Lokasi Fiktif PT Bahana, Pemenang Tender Revitalisasi Ilegal Monas

Oleh: Alfian Putra Abdi - 24 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Tak ada bangunan PT. Bahana Prima Nusantara di alamat yang dicantumkan di Ditjen AHU.
tirto.id - Adnan bingung ketika saya tanya di mana persisnya bangunan nomor 16, padahal dia sudah jadi juru parkir di sekitar situ sejak dua tahun lalu. "Kalau yang itu nomor 17," katanya sembari menunjuk sebuah rumah makan. "Nomor 16-nya, saya kurang tahu dah."

Saya menemuinya di lahan parkir Alfamart Jl. Raya Bogor KM. 24 RT. 001/001 No. 8 Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (23/1/2020). Paling ujung berdiri rumah makan Siang Malam yang bernomor 1. Sederet kemudian berjajar bengkel, penjual makanan ringan, salon, dan Masjid Darussalam.

Tidak ada tanda-tanda bangunan perkantoran kontraktor PT. Bahana Prima Nusantara di antara bangunan yang lain.

Padahal, berdasarkan dokumen AHU-0003594.AH.01.02 Tahun 2020 dari Ditjen AHU Kemenkumham, seharusnya perusahaan pemenang tender revitalisasi Monas tersebut beralamat di sini. Dokumen tersebut juga menyebutkan saham PT Bahana Prima Nusantara dipegang oleh Muhidin Shaleh sebagai Direktur Utama, Indra Gunawan Nazara sebagai Direktur, Muhammad Jefri sebagai Direktur, dan Tuk Trenggono sebagai Komisaris.

Bahana Prima Nusantara bergerak di bidang perdagangan besar dan eceran. Mereka juga bermain di bidang konstruksi gedung tempat tinggal, industri, perbelanjaan, perkantoran, kesehatan, pendidikan, tempat hiburan dan olahraga, penginapan, hingga elektrikal dan komunikasi.


Ketua RT 001 Eko Kurniawan juga merasa asing ketika saya mengatakan PT Bahana Prima Nusantara tercatat berada di wilayah administrasinya. Ia mendaku belum pernah membuat surat domisili untuk perusahaan kontraktor tersebut.

"Di sini tidak ada nama PT [Bahana Prima Nusantara], kecuali yayasan. Saya pernah menulis dan menandatangani surat domisili yayasan. Kalau PT saya tidak pernah," katanya.

Eko mengatakan bangunan nomor 16 letaknya di belakang Alfamart atau persisnya di belakang Masjid Darussalam. Untuk ke sana bisa melalui jalan setapak samping masjid atau masuk dari Jl. H. Jusin.

Belakangan ia baru sadar kalau di belakang Masjid Darussalam sempat ada satu aktivitas bisnis. Namun Ia tidak tahu nama perusahaan serta bergerak di bidang apa. "Saya enggak tahu apa PT itu PT yang dicari. Soalnya tidak pernah ada konfirmasi, nama PT-nya apa, kegiatannya apa, eggak ada laporan," ujarnya.

Saya menelusuri lokasi itu via Jl. H. Jusin. Untuk ke lokasi yang dimaksud Eko hanya ada satu jalan setapak dan buntu.

Gerbang besi setinggi dua meter yang menyembunyikan area persegi dari pandangan orang luar menyambut saya.

Dalam area persegi itu, saya mendapati rumah satu tingkat yang ditempeli spanduk bertuliskan "Tanah/bangunan ini merupakan agunan BRI." Saya tidak melihat spanduk, reklame, atau bentuk keterangan lain yang menjelaskan kegiatan rumah tersebut. Selain itu hanya tertulis nomor "14B".

Di sebelah rumah 14B, berdiri rumah bertingkat dua. Eko memberitahu bahwa pemilik rumah itu merupakan anggota Kopassus dan tak ada hubungannya dengan rumah 14B, meski lokasinya berada di dalam satu area yang sama. Saya pun tidak mendapati nomor di kediaman rumah bertingkat itu.

Selain dua bangunan itu, saya hanya mendapati sisa-sisa reruntuhan bangunan. Jika dilihat dari reruntuhannya, saya taksir dulunya bekas rumah.


Situasi sangat sepi. Saya hanya menemukan dua orang di dalam rumah. Mereka duduk di sebuah ruangan, masing-masing menempati meja sendiri yang saling berhadapan.

"Di sini tidak ada nomor 16. Ini saja harusnya nomor 6, tapi ditulis 14B," ujar salah satu dari mereka, Yudi. "Coba cari keluar saja."

Saya lantas menelusuri wilayah sekitar area persegi itu. Saya hanya menemukan rumah perorangan dengan nomor kecil 4, 5, 7, serta 18. Tanda-tanda bangunan bernomor 16 masih misteri dan lokasi Bahana Prima Nusantara pun demikian.

Saya memutuskan untuk kembali ke rumah 14B, coba bertanya reruntuhan bangunan di sekitarnya itu bernomor berapa. Yudi mendaku tidak tahu menahu.

"Nyari apa sih mas?" tanyanya pada saya. "Bahana Prima Nusantara. Katanya lokasinya di sini, nomor 16."

"Itu apa?" Yudi bertanya. "Perusahaan kontraktor. Kalau ini apa? Kantor juga?" saya tanya balik. "Di sini Kobisko Sukses Bersama, supplier pabrik-pabrik semen."

Yudi lantas menjelaskan seluruh luas area persegi ini merupakan miliknya, terkecuali rumah bertingkat dua itu.

"Samping jalan itu sertifikatnya punya kami," ujarnya, merujuk ke akses jalan yang saya lalui untuk tiba ke tempatnya.

Kantor Virtual

Selain lokasi yang merujuk pada dokumen Ditjen AHU, ada satu lokasi lain kantor Bahana Prima Nusantara, yakni di Jalan Nusa Indah 33, Ciracas, Jakarta Timur. Lokasi kedua ini ramai dibicarakan di media sosial.


Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Justin Adrian Untayana, ragu ada kantor di tempat itu.

"Dicek di Google Map, lokasinya kurang meyakinkan, nih," begitulah cuitannya. Ia merasa itu janggal dan memutuskan lapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) via PSI.

"Tim advokasi PSI telah menelusuri alamat tersebut, yang ternyata berlokasi di gang kawasan permukiman," ujar anggota tim, Patriot Muslim, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Saya menelusuri alamat Bahana Prima Nusantara yang disematkan Justin dari Google Maps. Saya hanya mendapati pabrik tahu tua. Warga sekitar pun tak pernah tahu tempat yang saya cari.

Sejarak 100 meter dari pabrik tahu, saya menemukan tempat percetakan digital, namanya Cahaya 33 Digital Printing. Tempat itu menyewakan kantor virtual. Terdapat puluhan kantor yang menyewa di sana, dan salah satunya: PT Bahana Prima Nusantara.

"Bahana ini, [menyewa] di sini dari 2014," ujar manajer pengelolaan Cahaya 33, Sri Sudarti. "Dia [Bahana] sewa di sini untuk perusahaan izin gitu saja. Yang lainnya tidak ada."

Ia juga menegaskan bahwa tempatnya bekerja tidak ada hubungan dengan Bahana selain hanya sebagai penyedia dan pengguna dalam konteks virtual office.

"Ini gedung punya Cahaya. Cahaya punya izin untuk virtual, sehingga Bahana virtual ke sini. Itu saja," ujarnya.

Meski sudah menyewa kantor virtual sejak 2014, Sri mendaku tidak mengetahui siapa pemilik Bahana. Menurutnya tak penting ia kenal atau tidak dengan pemilik, "selagi proyeknya sukses, lancar."





PT Bahana Prima Nusantara adalah pemenang tender proyek revitalisasi Monas dengan harga negosiasi Rp64,4 miliar.

Revitalisasi yang membuat pohon-pohon ditebang ini diprotes banyak orang. Masalah bertambah ketika Kementerian Sekretariat Negara mengatakan revitalisasi belum mengantongi izin dari Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka.

"Dan memang belum pernah ada pengajuan izin," kata Sekretaris Kemensesneg Setya Utama, Rabu (22/1/2020).

Revitalisasi Monas adalah satu-satunya proyek Bahana dengan Pemprov DKI Jakarta.

Sebelum menggarap Monas, berdasarkan penelusuran tim riset Tirto, Bahana banyak terlibat pada proyek di daerah.

Beberapa di antaranya: penataan ruang terbuka pendukung Kebun Raya Balikpapan tahun 2016 dengan nilai proyek Rp13,93 miliar, pembangunan fasilitas pelabuhan Laut Kolbano tahun anggaran 2017 dengan nilai proyek Rp5,06 miliar, penataan bangunan Kawasan strategis Masjid Raya Sumbar Kota Padang dengan nilai proyek Rp28,26 miliar, dan pembangunan dermaga sandar blok B dengan nilai proyek Rp8,37 miliar.

Baca juga artikel terkait REVITALISASI MONAS atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Rio Apinino
DarkLight