Lee Choon-jae: 'Zodiac Killer' dari Korea Selatan

Ilustrasi Lee Choon jae. tirto.id/Fuad
Oleh: Felix Nathaniel - 9 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kegesitan Lee Choon-jae selama 33 tahun ini membuatnya digelari "Zodiac Killer" Korea Selatan.
tirto.id - Taman hiburan Universal Studio yang ke empat di Asia rencananya akan dibangun di Hwaseong, Korea Selatan dan diperkirakan baru dapat beroperasi pada 2021 mendatang. Terlepas dari kabar ini, pemilihan Hwaseong sebagai lokasi pembangunan sesungguhnya cukup aneh.

Hwaseong, kota yang berada di propinsi Gyeonggi dan berjarak 42 kilometer dari Seoul itu, selain bukan destinasi wisata di Korsel, juga menyimpan sejarah kelam. Sejak 1986 hingga 1991, kota itu diliputi ketakutan massal karena menjadi lokasi pembunuhan dan pemerkosaan terhadap sembilan perempuan.

Pelaku perbuatan biadab itu adalah pria bernama Lee Choon-jae. Perlu 33 tahun lamanya bagi pihak kepolisian untuk mengungkap kasus ini. Baru pada akhir September 2019 lalu, Kepolisian Daerah Gyeonggi Selatan berhasil mengungkap kecocokan DNA pada tiga pakaian korban dengan Lee.

Persoalannya: kasus Lee sekarang sudah terhitung kedaluwarsa.

Sebelum ada perubahan aturan pada 2007, Korsel memang membatasi batas kedaluwarsa kasus pembunuhan sampai 15 tahun lamanya. Sebab itulah, maka posisi Lee sejatinya sudah aman sejak tahun 2006.

Lee sendiri saat ini masih berada di balik jeruji penjara Busan sejak tahun 1994 dan belakangan tengah mengusahakan pembebasan bersyaratnya. Kasus yang menjerat Lee pun juga pemerkosaan dan pembunuhan. Hanya saja, bukan terhadap sembilan perempuan yang membuat geger warga Hwaseong.

Kasusnya bermula ketika Lee yang sudah ditinggal istrinya tak bisa menahan hasratnya hingga kemudian memperkosa adik iparnya sendiri. Dia mengajak adik yang kala itu usianya masih 19 tahun ke rumahnya di Cheongju, provinsi Chungcheong. Di sana, Lee membiusnya, memperkosa, lalu membunuhnya.

Lee memiliki pola kejahatan yang identik: selalu menjadikan barang korban sebagai senjata pembunuh, seperti baju, kaos kaki, atau stocking. Para korban, termasuk adik iparnya yang diperkosa itu, dibunuh dengan cara dicekik.

Setelah tewas, Lee kemudian mengikat adik iparnya itu dan memasukannya ke dalam keranjang bayi putranya. Di tengah salju, Lee membawa kereta itu dengan sepeda motor sejauh 800 meter dari kediamannya, lalu meninggalkannya begitu saja di sebuah tenda warga.

Jenazah korban terakhir Lee baru ditemukan beberapa hari setelah pembunuhan. Selain bekas cekikan, saksi mengaku menemukan ada luka lebam pada jenazah tersebut. Lee, yang berusaha menutupi tindakannya, bahkan sempat mendatangi kantor polisi dua hari sebelum mayat ditemukan.

Kepada polisi Lee mengaku adiknya hilang tanpa kabar. Namun, polisi justru menaruh curiga kepadanya karena ternyata mayat adiknya ditemukan tak lama setelah itu. Ketika rumah Lee di Cheongju diperiksa, polisi juga menemukan bekas darah. Ia pun segera ditahan.

Di persidangan, Lee sempat dijatuhi hukuman mati. Namun, pada tahun 1995, Mahkamah Agung Korea Selatan mengubah hukumannya menjadi seumur hidup.

Polisi Sempat Menangkap "Pelaku"

Butuh 33 tahun lamanya bagi pihak kepolisian Korsel untuk mengusut kasus pemerkosaan dan pembunuhan di Hwaseong.

Banyak yang menduga kasus itu tidak ditangani serius. Tapi, dugaan itu salah, bahkan kepolisian Korsel sampai menurunkan 2 juta personil--sebagian menulis 1,8 juta--untuk menyelidiki area seluas 698 kilometer persegi lebih itu. Jumlah terbanyak sepanjang sejarah kepolisian Korsel untuk menuntaskan satu kasus saja.

Lee memang amat hati-hati dalam menjalankan kejahatannya. Ia, misalnya, baru beraksi pada malam hari atau menjelang matahari terbenam. Tempatnya selalu di jalanan yang dekat dengan persawahan atau daerah pinggiran kota yang sepi. Korbannya merupakan wanita berusia 13-71 tahun yang pulang dari bekerja.

Ada pun permasalahan utama polisi kala itu adalah belum canggihnya sistem pemeriksaan DNA. Dari pemeriksaan 21 ribu orang dan pencocokan 20 ribu sidik jari, Lee tak pernah masuk di dalam daftar tersangka.

Kepolisian awalnya mengira pembunuhan yang terjadi tak saling berkaitan. Setelah kasus kelima, ditambah dengan maraknya sorotan media terhadap kekerasan yang dilakukan polisi pada masa interogasi, penyelidikan menjadi lebih serius dengan menambah jumlah personil.

Lebih-lebih karena ada satu orang yang turut tewas akibat interogasi yang brutal dari pihak kepolisian. Ketika itu, korban yang sudah tak tahan karena dimintai keterangan, memutuskan melompat ke kereta yang tengah melaju dan tewas seketika.

Polisi memang sempat berhasil menemukan pelaku pembunuhan korban kedelapan dari 10 wanita yang meninggal di rentang tahun-tahun tersebut. Namun, pelaku bernama Yoon itu tak lebih dari peniru atau biasa disebut copycat killer. Terutama DNA-nya juga tidak cocok dengan DNA yang ditemukan pada korban lainnya.

Tahun-tahun pun berlalu. Polisi kelelahan dengan kasus ini, tapi tidak dengan warga Hwaseong.

Film dan Seorang Kanibal sebagai Pengingat

Kisah tentang kasus pembunuhan di Hwaseong sempat difilmkan pada tahun 2003 dengan judul: Memories of Murders. Sutradaranya adalah Bong Joon Ho, yang pada Juni 2019 lalu membuat Parasite: film tragikomedi mengenai kesenjangan sosial di Korsel.

Dalam Memories of Murders, Joon-ho berusaha menceritakan bagaimana proses kepolisian mencari pelaku hingga menemui jalan buntu. "Pembunuhan berantai Hwaseong sangat mengejutkan orang Korea. Itu meninggalkan trauma bagi masyarakat kami," ujar Bong.

Kelak, Memories of Murders menjadi pengingat bagi masyarakat Korea.

Setahun usai film itu dirilis, kepolisian Korsel kembali berhasil menangkap seorang pelaku pembunuhan berantai yang juga mengidap kanibalisme. Namanya: Yoo Young-Chul. Penangkapan ini turut memberi efek terhadap kasus Hwaseong.

Kala itu, Young-Chul sebenarnya merupakan sosok yang lebih fenomenal tak hanya melebihi Lee, tapi penjahat seantero Asia. Dalam sebuah wawancara dengan media setempat, Young-Chul mendapat pertanyaan tentang insiden Hwaseong. Dan disadari atau tidak, jawaban yang ia berikan menjadi petunjuk kasus misterius tersebut.

Seturut penilaian Young-Chul, insiden Hwaseong berhenti karena pelaku tidak bisa melakukannya lagi. Dugaannya: pelaku sudah meninggal atau tengah berada di dalam penjara. Young-Chul sendiri menghentikan perbuatannya karena tertangkap. Jika tidak, dia mengaku akan membunuh 100 orang lainnya, bahkan lebih.

Pada tahun 2006, sebuah acara televisi Korea, Spotlight, sempat berupaya menuntaskan kasus Hwaseong. Dengan menggunakan teknologi modern yang dapat memperkirakan wajah seseorang meski peristiwanya sudah lewat lebih dari 20 tahun, mereka menganalisis foto wajah terduga pelaku.

Lagi-lagi, meski ditayangkan secara nasional dan internasional, upaya tersebut tetap tak berhasil mengungkap Lee.

Setahun berselang, ketika di Korsel ramai membicarakan film garapan David Fincher yang terinspirasi dari kisah nyata pembunuhan berantai di Amerika berjudul Zodiac, penulis di rogerebert.com bernama Seongyong Cho, menukil bahwa orang-orang langsung mengingat film Memories of Murders.

Kedua kisah di film itu memang punya narasi serupa: pelaku sama-sama tidak tertangkap.

Akhir Kisah Si 'Zodiac Killer'

Medio September 2019, pihak kepolisian Korsel tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka memiliki petunjuk kuat tentang pelaku utama pembunuhan berantai di Hwaseong. Berita ini langsung ramai di media nasional Korea. Buat Lee, ini akan menjadi awal hukumannya.

Petunjuk polisi didapat melalui penyelidikan DNA korban yang dilakukan oleh National Forensic Service. Menggunakan teknologi yang lebih maju, cukup butuh 15 hari saja untuk melakukan itu semua. Hasilnya: DNA yang ditemukan pada korban pembunuhan Hwaseong kelima, ketujuh, dan kesembilan cocok dengan DNA Lee.

Akurasi penyelidikan ini kian dapat dipercaya setelah wajah Spotlight mengeluarkan hasil riset mandirinya mengenai prakiraan tinggi dan umur pelaku kala itu: 165cm-170cm/24-27 tahun. Ciri-ciri itu sangat sesuai dengan Lee.

Selain melalui pencocokan DNA dan riset mengenali wajah seperti yang dilakukan Spotlight, kepolisian Korsel juga memakai metode unik: hipnotis. Untuk ini, mereka mesti mendatangkan kembali satu-satunya saksi hidup dari peristiwa Hwaseong yang memang melihat pelaku dengan jelas pada 1988 lalu: kernet sopir bus dalam kota trayek Balan-Hwaseong.

Kala itu, bersama sopirnya yang bernama Um Mo, sang kernet mengangkut Lee sekitar jam 10 malam. Um lantas menangkap gelagat aneh pada Lee. Pasalnya, bulan itu cuaca seringkali cerah, tetapi celana dan sepatu si penumpang itu justru basah.

Setelah bukti dan keterangan didapat, polisi segera mendesak Lee untuk mengakui perbuatannya. Benar saja, bahkan ia mengaku telah membunuh bukan hanya sembilan, tetapi 14 perempuan. Selain adik iparnya, empat orang lain belum ketahuan identitasnya. Lee juga menyebut pernah melakukan 30 usaha perkosaan sepanjang hidupnya.

Kesaksian ini dibeberkan pada 1 Oktober 2019.



Polisi sangat hati-hati dalam menginterogasi Lee, mengingat publik masih menyorot perilaku kekerasan mereka terhadap terduga pelaku kejahatan. Ketika Lee akhirnya mengakui perbuatannya, publik pun masih curiga: apakah pengakuan itu memang fakta atau sekadar rekayasa akibat efek kekerasan yang dilakukan polisi?

Keraguan publik tersebut kemudian direspon salah seorang pejabat kepolisian yang merahasiakan identitasnya melalui keterangan di salah satu media.

"Dia (Lee) telah mengalami perubahan sikap sejak minggu lalu dan (akhirnya) membuat pengakuan. Bukan polisi yang memaksanya untuk mengaku, tapi Lee, dalam sebagian kasus, bahkan sampai menggambar untuk menjelaskan peristiwanya sendiri,” tegas pejabat kepolisian tersebut

Terlepas dari telah terungkapnya kejahatan Lee, ada sebuah catatan menarik lain: pihak kepolisian Korsel sebetulnya bisa saja menangkap orang itu lebih cepat pada tahun 1994 jika mereka dapat berkoordinasi dengan lebih baik.

Kala itu, anggota kepolisian Cheongju sempat membawa Lee ke Hwaseong untuk memeriksa bekas rumahnya. Akan tetapi, ketika pihak kepolisian Hwaseong meminta kepolisian Cheongju untuk menyerahkan Lee, mereka menolaknya.

Alhasil, Lee pun "hanya" didakwa melakukan pembunuhan tingkat pertama dan butuh 33 tahun agar seluruh kejahatannya terungkap.

Baca juga artikel terkait KASUS PEMBUNUHAN atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight