Lebih Sehat dengan Hidup Religius

Oleh: Aditya Widya Putri - 23 Februari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Agama punya aturan yang melarang penganutnya melakukan hal-hal negatif yang dapat memicu risiko kesehatan.
tirto.id - Percayakah Anda konsep agama dapat memelihara kesehatan jasmani?

Ternyata, anggapan bahwa orang-orang yang rajin beribadah sebagai individu yang lebih tenang mentalnya bukanlah isapan jempol. Aktivitas mendekatkan diri dengan agama dipercaya memberi hidup yang lebih sehat dan umur lebih panjang. Lantunan doa-doa memicu tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks, mengurangi stres, mengontrol degup jantung, serta tekanan darah.

Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara religiusitas dengan kesehatan. Misalnya penelitian Harold G. Koenig, dkk tahun 2004. Mereka mewawancarai 811 pasien berusia 50 tahun ke atas selama 21 bulan. Religiusitas diukur dari aktivitas keagamaan terorganisir atau non-organisasi, mendengarkan ceramah agama di radio atau televisi, dan melakukan ibadah mandiri.

Sebagian besar sampel melakukan aktivitas ibadah dalam kehidupannya. Hampir seluruh pasien, yakni 97,6 persen percaya pada agama tertentu. Lalu 37,3 persen menghadiri ibadah keagamaan mingguan, sebanyak 80,8 persen melakukan doa pribadi setidaknya sekali sehari. Dan 50,7 persen membaca Alkitab atau literatur keagamaan lainnya beberapa kali per minggu.

Ada dua penyakit yang paling banyak diderita responden, di antaranya sakit jantung atau sistem peredaran darah sebanyak 29,5 persen dan penyakit gastrointestinal 19,9 persen. Hasil pengamatan Koenig menunjukkan individu dengan religiusitas di kuartil tertinggi hanya menghabiskan 23,7 hari perawatan rumah sakit, sedangkan mereka yang ada di kuartil terendah menghabiskan 33,5 hari di rumah sakit.

Aktivitas keagamaan yang dilakukan harian juga memberi efek terbalik dengan masa perawatan jangka panjang. Kelompok dengan kuartil tertinggi menghabiskan rata-rata 9,8 hari perawatan, berbanding 23,6 hari pada kelompok terendah. Selain meminimalkan risiko perawatan jangka panjang di rumah sakit, responden dengan aktivitas keagamaan tinggi cenderung berpeluang rendah dirawat di panti jompo atau tempat rehabilitasi.

Penelitian lainnya pada 2016 yang dilakukan Shanshan Li, dkk juga menguatkan asumsi tersebut. Peneliti mengevaluasi hubungan antara kehadiran di ibadah keagamaan dan kematian pada perempuan. Pengamatan dilakukan mulai 1996 sampai Juni 2012 terhadap 74.534 perempuan yang bebas dari penyakit kardiovaskular dan kanker.

Hasil akhir menunjukkan dari total sampel, terdapat 13.537 kematian, sebanyak 2.721 disebabkan gangguan kardiovaskular, dan 4.479 akibat kanker. Sampel yang menghadiri ibadah keagamaan lebih dari satu kali per minggu punya risiko 33 persen lebih rendah terkena penyakit tersebut, dibanding kelompok sebaliknya.

“Beribadah erat kaitannya dengan dukungan sosial, sikap optimis, pengendalian diri, dan tujuan hidup lebih baik,” jelas Tyler Vander Weele, salah satu penulis studi ini, seorang profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health seperti dikutip Time.

infografik lebih sehat dengan agama


Batasan dalam Agama

Apa alasan aktivitas spiritual membuat kesehatan jadi lebih baik?

Edward Dutton, penulis utama sekaligus peneliti dari Institut Penelitian Sosial Ulster, membeberkan alasannya. Agama menjadi “rem” bagi penganutnya, pembatas aktivitas negatif. Agama melarang seks bebas, sehingga penganutnya terhindar dari risiko terjangkit penyakit menular seksual. Agama tertentu juga melarang minuman beralkohol sehingga mengurangi risiko kerusakan otak.

"Agama membuat Anda lebih pro-sosial, religius di saat Anda stres,” ujar Dutton.

Terakhir, penelitian oleh Marino A. Bruce, dkk pada 16 Mei 2017 juga menunjukkan hubungan antara kehadiran di gereja dengan kesehatan. Ukuran fisiologis sakit dinilai dari fungsi metabolik, kardiovaskular, dan inflamasi klinis/biologis. Peneliti mengemukakan mengunjungi gereja lebih dari satu kali seminggu akan mengurangi risiko kematian sebesar 55 persen.

“Spiritualitas membuat orang percaya ada kekuatan yang lebih besar dari dirinya yang punya kuasa untuk mengatasi masalah hidup,” kata Marino Bruce, sang penulis, yang merupakan profesor riset kedokteran, kesehatan, dan masyarakat di Vanderbilt University. Perasaan tersebut membikin efek stres berkurang sehingga berpengaruh pada kestabilan tekanan darah dan gula darah.


Baca juga artikel terkait AGAMA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani