Limbah Ciu Bekonang Mencemari Sungai Bengawan Solo

Oleh: Zakki Amali - 23 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Sedikitnya 147 produsen rumahan ciu Bekonang membuang limbah cair hitam pekat hingga 114,6 meter kubik per hari ke anak Sungai Bengawan Solo.
tirto.id - Bayu Tunggul Pamilih ketar-ketir saban musim kemarau tiba. Humas perusahaan daerah air minum Solo ini mencemaskan kondisi Sungai Bengawan Solo yang keruh, hitam, dan bau, yang menampung bermacam limbah dari pabrik tekstil, etanol, limbah rumah tangga dan peternakan, dan sebagainya.

Selama Agustus kemarin, selagi PDAM terus memantau pergerakan limbah, sebagian batang sungai terpanjang di Pulau Jawa ini mulai tercemar limbah di Sukoharjo.

“Saat ini saja operasional sudah dihentikan beberapa jam dalam sehari karena pencemaran,” kata Bayu, Agustus lalu.

PDAM Solo punya tiga instalasi pengolah air (IPA) dari Sungai Bengawan Solo, yakni di Semanggi, Jebres, dan Jurug. IPA Jebres dan Jurug terganggu limbah dari pabrik batik. Adapun IPA Semanggi terletak di dekat sumber pencemaran limbah etanol dari industri rumahan yang mengolah alkohol lokal, atau dikenal sebagai ciu Bekonang. Bekonang adalah nama desa di Mojolaban, Sukoharjo.

“Dulu kami bangun IPA Semanggi untuk menghindari pencemaran limbah batik. Sekarang terkena limbah etanol,” ujarnya.

Lantaran tercemar limbah ciu Bekonang, rencananya tahun ini lokasi pengambilan air IPA Semanggi akan digeser tapi urung karena anggarannya dialihkan buat penanganan pandemi COVID-19.

Tahun lalu, dampak terparah pencemaran Bengawan Solo memaksa PDAM Kota Solo menghentikan distribusi air kepada 16.000 pelanggan selama sepekan. Nasib sama menerpa PDAM Blora yang menghentikan pasokan air ke belasan ribu pelanggan.

Bengawan Solo menjadi tumpuan air bersih untuk PDAM di Pulau Jawa. Setidaknya ada enam perusahaan daerah lagi yang mengolah air dari sungai sepanjang 600-an kilometer ini, yang mengalir dari hulu Wonogiri dan Ponorogo dan berakhir di hilir Gresik, Jawa Timur.


Diperkirakan, ada 147 produsen rumahan ciu Bekonang yang membuang limbah cair hitam pekat mencapai 114,6 meter kubik per hari ke Kali Samin, anak Sungai Bengawan Solo, di Sukoharjo.

Menurut Ketua Paguyuban Pengrajin Alkohol Mojolaban Sukoharjo, Sabariyono, produsen ciu Bekonang di wilayahnya sudah mengolah limbah menjadi pupuk cair lewat perusahaan sejak 2012, dibantu oleh Dinas Lingkungan Hidup Sukoharjo. Sementara belum ada solusi pengolahan limbah untuk produsen ciu di kecamatan lain, katanya. Alasannya, warga yang mengolah minuman beralkohol ini tak mungkin merogoh kocek sendiri mengolah limbah sebab berbiaya mahal.

“Limbah di Mojolaban bukan dibuang ke sungai, tapi ke selokan. Sebagian limbah juga diolah jadi pupuk cair,” kata Sabariyono kepada Tirto, Juni lalu.

Memang, masalah limbah etanol di Bengawan Solo yang sebagian besar berasal dari produksi minuman miras lokal, telah menjadi perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tim Kementerian mendorong Dinas Sukoharjo membuat rancangan instalasi pengolahan air limbah senilai Rp17 miliar pada 2019. Tapi, lagi-lagi, anggaran negara tahun ini terkuras buat penanganan COVID-19.

Direktur Pengendalian Pencemaran Air dari Kementerian Lingkungan Hidup, Luckmi Purwandari, berkata kalaupun Kementerian mengongkosi instalasi itu, paling banter sekitar Rp200 juta. Alasannya, teknologi yang didesain Dinas Sukoharjo belum menyaring limbah etanol sepenuhnya.

“Nanti bantuan kami hanya sebagai pilot project,” kata Luckmi.


Infografik Sumber Limbah Bengawan Solo
Infografik Sumber Limbah Bengawan Solo. tirto.id/Lugas


Dalam laporan kami sebelumnya, sumber limbah ke Bengawan Solo juga berasal dari 127 hotel, 87 rumah sakit, dan 85 industri. Hanya 48 dari 85 industri yang rutin melaporkan hasil pengujian air limbahnya, menurut Luckmi. Dari jumlah itu, ada 18 industri sudah mengantongi izin pembuangan limbah cair.

Menurut perhitungan Kementerian Lingkungan Hidup pada 2018, daya tampung kebutuhan oksigen hayati (BOD) di Bengawan Solo masih ada selisih 107.702,99 kg per hari dari pembuangan air limbah 562.515,76 kg per hari. Artinya, pencemaran sungai tak terhindarkan. BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk mengurai zat-zat polutan limbah. Kadar BOD tinggi berdampak pada pencemaran, yang wujudnya ikan-ikan mengambang sekarat ke permukaan sungai.


Dalam perhitungan pasokan air bersih di Pulau Jawa, Bengawan Solo menjadi salah satu urat nadi bagi penduduk Jawa Tengah. Kebutuhan air bersihnya mencapai 28 miliar meter kubik per tahun dipasok dari sungai sebanyak 25 miliar meter kubik, termasuk bersumber dari Bengawan Solo. Sisanya mengandalkan sumur-sumur air tanah.

Luckmi Purwandari berkata Bengawan Solo saat ini sudah melampaui koefisien rezim sungai (KRS) atau parameter kekritisan daerah aliran sungai. Nilai KRS Bengawan Solo mencapai 541, lebih tinggi dari patokan wajar, yakni 40-80. Ia berkata solusi yang harus didorong adalah “memperkecil sumber pencemar ke sungai dan memperbanyak debit air.”

“Tapi, industri tidak peduli musim hujan atau kemarau. Mereka terus buang limbah. Makanya terjadi pencemaran di Bengawan Solo setiap tahun saat kemarau,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PENCEMARAN SUNGAI BENGAWAN SOLO atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Zakki Amali
Penulis: Zakki Amali
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight