Menuju konten utama

Lima Orang Jadi Korban Penusukan Saat Demo Hong Kong

Serangan penusukan ini terjadi di tengah hari saat demo Hong Kong sedang berlangsung di pusat perbelanjaan.

Lima Orang Jadi Korban Penusukan Saat Demo Hong Kong
Polisi anti huru hara menahan pengunjuk rasa anti pemerintah saat berdemo di distrik Admiralty, Hong Kong, China, Minggu (29/9/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Susana Vera/djo/foc

tirto.id - Setidaknya lima orang jadi korban penusukan saat demonstrasi di sebuah mal di Hong Kong. Penusukan diduda dilakukan seorang pria yang membawa pisau. Kejadian tersebut bersamaan dengan sekelompok polisi anti-huru hara memblokir para demonstran yang tengah berunjuk rasa.

The Telegraph melansir, serangan tersebut terjadi tengah hari, bersamaan dengan kabar seorang dewan lokal terpilih digigit di bagian telinga kirinya oleh orang tak dikenal.

Serentetan peristiwa ini terjadi saat demonstran membanjiri pusat-pusat perbelanjaan pada Minggu (3/11/2019) dalam upaya menjaga momentum gerakan protes yang terjadi di Hong Kong selama lima bulan terakhir.

Sehari sebelumnya, yaitu Sabtu (2/11/2019), para pengunjuk rasa bertempur seharian dengan polisi anti-huru hara dalam upaya menghentikan aksi unjuk rasa. Petugas yang ditempatkan di lokasi ditugaskan untuk memblokir area-area tertentu, membubarkan kerumunan, dan menangkap beberapa orang.

Akan tetapi, para pengunjuk rasa berhasil memasuki mal-mal di beberapa wilayah, membentuk rantai manusia, meneriakkan slogan-slogan, dan memblokir pintu masuk untuk mencegah petugas polisi memasuki area unjuk rasa mereka.

Unjuk rasa berlangsung damai hingga seseorang kemudian menyusup ke dalam kerumunan di mal Cityplaza di Tai Koo Shing dan menikam beberapa demonstran.

Korban tertikam jatuh berlumuran darah dan dikelilingi oleh orang-orang lainnya yang berupaya menghentikan pendarahan. Cuplikan video yang beredar di internet menunjukkan pelaku diduga memegang pisau, dan segera ditangkap oleh massa.

Andrew Chiu, seorang anggota dewan yang pro demokrasi juga dikabarkan kehilangan sebagian telinganya di mal yang sama. Belum jelas apakah telinganya terluka akibat gigitan atau sayatan benda tajam. Polisi menyatakan segerombolan orang menyerbu pusat perbelanjaan dan merusak interior, serta menghancurkan jendela.

Channel News Asia mewartakan, RTHK news yang meliput kejadian menyebut penyerang menggunakan bahasa Mandarin, bahasa yang dominan digunakan di Cina. Pelaku berargumen dengan korban soal politik sebelum menikamnya.

Kemudian ia menggigit cuping telinga Chiu saat Chiu mencoba menghentikannya melakukan pensusukan. Petugas rumah sakit menyatakan lima orang terluka karena serangan itu, empat laki-laki dan satu perempuan. Dua korban berada dalam kondisi kritis, dua mengalami luka serius, dan satu orang telah stabil.

Di sisi lain, polisi menyatakan korban luka-luka mencapai enam orang, dan tiga orang ditangkap dalam peristiwa tersebut, tetapi tidak memberikan penjelasan detail apakah pelaku penikaman termasuk di dalamnya.

Twitter Demosisto, partai Hong Kong yang pro demokrasi menuliskan kabar terbaru mengenai Chiu.

"Update: telinga Andrew Chiu digigit, bukan disayat. Inilah pertama kalinya mafia pro-Beijing sengaja menyerang kandidat dewan pro-demokrasi yang mengikuti pemilu," cuitnya sembari menyertakan dua foto.

Satu foto menampilkan perkelahian antara pelaku dan Chiu, saat pelaku menggigit telinga Chiu, dan foto lainnya saat Chiu kesakitan, berjongkok sambil memegang telinganya.

Malam unjuk rasa terus berlangsung, demonstran meneriakkan "Polisi gelap!", merujuk pada kebrutalan polisi saat mengamankan demonstrasi. Ejekan berlangsung hingga larut malam. Penduduk dari balkon dan pinggir-pinggir jalan menghina polisi dan melemparkan peledak warna-warni.

Di luar Hotel Timur di Taikoo Shing, polisi menembakkan gas air mata, mencoba membubarkan kerumunan. Mereka menyemrpotkan semprotan merica ke wartawan jika mereka terlalu dekat. Seorang jurnalis ditangkap dalam insiden semalam.

Baca juga artikel terkait DEMO HONG KONG atau tulisan lainnya dari Anggit Setiani Dayana

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Anggit Setiani Dayana
Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Dipna Videlia Putsanra