Libur Adalah Kemewahan bagi Nakes Saat Negara Bikin Cuti Bersama

Oleh: Mohammad Bernie - 30 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Selama cuti bersama, nakes tetap bekerja dan waspada setelah liburan karena berpotensi naiknya pasien Corona.
tirto.id - Bagi tenaga kesehatan, berjibaku melawan pandemi Coronavirus ibarat menjalani lari maraton gabungan kecepatan dan performa stamina.

Debryna Dewi, seorang dokter di rumah sakit rujukan Corona mengaku mengalami kelelahan psikis setelah bertarung 8 bulan melawan pandemi.

Sebagai Head of Emergency Medical Service & Inhouse Clinic, Debryna bertanggung jawab pada pelayanan darurat, evakuasi medis hingga kebencanaan. Akibat wabah, tugasnya bertambah memikirkan perpindahan pasien dari Instalasi Gawat Darurat ke ruang isolasi, menyediakan tempat tidur, dan tugas administrasi lainnya.

Tugas administrasi yang dimaksud di antaranya membuat resep bagi pasien Corona, memesan laboratorium untuk digunakan keesokan harinya, serta memeriksa hasil laboratorium.

"Kalau on paper kita bekerja 40 jam per Minggu atau 8 jam per shift, tapi itu enggak mungkin 8 jam. Misalkan saya harusnya pulang jam 11 malam setelah bekerja dari jam sore, itu kita bisa jam 3 pagi baru tidur kerjain PR," kata Debryna kepada Tirto pada Selasa (27/10/2020). "Karena memang sebanyak itu pasien yang harus dipesenin obat diorder lab dan lain-lain."

Demikian pun dengan Widyastuti, perawat di rumah sakit rujukan COVID. Sehari-hari ia bertugas menjaga satu ruang isolasi yang berisi 11 tempat tidur, sejak awal hingga hari ini seluruh tempat tidur itu selalu penuh, ketika ada pasien yang sembuh akan langsung diisi pasien lainnya.

Saban hari Widya mengenakan baju hazmat dan masuk ke ruang isolasi untuk memeriksa tanda-tanda vital pasien. Selain itu, ia juga menyiapkan makanan, memberikan obat-obatan, dan melakukan tindakan medis yang dianjurkan dokter. Bahkan jika pasien meminta bantuan untuk mandi, Widya tak segan-segan turun tangan.

Semua itu ia lakukan hampir setiap hari sejak virus SARS-CoV-2 diumumkan pemerintah 2 Maret lalu.

"Banyak pasien yang rujukan enggak bisa kami terima karena bed sudah penuh. IGD juga antre untuk masuk ke ruang rawat inap," kata Widya kepada Tirto pada Selasa (27/10/2020).

Singkatnya tak ada kata libur dalam kamus hidup tenaga kesehatan seperti dialami oleh Widya dan Debryna. Ketika warga cuti bersama, mereka tetap bekerja. Waktu libur diatur sendiri di luar kalender pemerintah.


Libur Panjang

Beberapa waktu lalu, Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi menandatangani Surat Keputusan Bersama 3 menteri tentang Hari Libur dan Cuti Bersama tahun 2020.

Tanggal 29 Oktober 2020 ditetapkan sebagai hari libur peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, selain itu pun ditetapkan bahwa 28 dan 30 Oktober sebagai cuti bersama.

Namun, cuti panjang itu tak akan bisa dinikmati oleh tenaga kesehatan. Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Farichah Hanum mengatakan, tenaga kesehatan yang melayani pasien langsung tidak mendapat cuti, hal itu juga berlaku pada hari raya Idul Fitri dan lain-lainnya.

"Tetapi hak cutinya digantikan di waktu lain, yang diatur secara bergantian," kata Hanum kepada Tirto pada Senin (26/10/2020).

Anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler, dan Public Relations PB IDI Halik Malik pun menegaskan itu. Dokter, baik di rumah sakit rujukan dan rumah sakit non-rujukan COVID tidak mendapatkan jatah cuti bersama dan tetap bekerja sesuai dengan sif yang telah ditentukan.

Ketua Satgas Covid-19 DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Jajat Sudrajat pun menegaskan hal serupa berlaku bagi perawat. Jajat pun tidak bisa memastikan perawat mendapatkan insentif pengganti cuti, menurutnya itu tergantung kebijakan instansi masing-masing.

"Kalo diswasta sebagian ada yg dapat sebagian tidak, kalau pemerintah saya kira tidak ada," kata dia kepada Tirto pada Senin (26/10/2020).

Liburan adalah hal mewah bagi nakes saat ini. Debryna mengaku saat ini ia memang membutuhkan istirahat untuk kondisi psikisnya tapi tak memungkinkan. Akibat pandemi, ia kehilangan waktu untuk melakukan hobi-hobinya, jika ada waktu kosong akan digunakan untuk tidur mengistirahatkan badannya.

Di sisi lain, sejak pendidikan kedokteran ia sudah dibiasakan untuk tidak berpatokan pada tanggal merah di kalender. Menurutnya, jadwal kerja sudah diatur melalui sistem sif, begitu juga dengan jadwal libur agar pelayanan kesehatan terus berjalan, karena pasien sakit bisa datang kapan saja.

"Saya aja enggak tahu kalau mau ada libur haha," Debryna berseloroh.

Alih-alih bisa merenggangkan punggung, masa libur panjang justru membuatnya pikirannya tak tenang. Bagaimana tidak, berkaca pada pengalaman sebelumnya, libur panjang selalu diakhiri dengan lonjakan jumlah pasien karenanya ia berharap hal itu tidak akan terjadi pada libur panjang kali ini.

Widyastuti pun mengaku, kendati dalam sebulan telah mendapat libur 8-10 hari, berjibaku melawan Corona dengan intensitas dan risiko tinggi selama 8 bulan telah menggerus stamina fisik dan psikisnya. Pada Hari Raya Idul Fitri pun, karyawan yang muslim harus tetap masuk setelah menjalani salat idul Fitri.

Namun Widya juga sadar bahwa itu adalah risiko pekerjaan yang sudah ia terima sejak hari pertama bekerja sebagai perawat sebelas tahun lalu.

"Butuh libur, tapi kan kondisi tidak memungkinkan. Nakes harus tetap mengabdi. Kalau kami libur bagaimana pasiennya?" kata Widia.


Baca juga artikel terkait CUTI BERSAMA 2020 atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Zakki Amali
DarkLight