Legenda Jack 3,5 mm yang Mulai Tergantikan

Oleh: Ahmad Zaenudin - 9 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Konektor jack 3,5 mm yang sudah lama menjadi legenda dalam dunia audio perlahan digantikan dengan perangkat terbaru.
tirto.id - Saat Orpheus lahir pada 1991, orang harus merogoh kocek hingga $55 ribu untuk mendapatkan sensasi suaranya yang cemerlang. Orpheus merupakan headset, perangkat khusus untuk mendengarkan konten audio, racikan pabrikan audio Sennheiser.

Orpheus memang gawai eksklusif dan sangat mahal pada zamannya. Dengan harga yang begitu tinggi, hanya konsumen berkantong tebal yang bisa menebusnya. Meski terlahir sebagai produk premium, perangkat ini sempat menggunakan 3,5 mm headset jack, teknologi konektor yang bisa menghubungkan ke pelbagai perangkat audio.

Konektor 3,5 mm adalah legenda dalam perkakas dunia elektronik. Ia merupakan versi mini dari konektor 6,35 mm atau populer dengan sebutan konektor seperempat inci. Konektor 6,35 mm telah ada sejak dekade 1870-an. Konektor 6,35 mm mula-mula digunakan untuk koneksi telepon manual yang dilakukan operator dan kemudian menjadi standard.

“Standard (pada waktu itu) selalu konektor 6,35 mm,” ungkap Dr Simon Hall, kepala bagian teknologi musik pada Birmingham City University, pada BBC.

Sang versi kecilnya, 3,5 mm, kemudian populer di pertengahan abad ke-20 hingga digunakan pada headset radio transistor. “(Konektor 3,5 mm lahir atas) kebutuhan konektor yang dapat dengan mudah dipasang dan dilepaskan serta aman untuk suatu koneksi (mendesak),” ucap Charlie Slee, anggota Auido Engineering Society. Selanjutnya, versi mini dari versi konektor seperempat inci lahir di dekade 1960-an. Sayang, versi ini tak sesukses 3,5 mm.

Konektor 3,5 mm memiliki nama lain dengan sebutan konektor TRS. TRS merupakan kependekan dari Tip, Ring, dan Sleeve. Tip, Ring, dan Sleeve merupakan 3 bagian utama dari konektor 3,5 mm. Tip berada di paling ujung konektor. Ia berguna untuk mentransfer sinyal audio ke earplug atau bulatan dalam headphone sebelah kiri.

Sedangkan, Ring mirip seperti Tip. Ring bertugas mentransfer sinyal lainnya ke earplug atau bulatan dalam headphone sebelah kanan. Antara Tip dan Ring dipisahkan melalui sebuah elemen pemisah (insulting cables) bernama gromment. Pemisah ini berguna untuk menghindarkan sinyal Tip dan Ring saling mengganggu satu sama lain. Sementara Sleeve bertugas sebagai perisai dasar konektor 3,5 mm.

Dalam kenyataannya, ada banyak varian anatomi TRS pada konektor 3,5 mm. Ini tergantung dari fitur apa yang hendak dimasukkan oleh sang produsen. Yang pasti, 3,5 mm merupakan teknologi universal. Dalam artian, semua pihak bisa mengembangkan, membuat, dan menjual teknologi tersebut tanpa perlu bermasalah dengan persoalan paten.

Perangkat ini tak hanya digunakan sebatas untuk perangkat audio. Jangkauannya yang umum, membuat konektor 3,5 mm bisa dikembangkan pada berbagai apapun. Thermodo misalnya, merupakan perangkat khusus yang bisa menambah kemampuan deteksi panas pada suatu ponsel menggunakan konektor 3,5 mm. Sebuah konektor yang terlanjur dicap hanya berguna untuk fungsi audio.

Konektor 3,5 mm memang universal. Ia hampir-hampir ada di setiap gawai modern saat ini, meskipun teknologinya terbilang jadul. Sayangnya, keuniversalan dan segala keunggulan konektor 3,5 mm terancam lenyap.

Motorola melalui ponsel bikinan mereka bernama Moto Z dan Moto Z Force, telah menghapus keberadaan port bagi konektor 3,5 mm tersebut. Aksi yang dilakukan Motorola itu, sekaligus menjadi penanda pertama sebuah merek besar dalam dunia teknologi mencoba melenyapkan konektor 3,5 mm.

Namun, kehebohan lenyapnya konektor 3,5 mm tak terjadi saat era Motorola mencobanya. Apple justru sukses membuat heboh dengan gawai iPhone 7, Apple resmi menghapus dukungan konektor 3,5 mm di perangkat buatan mereka. Apple, mengganti konektor 3,5 mm dengan konektor baru bernama Lightning. Desain tipis iPhone, disebut-sebut menjadi alasan di balik penghapusan konektor 3,5 mm pada iPhone.

Sayangnya, Liang Jun, kepala penelitian dan pengembangan LeEco, mengungkap bahwa penghapusan konektor 3,5 mm tak terlalu berpengaruh pada perampingan desain sebuah ponsel pintar. “Menggunakan USB tipe C (ataupun konektor Lightning) tidaklah terlalu sukar dan tidak pula berpengaruh besar pada desain,” ucapnya pada The Verge.

Lightning, konektor baru milik Apple, memang seakan-akan didaulat sebagai pengganti konektor 3,5 mm. Sayangnya, rilisan Apple bernama AirPods, seakan menampik tergusurnya konektor 3,5 mm oleh Lightning. Melalui AirPods, earbud bikinan Apple, Apple mengganti konektivitas headset, earphone, atau produk sejenisnya. Apple mengganti perangkat headset maupun earphone yang menggunakan kabel dengan produk tanpa kabel.

Apa yang dilakukan Apple kemudian diikuti oleh Google. Minggu lalu, perusahaan mesin pencari itu merilis ponsel barunya bernama Google Pixel 2 dan Pixel 2 XL. sebagai pendamping, Google merilis earbud bikinannya bernama Pixel Buds. Buds tak terhubung dengan ponsel melalui kabel, melainkan melalui Bluetooth sama seperti AirPods.


infografik jack 35mm


Menggantikan Sang Legenda 3,5 mm


Kualitas suara headset atau earphone yang menggunakan konektor 3,5 mm yang menggunakan kabel yang tanpa kabel alias menggunakan Bluetooth seperti AirPods dari Apple maupun Pixel Buds dari Google memang menjadi pro dan kontra.
"Kalau pakai kabel (dan konektor 3,5 mm) kan karakter (suara) bisa lebih bervariasi," kata Imam Wibowo, seorang audiophile, istilah bagi mereka yang tergila-gila pada kualitas audio.

Apa yang disuarakan Imam diamini oleh Nilay Patel, kolumnis teknologi pada The Verge. Melalui tulisannya ia mengungkap bahwa “Suara yang dihasilkan headphone dan speaker tanpa kabel seperti menggunakan Bluetooth itu bagus, tapi tidak hebat.”

Patel lebih lanjut mengungkapkan bahwa salah satu kelemahan headset atau earphone tanpa kabel yang menggunakan Bluetooth ialah kebutuhan perangkat tersebut pada baterai. Sesuatu yang tidak menjadi soal pada headset atau earphone yang menggunakan kabel dan konektor 3,5 mm.

Maksud sebenarnya mengapa perusahaan-perusahaan teknologi perlahan menghapus dukungan pada konektor 3,5 mm memang masih menjadi tanda tanya. Namun, upaya meningkatkan keuntungan dan ketergantungan pada perangkat resmi bikinan perusahaan-perusahaan teknologi diduga salah satu motifnya.

Apple misalnya, menggunakan Bluetooth pada AirPods bikinannya. Namun, Apple menyematkan teknologi khusus bagi pendongkrak performa Bluetooth bernama W1. Perangkat ini menjadikan AirPods dari Apple dan beberapa produk headset bikinan Beats, perusahaan pembuat headset yang dimiliki Apple, sangat unggul dan tak memiliki lawan soal kualitas dibandingkan earphone atau headset yang menggunakan Bluetooth standar lainnya di pasaran.

Apalagi iOS, sistem operasi iPhone, merupakan perangkat lunak tertutup, sangat mustahil bagi pesaing Apple untuk menciptakan headset atau earphone khusus yang dapat mengeksplorasi kekuatan suara iPhone yang lebih baik.

Baca juga: iPhone X, Saat Apple Mengekor Kompetitor

Jika perusahaan pihak ketiga memaksa menggunakan Lightning sebagai konektor pengganti 3,5 mm dan tidak pula menggunakan Bluetooth, sang perusahaan wajib menyetor pemasukan kepada Apple sebagai pemilik teknologi Lightning. Melalui program made for iOS misalnya. Perusahaan pihak ketiga mesti membayar royalti sebesar $4 per perangkat yang dijual. Ini jelas menyulitkan bagi pihak ketiga tapi menguntungkan bagi Apple.

Cara yang sama diambil Google dengan mengandalkan Pixel Buds, yang menggunakan Bluetooth sebagai medium penghubung atau konektor. Namun, Pixel Buds membutuhkan Android versi Nougat agar bekerja maksimal. Fakta bahwa Google merupakan pemilik sah Android, mereka dapat membuat earphone atau headset Bluetooth dengan cara berbeda dibanding pesaing-pesaingnya.

Misalnya, Buds diketahui dapat langsung tersambung dengan Google Translate dan menjadi penerjemah real-time. Ini mengakibatkan Pixel Buds akan digdaya dibandingkan perangkat sejenis yang dibuat perusahaan lain. Langkah dua perusahaan raksasa teknologi, membuat konsumen seakan-akan dipaksa membeli produk bikinan mereka. Sehingga tak ada ruang bagi produk alternatif buatan perusahaan pihak ketiga.

Baca juga: Bersaing Tak Sehat Para Raksasa Teknologi

Baca juga artikel terkait AUDIO atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra