Letnan Tupang, Serdadu Bengis yang Meneror Gerilyawan Luwu

Oleh: Petrik Matanasi - 5 Juni 2021
Dibaca Normal 2 menit
Untuk mengamankan Luwu, Sulawesi Selatan, Belanda menurunkan Letnan Elias Ernst Tupang dan pasukannya yang teramat kejam.
tirto.id - Tujuh orang tawanan dibawa tentara Belanda atau KNIL ke Palopo, Sulawesi Selatan. Letnan Elias Ernst Tupang berada dalam rombongan itu. Dalam perjalanan, dia membuka buku catatan kecil dan bertanya soal nama-nama yang menurut para tawanan tidak ada di antara mereka. Seorang tawanan bernama Usman ditanya olehnya, "Apa sukumu?" Usman menjawab, “Ambon”. Dan si letnan marah.

“Kamu Ambon? Itu jawaban yang kurang ajar,” ujar Tupang yang berdarah campuran Eropa-Ambon. Menurut Maarten Hidskes dalam Di Belanda Tak Seorang pun Mempercayai Saya (2018:97), Tupang kemudian mencabut bayonetnya dan mengiris telinga Usman. Daun telinga yang putus itu lalu dijejalkannya ke mulut Usman.

“Ayo makan!” bentak Tupang kepada Usman yang kesakitan.

Usman yang berlumuran darah pun menurutinya. Seorang tawanan yang selamat dan melihat kejadian itu, Moh. Sanusi Daeng Mattata, seperti terdapat pada Luwu dalam Revolusi (1967:435) menyebutkan, kerongkongan Usman ditodong bayonet hingga menyentuh kulitnya dan potongan daun telinga itu tertelan. Bersama tiga serdadu KNIL lainnya, Tupang kemudian menusuk tawanan lain termasuk Daeng Sitakka.

Waktu itu, seperti dicatat Benjamin Bouman dalam Van driekleur tot rood-wit: De Indonesische officieren uit het KNIL (1995:391), Tupang bertugas sebagai wakil komandan kompi 162 KNIL di Palopo sejak 12 Januari 1946. Pasukannya biasa beroperasi hingga ke daerah Bone. Bagi pasukan Republik, Tupang dianggap sebagai komandan tentara Belanda yang kejam.


Menurut Idwar Idris dalam Ensiklopedi Sejarah Luwu (2005:179), Tupang lebih bengis daripada perwira Belanda dalam memperlakukan tawanan. Dia sangat tidak menyukai kaum Republik yang menentang NICA. Dalam pikiran sebagian tentara Belanda termasuk dirinya, Indonesia adalah boneka Jepang yang harus diperangi.

Palopo adalah pusat dari Kedatuan Luwu, sebuah kerajaan yang secara kultural sangat dihormati oleh kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, meski tidak sekuat Bone dan Gowa. Pada masa revolusi, Kedatuan Luwu mendukung Republik Indonesia. Rajanya, Andi Djemma, termasuk tokoh revolusi yang memimpin organisasi bernama Gerakan Sukarno Muda. Salah satu perlawanan rakyat Luwu terhadap Belanda dilakukan pada 23 Januari 1946.

Andi Djemma dan keluarganya bertahan di Batu Pute. Namun benteng gerilyawan Republik itu kemudian diserbu Belanda. Para penyerbu adalah pasukan Letnan Vernick dari Kendari, dan dibantu pasukan Letnan Tupang dari Palopo. Subuh 2 Juni 1946, seperti disebut dalam Sejarah Masa Revolusi Fisik Daerah Sulawesi Tenggara (1980:71), tentara Belanda mulai bergerak menuruni tebing batu di belakang Batu Pute. Pagi pukul sembilan, tentara Belanda yang menyerbu itu tak mendapat perlawanan berarti dan Raja Luwu berhasil ditawan. Pada 3 Juni 1946, Raja Luwu dan permaisurinya dibawa ke Palopo.

Kaum Republik yang menjadi lawan Letnan Tupang dan para serdadu KNIL bawahannya adalah gerilyawan yang menamakan dirinya Pusat Keselamatan Rakyat (PKR). Mereka adalah orang-orang Sulawesi Selatan yang tidak punya pengalaman militer dan persenjataannya terbatas.

Sebelum Westerling

Elias Ernst Tupang lahir pada 1914. Sejak Desember 1936, dia sudah mendapat pelatihan kemiliteran sebagai prajurit milisi bagian artileri pantai. Pada Agustus 1937, Tupang berpangkat sersan milisi. Dia berkali-kali ikut latihan militer jelang tahun 1941. Setelah Pearl Harbour diserbu tentara Jepang dan Hindia Belanda mulai terancam, dia dijadikan sebagai letnan cadangan kelas dua KNIL.

Setelah bala tentara Jepang mengalahkan KNIL, dia ditawan. Tupang terakhir ditahan di Penjara Cipinang. Dari Jakarta, dia kemudian dibawa ke Balikpapan, Morotai, dan Ambon, diaktifkan di Leger Organitatie Centrum (LOC) bagian infanteri. Anak buahnya di KNIL adalah para serdadu rendahan yang buta politik sehingga dimanfaatkan oleh NICA.


Infografik Letnan Elias Ernst Tupang
Infografik Letnan Elias Ernst Tupang Di Sulawesi Selatan. tirto.id/Fuad


Usaha Tupang mengamankan posisi militer Belanda di Sulawesi Selatan tidak berjalan mulus. Perlawanan para gerilyawan Republik merepotkan Belanda. Hingga akhir 1946, Sulawesi Selatan tidak aman bagi NICA sampai akhirnya pasukan khusus baret hijau Belanda pimpinan Kapten Westerling dikerahkan. Pasukan elite ini mengamankan Sulawesi Selatan dengan cara yang dikenal kejam.

Ketika Westerling dan para perwira lainnya memimpin pembersihan di Sulawesi Selatan, Letnan Tupang masih berada di sana, yakni di sekitar Luwu dan Bone bersama kompinya. Dia berada di Sulawesi Selatan hingga akhir 1947.

Menurut Benjamin Bouman dalam Van driekleur tot rood-wit: De Indonesische officieren uit het KNIL (1995), pada 22 Februari 1947 Letnan Tupang mendapat penghargaan bintang Singa Perunggu berdasar Koninklijk Besluit tanggal 1 Januari 1947 nomor 75.

Seperti banyak perwira lain yang pernah jadi tawanan ketika terjadi Perang Pasifik, Letnan Tupang pun berhak mendapat cuti Panjang. Warsa 1955, dia meninggalkan Indonesia. Setahun kemudian Tupang bergabung dengan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht) pada bagian medis dengan pangkat kapten.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PERANG KEMERDEKAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight