Menuju konten utama

Lion Air PK-LQP: Dibeli di Seattle, Dipinjam dari Cina & Korsel

Pesawat PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang dimiliki perusahaan Cina yang sahamnya patungan dengan sebuah bank Korea Selatan.

Lion Air PK-LQP: Dibeli di Seattle, Dipinjam dari Cina & Korsel
Petugas KPLP terjatuh saat melakukan evakuasi puing pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat, Rabu (31/10/2018). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Senin, 13 Agustus 2018, para petinggi China Minsheng Investment Group (CIMG) datang ke markas produsen pesawat Boeing di Seattle, kota terbesar di Washington, Amerika Serikat. Kedatangan mereka disambut hangat pihak Boeing. Si tuan rumah tahu benar bahwa para tamu bukanlah orang sembarangan.

Di negara asalnya, CIMG dikenal bonafide. Berdiri pada Agustus 2014, kelompok bisnis ini diprakarsai oleh 59 perusahaan swasta terkenal di Tiongkok. Laporan media Cina, Yema Caijing, menyebutnya sebagai perusahaan swasta dengan latar belakang identitas "nasional" sebab pembentukannya diinisiasi oleh negara.

Modal terdaftar perusahaan ini mencapai 50 miliar Yuan atau Rp109 triliun. Sejak berdiri, grup ini berkembang pesat. Total asetnya meningkat lebih dari 8 kali lipat, mencapai 310 miliar Yuan atau Rp676 triliun. Dalam profil perusahaannya, ia mengklaim sebagai entitas bisnis yang berpartisipasi dalam proyek "Jalur Sutra Cina" abad 21—perihal yang tak asing bagi khalayak Indonesia mengingat inisiatif bisnis dan investasi Cina ini erat dengan proyek infrastruktur dan tol laut pemerintahan Joko Widodo.

CIMG memiliki banyak anak usaha, salah satunya CIMG Aviation yang bergerak dalam industri penerbangan. Perusahaan ini mengklaim mencakup bisnis manajemen pesawat, ground handling, pemeliharaan dan perbaikan, serta layanan konsultasi pembelian pesawat. Salah satu bisnis utama CIMG Aviation adalah penyewaan pesawat.

Catatannya, ia memiliki 21 pesawat jenis terbaru. Pesawat-pesawat ini disewakan secara jangka panjang kepada 15 maskapai di delapan negara berbeda. Proses sewa-menyewa ini diserahkan kepada anak usaha lain, yakni CIMG Leasing Holdings Limited. Dan salah satu rekanan CIMG Leasing di Indonesia adalah Lion Air.

Ketika mengunjungi Seattle, Presiden Direktur CMIG Leasing Wang Rong dan Presiden Direktur CMIG Aviation Peter Gao Sixiang ditemani oleh Direktur Utama PT Lion Air Group Edward Sirait. Kedatangan mereka disambut oleh Jeremy Griffin, Presiden Direktur Boeing Global Leasing, dan Adam Weng, Direktur Pemasaran Penjualan Boeing wilayah Timur Laut.

Tujuan rombongan dari Cina dan Indonesia itu untuk serah terima satu unit pesawat Boeing 737 Max 8, yang telah dipesan beberapa tahun sebelumnya. "Kami bersemangat mendukung Lion Air dengan mengirimkan Boeing 737 Max 8 pertama milik kami ke mereka hari ini," ucap Gao Xiang, seperti dikutip dari situs resmi.

"Mengingat keandalan dan efisiensi bahan bakar dari Boeing MAX 8 ideal, hal ini akan mendukung pertumbuhan masa depan Lion Air Group. CMIG akan terus berinvestasi untuk pesawat teknologi baru dan membangun armada lebih muda, lebih hemat bahan bakar," katanya, lagi.

Usai serah terima itu, pesawat diterbangkan menuju Cengkareng, Jakarta, dengan transit di Bandara Honolulu dan Guam. Barulah pada 15 Agustus 2018, pesawat ini tiba di Bandara Soekarno-Hatta.

Soal kerja sama Lion Air dan CMIG itu, Edward Sirait berkomentar, "Kami senang bekerja sama dengan CMIG sebagai pihak yang menyewakan [pesawat Boeing 737 Max 8] kepada Lion Air Grup. Kami berharap dapat memperluas dan memperkuat kemitraan bisnis ini."

Ia menambahkan, "Sebagai operator [penerbangan] domestik terbesar di Indonesia, keselamatan dan keandalan adalah keunggulan kami. [Boeing] 737 Max adalah yang terdepan di kelas 737. Keunggulan ini akan menjamin keselamatan [penerbangan] bagi penumpang kami," katanya.

Nahas, dua bulan baru diserahkan kepada Lion Air, pesawat bernomor registrasi PK-LQP yang "menjamin keselamatan penumpang" itu jatuh di perairan Tanjung Karawang, Senin lalu, 29 Oktober, menewaskan 189 kru dan penumpang.

Infografik HL Indepth Lion Air Kedua

Sewa-Menyewa Pesawat itu Menguntungkan

Beberapa jam kemudian, CMIG segera menanggapi kecelakaan yang menimpa pesawatnya dalam sebuah rilis: "Kami sangat sedih atas kecelakaan ini. Kami tetap menjalin komunikasi dengan Lion, Boeing, dan institusi lain untuk memahami dan mengetahui informasi selanjutnya."

Pesawat yang jatuh dalam rute Jakarta-Pangkal Pinang ini seharga 117 juta dolar AS atau sekitar Rp2,6 triliun. Meski begitu, CMIG merasa tenang. "[Sewa meminjam pesawat] adalah praktik umum bagi maskapai penerbangan untuk mendapatkan pesawat melalui leasing. Dan pesawat [yang jatuh] sepenuhnya sudah digaransikan oleh perusahaan asuransi."

Shun Liu Ji, Manajer Umum Anxin United Insurance Broker Co. Ltd., yang sering menangani kasus asuransi penerbangan, kepada Caixin menyebut klaim asuransi biasanya mencakup biaya SAR, penyelidikan kecelakaan, dan evakuasi bangkai pesawat. "Tapi, jumlah kompensasi biasanya tidak melebihi harga dari pesawat itu sendiri," katanya.

Bagi CMIG Aviation, kasus PK-LQP yang jatuh di perairan laut utara Indonesia akan sedikit memukul bisnis mereka. Informan Yema Caijing menyebut investasi CMIG semula hanya berfokus pada penyewaan pesawat privat. "Tapi, dalam satu atau dua tahun terakhir, mereka mulai pindah ke bisnis penyewaan pesawat sipil komersial."

Industri penyewaan pesawat komersial sipil di Cina memang tumbuh pesat. Data Yema Caijing menunjukkan CMIG adalah satu-satunya perusahaan baru yang menempati posisi ke-45 dari daftar 50 teratas perusahaan leasing pesawat di dunia pada 2017.

CMIG memang mengincar bisnis sewa-menyewa pesawat komersial. Pada April 2018, CEO CMIG Aviation Gao Sixiang mengaku tergiur dengan angka-angka yang dipaparkan Boeing, yang menyebut nilai industri pesawat pada 2020 bakal mencapai 120 miliar dolar AS per tahun.

"Sebuah perusahaan leasing pesawat dapat memperoleh pengembalian modal (ROE) sebesar 12-15 persen, dengan memperhitungkan risiko rendah (kredit penerbangan yang tinggi dan nilai pesawat yang stabil). Karena itu, sewa pesawat dianggap model bisnis yang menanggung risiko rendah dan keuntungan tinggi," kata Sixiang.

Selain Cina, kepemilikan PK-LQP dipunyai oleh Hana Bank, korporasi perbankan terbesar di Korea Selatan. Saat membentuk anak usaha di bidang leasing pesawat, CMIG patungan bersama Hana Bank.

Tak hanya itu, Lion memiliki keterikatan dengan Bank KDB, Woori Bank, dan Industrial Bank of Korea (IBK). Berdasarkan laporan Korean Investor Daily, Woori Bank dan IBK meminjamkan 40 juta dolar AS dan 39 juta dolar AS pada Maret 2018 ke CMIG Aviation. Dana ini dipakai untuk membiayai pembelian Airbus A330 yang disewakan untuk Lion Air dan beberapa maskapai di Cina.

Sedangkan bank milik pemerintah Korsel, Bank KDB, pada April 2018 memberi pinjaman kepada Lion Air sebesar 50 juta dolar AS. Uang ini diserahkan pada pihak penyewa, yakni GE Capital Aviation Services (GECAS). Transaksi ini meliputi pembiayaan 21 Boeing 737-900ER, yang saat ini dioperasikan oleh Lion Air, dan 30 pesawat yang masih diproduksi, termasuk Boeing 737 MAX 8 dan 9 Airbus A320 / A321neo.

Baca juga artikel terkait LION AIR JATUH atau tulisan lainnya dari Aqwam Fiazmi Hanifan

tirto.id - Bisnis
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam