Le Corbusier: Kolaborator Rezim Fasis, Ikon Arsitek Modern

Arsitek terkenal dunia Le Corbusier. FOTO/ AP
Oleh: Joan Aurelia - 18 September 2020
Dibaca Normal 5 menit
Keterlibatan Le Corbusier dalam pemerintahan Philippe Pétain membuatnya dianggap fasis.
Bagi sejumlah arsitek, berkunjung ke Villa Savoye di Poissy, Perancis, ibarat perjalanan spiritual karena vila ini adalah salah satu bangunan ikonik yang mewakili gaya arsitektur modern. Gaya desain yang muncul dan mulai menjamur pada abad 20 di negara-negara barat dan masih populer sampai hari ini termasuk di Indonesia.

Di dalam negeri bangunan aliran modern mulai banyak terlihat pada periode pemerintahan Sukarno 1959-1965. Pada masa itu tercipta berbagai gedung seperti Istiqlal, Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno, Gedung MPR, Wisma Nusantara, Gedung Sarinah, hingga Planetarium yang desainnya terinspirasi dari bangunan-bangunan berarsitektur modern.

Kekhasan arsitektur modern hadir membawa pembaruan bentuk dari gaya desain bangunan yang sebelumnya marak di Eropa seperti ekspresionis, edwardian, klasik, dan romantik. Secara garis besar--dan yang terlihat kasat mata--desain arsitektur modern bercirikan bentuk bangunan yang tampilannya lebih sederhana (biasanya komponen bangunannya bisa dibayangkan menyerupai bentuk dasar seperti persegi, persegi panjang, silinder, segitiga, atau trapesium) serta memiliki detail dan tekstur yang tidak sekompleks gaya desain sebelumnya.


Kembali lagi ke Villa Savoye. Bangunan ini dirancang oleh Le Corbusier dan dibangun pada 1928-1931 punya pengaruh cukup signifikan dalam memaknai gaya desain bangunan modern di Perancis khususnya dan Eropa pada umumnya sepanjang paruh kedua 1920-an hingga pasca perang dunia II. Arsitek-arsitek dari berbagai negara di luar Eropa dan AS yang tertarik dengan gaya desain modern kerap menjadikan gaya bangunan Le Corbusier sebagai inspirasi.

Pengaruh signifikan Le Corbusier di Asia nampak di Jepang--yang kelak juga jadi acuan perihal arsitektur modern di Asia. Nikil Saval dari T Magazine menuturkan Corbusier mendapat tugas untuk mendesain National Museum of Western Art di Tokyo pada 1959. Proyek itu digarap bersama beberapa arsitek Jepang yakni Junzo Sakakura, Takamasa Yoshizaka dan Kunio Maekawa.

Setelah museum itu selesai, gaya arsitektur modern ini merebak di Jepang. Hingga hari ini banyak arsitek Jepang masih setia pada aliran desain tersebut, di antaranya adalah Kenzo Tange dan Tadao Ando.

Tak berlebihan bila ada orang yang berpendapat bahwa Le Corbusier adalah salah satu arsitek di Eropa yang membuka wawasan para arsitek Asia terhadap gaya arsitektur modernisme. Tidak mengherankan juga bila sebagian arsitek kemudian menganggapnya “dewa”.

Namun, ada beberapa kritikus yang menganggap Le Corbusier sebagai pria penuh cacat moral. Bagi para pengkritik ini (berasal dari kalangan jurnalis dan kritikus arsitektur), Le Corbusier adalah arsitek fasis.

Sejauh ini setidaknya ada empat kritikus yang masing-masing merangkum kritik dalam bentuk buku. Le Corbusier, A French Fascism (2015) karya Xavier de Jarcy, Le Corbusier, a Cold Vision of the World (2015) karya Marc Perelman, A Corbusier (2015) karya Francois Chaslin, dan Le Corbusier : A Life (2008) karya Nicholas Fox Weber.

New York Times sempat mewawancara para penulis/kritikus Le Corbusier terkait pandangan para kritikus. Menurut de Jarcy, berbagai visi yang pernah diungkapkan Le Corbusier adalah kebohongan belaka. Fox Weber mengungkap Le Corbusier sebagai pria naif yang terlihat sebagai orang idiot karena tidak mampu memahami bagaimana harus bersikap dalam ranah politik. Menurut Fox Weber, ada kalanya Corbusier bangga diasosiasikan dengan gerakan fasis, tapi ada kalanya dia juga dia menutup-nutupi keterlibatannya dalam rezim fasis Vichy di Perancis. Sementara Chaslin menganggap Le Corbusier mendukung aliran politik sayap kanan.

New York Times mencatat Le Corbusier pernah menyurati ibunya dan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi adalah bangsa yang bejat. Meski demikian, beberapa kali ia bekerja untuk orang yahudi membangun hunian mereka di Swiss. Ia juga tak pernah menyatakan kebenciannya terhadap orang Yahudi di muka umum.

Lantas, Modulor--sistem skala pengukuran proporsi yang jadi acuan dalam mengatur interaksi manusia terhadap ruang--yang dirancang Le Corbusier dianggap terinspirasi atau bentuk modern dari eksperimentasi manusia yang dilakukan Nazi.

Le Corbusier, Kolaborator Fasis atau Oportunis?

Tuduhan fasis bermula ketika Le Corbusier berusaha mendekati para pejabat pemerintahan Vichy yang dipimpin Philippe Pétain (1940-1944). Akar tuduhan itu dibahas secara lengkap dalam studi berjudul "Spectacles Plastiques: Reconstruction and the Debates on the "Synthesis of the Arts" in France, 1944-1962" (2013) oleh Nicola Pezolet, dosen arsitektur dan sejarah seni dari Universitas Concordia, Montreal, Canada.

Pezolet menjelaskan bahwa selama masa pemerintahan Pétain pada awal 1940, Le Corbusier, imigran asal Swiss, konsisten mengirim petisi kepada para pejabat pemerintahan Perancis agar mengangkat dirinya menjadi penata ruang kota. Petisi itu tembus. Corbusier memegang jabatan penting di jawatan tata kota pada 1941 dan merancang kota Aljir, Aljazair.

Berdasarkan riset Pezolet, pada awal 1940 Corbusier tidak hanya mengirim surat resmi ke pemerintahan untuk mempromosikan diri dan ide tetapi juga ke ormas-ormas pemuda yang dibentuk selama rezim Vichy misalnya Compagnons de France. Lewat surat yang ditujukan ke para pemuda sayap kiri, misalnya, Le Corbusier mempromosikan opini soal pentingnya menggunakan warna putih dan warna-warna cerah pada bangunan. Dan ada baiknya ide tersebut diterapkan terutama dalam rangka memperbaiki gedung-gedung yang rusak akibat perang. Pada masa itu para perancang gedung cenderung mempertahankan warna dan tekstur asli material alam yang digunakan pada bangunan seperti kayu atau batu.

Intinya, Corbusier ingin memiliki otoritas untuk merancang tata ruang kota atau setidaknya daerah di mana ormas pemuda beraktivitas. Yang ia lakukan adalah berusaha membuka peluang dengan mendekatkan diri kepada siapapun yang mungkin mengabulkan permintaannya.

Corbusier selalu bersikeras bahwa dirinya adalah arsitek yang sanggup membuat master plan kota dengan baik. Baginya, relasi antara manusia dan seni harus senantiasa erat, dan segala elemen masyarakat ini harus bersatu.

Misinya yang lain adalah membuat perumahan dalam skala besar dan melakukan proyek-proyek rekonstruksi gedung. Tapi pada kenyataannya Le Corbusier tidak pernah mendapat proyek besar selama pemerintahan Pétain birokrasi yang berbelit-belit. Walhasil, Le Corbusier berhenti mendekati pemerintahan fasis di selatan Perancis itu.

Di sisi lain, Le Corbusier juga didekati oleh kelompok-kelompok militan sayap kiri. Misalnya Ceux de la Résistance, kelompok perlawanan antifasis yang sering merekrut teknisi dan insinyur. Mereka tidak meminta Le Corbusier merancang tata kota alih-alih rutin menulis untuk jurnal Volontés de ceux de la Résistance. Le Corbusier sadar bahwa jurnal ini punya reputasi baik, mampu mempengaruhi opini publik, dan dibaca oleh berbagai kalangan di Perancis dan luar Perancis mulai dari arsitek hingga pejabat.


Di jurnal inilah Le Corbusier semakin getol mempromosikan ide “sintesis kesenian”, yang secara sederhana mengacu pada penyertaan seni dalam setiap aspek kehidupan manusia, termasuk arsitektur. Ide itu terus ia gaungkan dan sempat menjadi topik utama dalam pertemuan tahunan Congrès Internationaux d'Architecture Moderne, asosiasi arsitek modern Eropa yang digagas Le Corbusier pada 1928. Congrès adalah rumah bagi arsitek modern asal Finlandia Alvar Aalto dan pendiri Bauhaus, Walter Gropius.

Dalam tulisan-tulisannya di Volontés, Le Corbusier tidak pernah menyebut keterlibatannya dalam rezim Vichy. Dari sana kemudian muncul anggapan bahwa ia tidak ingin diasosiasikan dengan rezim fasis Vichy.



Ide penting lain dalam perjalanan hidup Le Corbusier adalah modulor yang digagasnya pada 1943. Menurut hemat Le Corbusier, sistem Modulor bisa menjadi skala ukur yang paling ergonomis untuk mendesain produk, termasuk bangunan. Namun, kebenaran dan keakuratan modulor ini diragukan dan dianggap pseudosains karena Corbusier bukan seorang ilmuwan matematik yang bisa menghitung proporsi dengan spesifik. Meski demikian, Le Corbusier tetap percaya diri menggunakan sistem modulor saat hendak mendirikan bangunan atau membuat karya seni tiga dimensi.

Setelah Perang Dunia II usai, Corbusier kembali berhasrat menata ruang kota. Kali ini yang jadi targetnya adalah Saint-Dié-des-Vosges, sebuah commune di timur laut Perancis. Ia membayangkan akan membentuk daerah dengan ragam sistem transportasi dan ruang hidup yang dekat dengan alam.

“Ia membayangkan Saint-Dié-des-Vosges sebagai wujud penggabungan arsitektur dan budaya di mana keindahan alam tetap jadi fokus utama dalam pembangunan,” tulis Pezolet.

Corbusier hendak membuat Saint-Dié-des-Vosges ramah pejalan kaki, kaya monumen, gedung-gedung pemerintahan yang multi-fungsi, balai warga, pasar kriya, dan museum seni. Sebetulnya rencana itu serupa dengan rancangan yang digagasnya pada era Vichy.

Rencana itu gagal karena pemerintah tidak memiliki kesamaan visi dengan Le Corbusier.

Wujud pemikiran Le Corbusier sehubungan dengan penerapan prinsip Modulor dan "sintesis kesenian" tertuang pada pabrik Usine Claude-et-Duval (pabrik milik kawannya, seorang industrialis) dan Unité d'Habitation di Marseilles (apartemen 337 unit). Gedung apartemen juga memuat area komunal seperti teras di puncak bangunan, taman kanak-kanak, dan ruang untuk pedagang kecil. Bangunan mengandalkan cahaya natural yang masuk dari jendela kaca. Dinding dan pintunya dicat warna warni.

“Bagi Corbusier, Unité d'Habitation bagaikan laboratorium yang “memodernisasi” kehidupan domestik di Paris. Ruangnya dibangun berdasar skala modulor. Di dalamnya terdapat perkakas asal AS seperti oven elektrik dan wastafel dapur yang memuat dua bidang untuk mencuci,” papar Pezolet.

Meski demikian, di mata Pezolet, ide "sintesis kesenian" sebagai elemen penting dalam rekonstruksi budaya Perancis pasca-perang terasa problematis karena Le Corbusier tetap percaya pada sistem yang mengistimewakan kaum teknokrat sebagai ujung tombak pembangunan.

Le Corbusier juga belum sepenuhnya lepas dari angan-angan romantik bahwa aliran arsitektur dan desain modern juga mesti mampu mengeluarkan karya-karya bersifat agung dan ikonik. Pola pikir ini menurut Pezolet tidak jauh berbeda dengan pemikiran pendukung rezim Vichy.

Bagi Pezolet pemikiran Le Corbusier bermasalah karena setelah Perang Dunia berakhir ia masih mau menulis dalam buku tentang Pétain yang juga diisi esai dari para pendukung fasis. Meski demikian, Le Corbusier tidak pernah tercatat sebagai anggota kelompok fasis mana pun. Mungkin memang ia bukan seorang fasis melainkan oportunis belaka.

Baca juga artikel terkait ARSITEK atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight