Periksa Fakta

Ledakan di Bandara Jenewa Tidak Mengganggu Pertemuan WHO

Penulis: Irma Garnesia - 18 Jun 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pertemuan WHO tetap berjalan lancar dan tidak terganggu oleh ledakan yang sempat terjadi pada 20 Mei di dekat bandara Jenewa.
tirto.id - Pada 20 Mei lalu, kebakaran besar terjadi di dekat Bandara Jenewa, Swiss, tepatnya di pusat penampungan pencari suaka yang tengah dibangun. Dilaporkan oleh The Independent, juru bicara Bandara Jenewa, Ignace Jeannerat, mengatakan kepada radio Swiss RTS, bahwa kebakaran tersebut menyebabkan gumpalan asap tebal.

Sementara itu, di kota yang sama, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menjadwalkan perhelatan World Health Assembly atau Pertemuan Majelis Kesehatan Dunia (WHA) ke-75 pada 22-28 Mei. Ini adalah pertemuan tatap muka pertama organisasi tersebut sejak dimulainya pandemi COVID-19.

Periksa Fakta Ledakan di Bandara Jenewa
Periksa Fakta: Tidak, Ledakan di Bandara Jenewa Tidak Mengganggu Pertemuan WHO. (Screenshot/Facebook/Kekasih Kristus)


Namun, beberapa unggahan di media sosial menyatakan pertemuan itu dibatalkan. Sebuah akun Facebook bernama Kekasih Kristus (tautan), misalnya, mengklaim pada 23 Mei bahwa pertemuan WHO untuk mempersiapkan "epidemic treaty" dan kedatangan para elit tersebut dibatalkan. Akun ini juga mengunggah video ledakan yang diklaim terjadi di bandara Jenewa dengan durasi 7 detik.

Selain itu, unggahan terkait pertemuan WHO yang dibatalkan tersebut dapat ditemukan di sini, sini, dan sini. Beberapa unggahan juga menyebut soal "plandemic treaty", yang mengacu pada teori bahwa pandemi sudah direncanakan oleh elite global, atau yang kerap disebut Plandemic.

Benarkah klaim-klaim ini?

Penelusuran Fakta

Tim Tirto sempat melakukan penelusuran pada video yang diunggah di akun Facebook Kekasih Kristus. Namun, hasil pencarian pada YanDex tidak dapat mencocokkan frame video tersebut dengan kejadian kebakaran di dekat bandara Jenewa. Pada dasarnya, video tersebut memang hanya menampilkan ledakan saja tanpa simbol atau tanda tertentu untuk membantu identifikasi lokasi kejadian.

Lembaga pemeriksa fakta AFP menemukan bahwa potongan video yang banyak beredar di media sosial tersebut mirip dengan potongan video yang diunggah di akun YouTube agensi berita Storyful pada 22 Mei.

Deskripsi di unggahan video Storyful bertuliskan, “Penerbangan Dibatalkan di Bandara Jenewa setelah Kebakaran di Pusat Pencari Suaka Terdekat”. Versi panjang dari video yang diunggah Storyful berdurasi 1,05 menit jika dibandingkan dengan video yang diunggah di Facebook sekitar 7 detik saja.

Sementara itu, menurut keterangan resmi dari Bandara Jenewa yang dipublikasikan dalam Bahasa Perancis pada 24 Mei, ledakan menyebabkan penutupan lalu lintas udara selama hampir dua jam. Sebelas penerbangan terjadwal dan tiga penerbangan pribadi harus dialihkan ke bandara lain dan 22 penerbangan dari Jenewa dibatalkan.

Hingga saat itu, investigasi sedang dilakukan untuk menentukan penyebab kecelakaan. Tidak ada cedera yang dilaporkan. Hanya saja, seorang pria dalam keadaan syok, dirawat oleh staf medis dari peron bandara.

Selanjutnya, kami mencari informasi mengenai pertemuan WHO pada 22 hingga 28 Mei 2022. Nyatanya pertemuan tersebut tetap berjalan lancar dan tidak terganggu oleh ledakan yang sempat terjadi pada 20 Mei di dekat bandara Jenewa, Swiss.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan sambutan terhadap para delegasi yang datang di hari pembukaan pertemuan tersebut yang disiarkan di kanal YouTube WHO.

Pertemuan WHA ke-75 merupakan pertemuan pertama yang diadakan secara tatap muka sejak pandemi COVID-19 dimulai. Pertemuan ini sendiri salah satunya membahas kesiapan dan koordinasi WHO dalam menanggapi situasi darurat seperti pandemi COVID-19. Penguatan kesiapsiagaan dan respon terhadap situasi darurat seperti pandemi adalah tema dari pertemuan WHO tersebut.

WHA sendiri adalah badan pembuat keputusan WHO. Pertemuan ini dihadiri oleh semua negara anggota WHO dan berfokus pada agenda kesehatan khusus yang disiapkan oleh Dewan Eksekutif.

Sementara itu, terkait dari "treaty" yang disebut di beberapa unggahan, Reuters melaporkan bahwa menurut WHO, meskipun proposal untuk mengamandemen Regulasi Kesehatan Internasional (IHRs) adalah salah satu agenda dari WHA tahun ini, tapi hal ini tidak sama dengan melakukan pemungutan suara terkait pandemic treaty atau perjanjian pandemi.

IHR, yang merupakan instrumen hukum yang mengatur hak-hak dan kewajiban negara anggota dalam mengatasi situasi kesehatan publik yang bersifat darurat, memang dilihat tidak cukup untuk mengatasi pandemi global dan negosiasi untuk mereformasi instrumen ini diperkirakan akan terus berlangsung selama dua tahun ke depan.

Proposal untuk perjanjian di masa depan berarti masih jauh dari tahap formalisasi, walaupun perjanjian semacam ini mungkin akan memuat aturan mengenai cara untuk berbagi vaksin dan usulan terkait larangan terhadap pasar satwa liar.

Sebagai tambahan informasi, kata Plandemic menjadi ramai sejak awal Pandemi COVID-19 pada 2020. Asal mulanya adalah sebuah video berjudul "Plandemic: The Hidden Agenda Behind COVID-19" yang tersebar luas di media sosial dan telah ditonton ratusan ribu kali. Video berdurasi 26 menit ini bahkan telah dihapus berkali-kali oleh YouTube, namun selalu muncul kembali.

Video ini menceritakan dugaan konspirasi mengenai tipuan yang dilakukan saintis dan politisi tentang sistem kesehatan masyarakat dan industri farmasi. "Plandemic" berisi wawancara dengan Judy Mikovits, mantan peneliti yang pernah bekerja di The National Cancer Institute (NCI), Amerika Serikat, yang menyebut klaim-klaim tak berdasar bukti seperti bahwa virus COVID-19 dimanipulasi dan berasal dari virus SARS1, serta tidak tercipta secara natural.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, tidak benar pertemuan Majelis Kesehatan Dunia WHO terhenti karena adanya ledakan yang terjadi di sekitar Bandara Jenewa. Informasi yang tersebar di media sosial yang mengatakan demikian, juga mengaitkan WHA dengan teori konspirasi Plandemic bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6287777979487 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight