Lasut Bersaudara: Tewas Ditembak dan Mengusut Kasus Dana Cengkih

Ilustrasi Keluarga Darius Supit. tirto.id/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 4 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Arie Frederik Lasut tewas ditembak di masa Revolusi, sementara adiknya diberhentikan sebagai Gubernur Sulawesi Utara gara-gara mengusut dugaan penyimpangan dana cengkih.
tirto.id - Di tanah Minahasa, Lasut artinya pemikir cerdas. Marga ini termasuk yang cukup besar dan terkemuka.

Pada zaman pendudukan Jepang, Tomohon pernah punya seorang kepala distrik atau Hukum Besar bernama Ryclof Constantyn Lodewijk Lasut. Di zaman revolusi, bekas anggota Dewan Minahasa ini menjadi anggota parlemen Negara Indonesia Timur.

Lasut yang lain adalah Darius Lasut. Ia seorang guru di Hollandsch Inlandsch School (HIS) Tondano. Kala itu, guru adalah profesi yang sangat dihormati masyarakat, termasuk di Minahasa. Status Darius sebagai guru HIS membuat anak-anaknya bisa belajar di sekolah tersebut. Ia menikahi Ingkan Supit, dua anak mereka bernama Arie Fredrik Lasut dan Willy Gayus Alexander Lasut.

Arie lahir di Tondano pada 6 Juli 1918. Ia tergolong anak yang cerdas. Menurut Mardanus Safwan dalam Arie Frederik Lasut (1982:17), Arie menyelesaikan pelajarannya di HIS Tondano pada 1931 dengan angka yang sangat baik dan berhasil menjadi juara satu.

Selepas itu, ia belajar di sekolah guru Holland Inlandsch Kweekschool (HIK) Ambon. Lalu pindah ke sekolah guru di Bandung. Tak lama kemudian ia belajar di Algemeene Middelbare School (AMS). Setelah lulus dari AMS, Arie sempat kuliah di Geneeskundige Hoogeschool (sekolah tinggi kedokteran) Jakarta, sebelum akhirnya memilih belajar di Technische Hogeschool (sekolah tinggi Teknik) di Bandung.

Karena Jepang keburu menduduki Hindia Belanda, Arie tak sempat menyelesaikan kuliahnya. Ia masuk pelatihan perwira cadangan bernama Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO). Menurut Mardanus Safwan, Arie sempat terlibat pertempuran melawan tentara Jepang di Ciater, Subang.

Tak lama setelah Belanda menyerah kepada Jepang, ia bekerja di Chorisitsu Chosayo (Jawatan Geologis) Bandung. Dan saat Indonesia merdeka, Arie berdiri di pihak Republik. Dialah ahli geologi pertama yang memimpin Jawatan Geologi dan Pertambangan. Bersama orang-orang Minahasa, ia juga aktif di Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi (KRIS).

Pada 7 Mei 1949, bertempat di Pakem, Sleman, Yogyakarta, Arie mengembuskan napasnya yang terakhir.

“Malam-malam sekitar pukul satu, ia dijemput tiga orang dari rumah [dan] di luar kota ia lalu ditembak mati,” tulis Mischa de Vreede dalam Selamat Merdeka: Kemerdekaan yang Direstui (2013:240).

Dua puhan tahun setelah kematiannya, tepatnya pada 20 Mei 1969, Arie Frederik Lasut diangkat menjadi Pahlawan Nasional.


Cengkih dan Sariwangi

Usia Arie dan adiknya terpaut 8 tahun. Willy Gayus Alexander Lasut lahir di Tondano pada 28 Januari 1926. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1988:175-176), Willy pernah belajar di AMS Tomohon.

Seperti kakaknya, Willy juga aktif di KRIS. Ia pernah ditangkap Belanda di Surabaya dan nyaris dihukum mati. Saat berada di Yogyakarta, Willy menjadi salah satu komandan kompi dari pasukan Letnan Kolonel Soeharto.

Menurut Sayidiman Suryohadiprojo dalam Mengabdi Negara Sebagai Prajurit TNI (1997:230), Willy pernah menjadi ajudan Panglima Siliwangi, Kolonel Sadikin. Di Kodam yang bermarkas di Jawa Barat itu, ia juga sempat menjadi komandan Yonif 308, Yonif 319, dan Brigif 14/Mesa Barwang.

Antara tahun 1974 hingga 1978, Willy menjadi Wakil Asisten II/Operasi dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang saat itu dijabat oleh Jenderal Makmun Murod. Lama tinggal di perantauan, Willy saat itu pangkatnya Brigadir Jenderal, akhirnya kembali ke kampung halamannya saat diangkat menjadi Gubernur Sulawesi Utara. Ia menjadi gubernur kesayangan para petani cengkih.



“Di bawah kepemimpinan gubernur ini, tiba- tiba harga cengkeh melonjak tinggi, sehingga tingkat pendapatan masyarakat khususnya para petani cengkeh naik,” tulis Siegfried Pontoh dalam Soebronto Laras, Meretas Dunia Automotif Indonesia (2005:427).

Saat itu, harga cengkih mencapai 15 ribu rupiah perkilo. Di Manado, hal ini membuat ratusan mobil yang didagangkan Indo Mobil laris manis. Buku Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota (2010:74) menyebut Willy Lasut bahkan menetapkan harga cengkih per kilo sebesar 17 ribu lima ratus rupiah.

Masa jabatan Willy tidak lama. Ia yang dilantik pada 20 Juni 1978 sebagai Gubernur Sulawesi Utara, diberhentikan pada 21 Oktober 1979. Artinya hanya menjabat selama 1 tahun 4 bulan 1 hari.

Karena alasan pemberhentiannya tidak jelas, Willy tentu saja marah. Ia tak menghadiri acara serah terima jabatan gubernur. Para wartawan bertanya kepada Mayor Jenderal Amirmachmud selaku Menteri Dalam Negeri tentang alasan pencopotan Willy. Namun, Amirmachmud hanya bicara yang bagus-bagus soal keputusan pemerintah itu, meski sebenarnya ada alasan politis.

“Gubernur Lasut dipecat karena keberaniannya mengusut dugaan penyimpangan 'dana cengkeh' di daerahnya yang mungkin melibatkan 'orang kuat' di Jakarta,” tulis Tjipta Lesman dalam Dari Soekarno Sampai SBY (2009:57).

Arie dan Willy punya sepupu bernama Johan Alexander Supit dari garis ibunya yang bernama Ingkan Supit. Usia Johan di bawah keduanya.

Johan lahir di Tondano pada 5 September 1932. Pendidikan formalnya tergolong tinggi. Ia pernah bekerja di perkebunan, sebelum akhirnya membuka usaha teh di Jakarta Utara pada 1962 yang bernama Sariwangi. Ia punya peran penting sebagai pemprakarsa teh celup di Indonesia. Saat ini merek teh celup Sariwangi bukan lagi milik keluarga Johan Alexander Supit, karena sudah diakuisisi oleh Unilever Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight