Ilmu Geografi

Letak Astronomi Indonesia Lewat Tiga Daerah Waktu: WIB, WITA & WIT

Oleh: Maria Ulfa - 12 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Konsekuensi dari letak astronominya, Indonesia terbagi menjadi 3 daerah waktu, yaitu WIB, (WITA), dan WIT.
tirto.id - Letak astronomi Indonesia berada pada 6 LU-11 LS dan 95 BT -141 BT.

Konsekuensi letak astronomi tersebut, wilayah di Indonesia terbagi menjadi 3 daerah waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT).

Sementara, wilayah Indonesia juga dilalui garis khatulistiwa sehingga beriklim tropis dengan suhu rata-rata 26 – 28 C.

Sejarah Pembagian Zona Waktu


Pembagian waktu di muka bumi ini dimulai akhir abad ke-19, saat kota-kota besar di dunia mengatur sistem jam yang didasarkan pada gerakan matahari, demikian seperti dikutip Sumber Belajar Kemendikbud.

Kala itu yang digunakan adalah jam matahari. Sistem pencatatan waktu dilakukan dengan menugaskan para pembuat jam untuk mengkalibrasikan jam kota mengikuti gerakan matahari.

Jam kota tersebut merupakan waktu resmi yang mewakili waktu di kota tersebut pada saat itu. Selanjutnya berkembang sistem pembagian waktu.

Pada tahun 1878 di Kanada, seorang bernama Sir Sanford Fleming mencanangkan sistem zona waktu sebagai patokan pembagian waktu di seluruh dunia.

Pada saat itu, Sir Sanford Fleming mengusulkan agar pembagian waktu di dunia dibagi menjadi 24 zona waktu.

Hal ini didasarkan lepada bumi yang berputar pada porosnya membutuhkan waktu selama 24 jam, dan sekali putaran menempuh 360°.

Besaran putaran sejauh 360 derajat diwujudkan dalam garis bujur di bumi, sehingga setiap 15° garis bujur mempunyai selisih waktu 1 jam rotasi bumi.

Sistem pembagian waktu di dunia secara resmi ditetapkan pada tahun 1884 dalam Konferensi Waktu Dunia Internasional di Washington DC.

Hasil dari konferensi tersebut adalah menentukan lokasi titik pangkal 0 derajat bujur atau yang dikenal Prime Meridian, yang berada di kota Greenwich, Inggris dan membagi menjadi 24 zona waktu.

Standar waktu di dunia tersebut dikenal dengan istilah Greenwich Mean Time (GMT). Daerah yang terletak di sebelah barat kota Greenwich disebut sebagai daerah bujur barat, sedangkan yang berada di sebelah timur disebut sebagai bujur timur.

Pembagian Waktu di Indonesia


Berdasarkan letak astronomis, wilayah negara Indonesia terletak pada koordinat 95° sampai dengan 141° Bujur Timur dan 6° Lintang Utara sampai dengan 11° Lintang Selatan.

Dari letak bujurnya, yaitu pada 95° sampai dengan 141° Bujur Timur, panjang garis bujurnya adalah 46 derajat.

Jika setiap 15° mempunyai perbedaan waktu 1 jam, maka wilayah Indonesia dari ujung barat ke timur (dari Sabang sampai Merauke) terdapat perbedaan waktu 3 jam.

Karena wilayah Indonesia berada di sebelah timur kota Greenwich, artinya matahari terbit lebih dahulu, maka waktu di Indonesia lebih awal bila dibandingkan Greenwich.

Untuk wilayah Indonesia paling timur, penghitungan waktu didasarkan pada garis bujur 135° yang mempunyai selisih waktu 9 jam lebih awal dari Greenwich.

Wilayah Indonesia bagian tengah, penghitungan waktu didasarkan pada garis bujur 120° yang mempunyai selisih waktu 8 jam lebih awal dari Greenwich.

Sedangkan wilayah Indonesia bagian barat, penghitungan waktu didasarkan pada garis bujur 105° yang mempunyai selisih waktu 7 jam lebih awal dari Greenwich.

Sementara itu, pembagian wilayah WIT, WITA dan WIB adalah sebagai berikut:

  • WIT: 9 jam lebih awal dari GMT (Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua).
  • WITA: 8 jam lebih awal dari GMT (Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT)).
  • WIB: 7 jam lebih awal dari GMT (Jawa serta Madura, Sumatera, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat).

Pengaruh lain dari letak astronomis Indonesia adalah keadaan iklim. Karena wilayah Indonesia berada di antara garis lintang 23,5° lintang utara maupun lintang selatan, maka wilayah Indonesia dipengaruhi iklim tropis.

Iklim tropis ini bagi wilayah Indonesia memiliki konsekuensi pada penerimaan sinar matahari sepanjang tahun dengan intensitas panas yang maksimal.


Baca juga artikel terkait ASTRONOMI atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Dhita Koesno
DarkLight