Lirik Lagu Gugur Bunga Ciptaan Ismail Marzuki untuk Hari Pahlawan

Oleh: Iswara N Raditya - 10 November 2020
Dibaca Normal 1 menit
Lirik lagu “Gugur Bunga” ciptaan Ismail Marzuki kerap diperdengarkan di Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November.
tirto.id - Lirik lagu “Gugur Bunga” kerap diperdengarkan di Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November, termasuk dalam peringatan tahun 2020 ini. Tembang yang menyayat hati ini diciptakan oleh komponis legendaris Indonesia, Ismail Marzuki.

Nuansa kesedihan menjadi karakter khas lagu "Gugur Bunga", sesuai liriknya yang penuh kepiluan lantaran kehilangan pahlawan pembela bangsa. Tembang berjudul lengkap “Gugur Bunga di Taman Bakti” ini ditulis Ismail Marzuki pada 1945, tidak lama setelah Indonesia merdeka.

Lagu “Gugur Bunga” diciptakan Ismail Marzuki untuk menghormati para pejuang yang gugur selama masa revolusi fisik atau perang mempertahankan kemerdekaan yang berlangsung usai kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga penyerahan kedaulatan pada akhir 1949.

Dalam rentang periode itu, terjadilah peperangan antara para pejuang dan arek-arek Suroboyo melawan pasukan Sekutu (Inggris dan Belanda) yang berpuncak pada 10 November 1945 atau yang dikenal dengan nama Pertempuran Surabaya. Inilah asal-muasal lahirnya Hari Pahlawan.

Lirik lagu “Gugur Bunga” ciptaan Ismail Marzuki menceritakan tentang kematian seorang prajurit dan perasaan orang yang menyanyikannya sehingga sangat syahdu dan pilu ketika dinyanyikan atau didengarkan.


Siapa Ismail Marzuki?

Ismail Marzuki dilahirkan pada 11 Mei 1914 di Kampung Senen, Kwitang, yang kini termasuk wilayah Jakarta Pusat.

Nama aslinya hanya Ismail, yang kemudian ia tambahkan dengan nama ayahnya, Marzuki. Sejak itulah nama Ismail Marzuki selalu melekat kepada dirinya.

Sedari kecil, Ismail Marzuki suka seni, lingkungannya mendukung untuk itu. Ayahnya sering memainkan rebana, keroncong, juga gambus.

Bakat Ismail kian terasah setelah berinteraksi dengan Perkumpulan Kaum Betawi, organisasi masyarakat yang bergerak di bidang kebudayaan, termasuk musik.

Ketika berusia 17 tahun, Ismail Marzuki bergabung dengan Lief Java, grup musik ternama yang sudah berdiri sejak tahun 1918 dengan nama awal Rukun Agawe Santoso. Di sinilah ia menciptakan lagu untuk pertama kalinya yang diberi judul “O Sarinah”.

Bersama Lief Java, nama Ismail Marzuki sebagai musisi semakin dikenal. Ia kerap tampil dalam acara-acara yang dihelat orang-orang Belanda saat itu, juga sering mengisi siaran musik di radio.


Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, ia turut berjuang sesuai dengan kapasitasnya sebagai seniman, yakni menciptakan lagu bertema perjuangan dan mengabdikan diri untuk Radio Republik Indonesia (RRI) yang dibentuk tak lama setelah kemerdekaan.

Ismail Marzuki banyak menciptakan lagu perjuangan sepanjang masa genting itu. Selain “Gugur Bunga”, ia juga menelurkan lagu “Halo-Halo Bandung”, “Rayuan Pulau Kelapa”, “Sepasang Mata Bola”, “Juwita Malam”, “Indonesia Pusaka”, “Bandung Selatan di Waktu Malam”, dan masih banyak lagi.

Ismail Marzuki wafat tanggal 25 Mei 1958, pada usia 44 tahun karena penyakit paru-paru. Taman Ismail Marzuki (TIM) didirikan untuk mengenang seniman-pejuang yang menghasilkan banyak karya monumental ini.

Lirik Lagu “Gugur Bunga”

Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri

Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati

Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti

Gugur bungaku di taman bakti
Di haribaan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti

______________________

Referensi
  • Ahmad Naroth, Bang Ma’ing Anak Betawi, 1982.
  • Christopher Torchia, Indonesian Idioms and Expressions: Colloquial Indonesian at Work, 2007.
  • Gunawan Ismail, Kumpulan Lagu Nasional: Persembahan untuk Indonesiaku, 2007.
  • Hani Widiatmoko dan Dicky Maulana, eds., Kumpulan Lagu Wajib Nasional, Tradisional, & Anak Populer, 2017.

Baca juga artikel terkait GUGUR BUNGA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight