Menuju konten utama

Lima Kombinasi Obat untuk COVID-19 & Bagaimana Efek Sampingnya

Lima kombinasi obat itu merupakan hasil penelitian Unair, BIN, dan BNPB.

Lima Kombinasi Obat untuk COVID-19 & Bagaimana Efek Sampingnya
Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara (BIN) Komjen Pol Bambang Sunarwibowo (kanan) menyerahkan bantuan alat penelitian secara simbolis kepada Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih (kiri) di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (8/5/2020). ANTARA FOTO/Moch Asim/wsj.

tirto.id - Gugus Tugas Percepatan dan Penangananan COVID-19 nasional mengumumkan hasil temuan lima kombinasi obat-obatan yang dinilai efektif digunakan untuk mengobati pasien yang terinfeksi SARS-Cov2 atau COVID-19.

Lima kombinasi obat merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga (Unair) bekerjasama dengan Badan Inteljen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair Purwati dalam keterangan resminya, Jumat (12/6/2020) lalu mengungkapkan lima kombinasi obat itu yakni loprinavir-ritonavir-azitromisin, loprinavir-ritonavir-doxixiclin, loprinavir-ritonavir-klaritomisin, hidroksiklorokuin-azitromisin dan hidroksiklorokuin-doksisiklin.

"Kita mengecek efektivitas. Sampai seberapa lama efektivitas obat tersebut kemudian kita juga mengecek beberapa faktor inflamasi dan antiinflamasi," kata Purwati.

Hasilnya lima kombinasi obat tersebut dinilai memiliki efektivitas cukup bagus. Obat-obatan itu dapat menghambat virus masuk ke dalam cell target, kemudian juga menurunkan perkembangan virus itu di cell.

"Hal ini kita ikuti secara bertahap mulai 24 jam, 48 jam dan 78 jam maka virus tersebut dari yang jumlahnya ratusan ribu maka di sini jadi undetected," ujar Purwati yang juga merupakan pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Fakultas Kedokteran (FK) Unair tersebut.

Efek Samping dan Efektivitasnya

Guru Besar Farmakologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zuliies Ikawati mengatakan lima kombinasi obat tersebut merupakan obat-obatan yang sebagian sudah beredar dan digunakan.

Salah satunya yakni hidroklokuin yang sejak awal digunakan oleh pemerintah dalam pengobatan COVID-19. Presiden Joko Widodo pada 20 Maret 2020 lalu juga mengatakan telah menyiapkan 3 juta butir klorokuin untuk pengobatan COVID-19.

Kemudian Lopinavir atau ritonavir yang merupakan kombinasi obat antivirus yang biasa digunakan untuk virus HIV. Jenis virusnya berbeda dengan virus Corona, tetapi sama-sama virus RNA.

"Selama ini sudah dicobakan juga untuk pasien COVID-19 secara klinis. Hasilnya masih bervariasi, dan biasanya obat ini dikombinasi dengan obat lain, seperti interferon," ujarnya kepada Tirto, Ahad (14/6/2020).

Kemudian azitromisin, doksisiklin, dan klaritromisin adalah golongan obat antibiotika. Obat-obat ini biasanya dipakai untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan seperti pneumonia.

Pada pasien COVID-19, kata Zuliies obat-obat ini sudah dipakai dikombinasikan dengan antivirus, seperti hidroksiklorokuin atau klorokuin.

Kelima kombinasi obat tersebut jika memang memiliki aktivitas antivirus khusunya untuk COVID-19, maka bisa diharapkan efektivitasnya. Terlebih memang kata dia obat-obatan itu selama ini memang telah digunakan untuk pengobatan pasien COVID-19.

Menurutnya, penelitian yang dilakukan oleh Unair hanyalah sebagai pembuktian bahwa obat-obat yang selama ini dipakai untuk terapi memang punya efek antivirus terhadap COVID-19. Sebab yang diuji tersebut bukanlah obat baru.

Meski telah diuji dan dianggap efektif, akan tetapi obat-obatan itu kata Zuliies bukan tanpa risiko. Sebab obat-obatan tersebut memiliki sejumlah efek samping yang harus diperhatikan sesuai dengan kondisi pasien.

Untuk lopinavir atau ritonavir kata Zuliies memiliki efek samping pada gangguan liver. Sehingga pasien yang mengkonsumsi obat tersebut harus dipantau fungsi livernya.

Kemudian Azitromisin memiliki efek ke perpanjangan QT interval terkait dengan irama jantung. "Jadi perlu hati-hati untuk pasien dengan gangguan jantung," ujarnya.

Lalu untuk klaritromisin dan doksisiklin efek sampingnya kata dia lebih pada gangguan saluran cerna, seperti diare dan mual muntah.

"Klorokuin dan hidroksiklorokuin sendiri juga punya efek ke gangguan irama jantung, sehingga jika akan dikombinasi dengan azitormisin harus hati-hati, dengan pemantauan EKG yang ketat," ujarnya.

Baca juga artikel terkait OBAT VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Irwan Syambudi

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Gilang Ramadhan