maya Saputri