Lagu Pop Masa Kini Makin Pendek karena Industri Streaming

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 1 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Spotify membayar musisi per-streaming, terlepas dari durasinya. Perubahan struktur membuat nasib lagu kini ditentukan pada 30 detik pertama.
tirto.id - Mari bandingkan durasi beberapa lagu dalam jajaran lima besar Billboard Hot 100 versi tahun 2000 dan 2018.

Posisi pertama Hot 100 tahun 2000 dihuni penyanyi pop country Faith Hill dengan lagu Breathe. Durasinya 4:04 menit. Berpindah ke Hot 100 tahun 2018, rapper Aubrey Drake Grama atau akrab dipanggil Drake menempati urutan pertama dengan lagu God’s Plan. Durasinya 3:18 menit.

Pemendekan durasi akan Anda temui dalam perbandingan lagu-lagu lain yang berada di ururan kelima hingga ketiga.

Everything You Want (Vertical Horizon) berdurasi sepanjang 4:17 menit, sementara Rockstar (Post Malone) 3:37 menit. I Wanna Know (Joe) berdurasi 4:56 menit, sedangkan Havana (Camilo Cabello) 3:36 menit. Demikian pula Maria-Maria (Santana) sepanjang 4:23 menit dan Meant to Be (Bebe Rexha) 2:43 menit.

Ilmuwan big data Michael Tauberg pernah menganalisis fenomena pemendekan itu dan ia publikasikan di kanal Medium pada April 2018.

Aisha Hassan dan Dan Kopf dalam laporannya untuk Quartz merujuk riset Tauberg karena tertarik dengan metodologinya. Tauberg mula-mula menyilangkan data durasi lagu dalam aplikasi streaming Spotify dengan seberapa lama lagu bertahan di Billboard Hot 100.


Billboard Hot 100 dipakai sebagai acuan karena Tauberg memusatkan perhatiannya pada lagu pop sepanjang hampir dua dekade terakhir. Setelah data terkumpul, Tauberg baru menganalisis perubahan durasinya per tahun, mulai dari lagu-lagu tahun 2000 hingga 2018.

Hasilnya bisa dirumuskan dalam beberapa poin penting. Pertama, rata-rata durasi lagu pop Billboard memang makin tahun kian pendek. Pada tahun 2000 lagu pop rata-rata berdurasi lebih dari 4 menit. 18 tahun kemudian angka rata-ratanya turun menjadi hanya 3,5 menit.

Kedua, dalam beberapa tahun terakhir jumlah lagu di daftar Billboard Hot 100 dengan 2,5 menit meningkat drastis, yakni dari sekitar 1 persen pada 2015 hingga lebih dari 6 persen pada 2018.

Ketiga, turut merujuk pada hasil penelitian Tauberg sebelumnya, judul lagu ikut mengalami pemendekan. Dua dekade silam tajuk lagu-lagu hits tersusun dari tiga kata. Lagu-lagu populer kekinian rata-rata hanya mengandung dua kata.

Dalam laporan untuk Quartz lain, Kopf meniru metode perbandingan Tauberg untuk riset durasi lagu pop antara tahun 2013 dan 2018. Hasilnya secara umum sama.


Dalam periode lima tahun tersebut durasi rata-rata lagu Billboard Hot 100 memendek dari 3:50 menit ke 3:40 menit. Lebih lanjut, jika pada 2013 persentase lagu berdurasi 2:30 menit atau kurang hanya satu persen dari total seluruh lagu, pada 2018 angkanya naik cukup tajam menjadi enam persen.

Kopf mengamati secara khusus pada dua album penyanyi rap asal Compton, Kendrick Lamar. Pertama, album good kid, m.A.A.d city yang dirilis pada 2013. Semua lagu berdurasi minimal 3:30 atau lebih. Jika dirata-rata, durasi seluruh lagu dalam album ialah sepanjang 5:37 menit.

Kopf membandingkannya dengan album DAMN. yang Lamar rilis empat tahun setelahnya. Ia mencatat terjadi pemendekan rata-rata durasi lagu dibanding rata-rata durasi lagu album good kid, m.A.A.d city , yaitu menjadi 3:57 menit.

DAMN. menang Penghargaan Pulizer untuk musik, yang menunjukkan bahwa tren ini belum tentu menandakan turunnya kualitas musik,” catat Kopf.

Lamar tidak sendirian. Album terbaru Drake, Scorpion (2018), memiliki total durasi yang lebih lama dari total durasi album sebelumnya. Meski demikian, total durasi per lagunya makin pendek. Album Kanye West, The Life of Pablo (2016), pun demikian. Terdapat delapan lagu yang seluruhnya berdurasi kurang dari tiga menit.

Dominasi Streaming

Kopf dan Tauberg mengakhiri catatan masing-masing dengan kesimpulan serupa. Fenomena pemendekan durasi lagu pop kekinian diduga diakibatkan oleh dominasi aplikasi layanan streaming musik yang mengalami peningkatan popoularitas yang tajam dalam beberapa tahu terakhir.

Spotify, misalnya. Saat diluncurkan pada 7 Oktober 2008 mereka mengalami kesuksesan instan karena bekerja sama dengan Facebook. Per April 2019 perusahaan yang berbasis di Swedia itu telah memiliki 217 pengguna bulanan aktif, termasuk 100 juta pengguna berbayar.

Barangkali tidak berlebihan jika layanan streaming seperti Spotify telah mengubah lanskap industri musik dunia.

Pada awalnya mereka cukup berhasil mengurangi praktik pembajakan musik sebab menyediakan akses musik gratis (dan sejumlah keuntungan lain jika mau berlangganan). Saat kanal streaming kian populer, makin banyak pula musisi yang mengandalkannya sebagai smber pemasukan.

Mengutip data yang disadur Kopf, total pendapatan musisi AS dari kanal streaming pada 2013 sebesar 21 persen. Pada 2018 angkanya melonjak menjadi 75 persen. Para musisi pun berlomba-lomba membuat lagu-lagu yang, mengutip Kopf dan Tauberg, “ramah streaming”.

Mengapa? Sebab sistem pembayaran royalti musik ala Spotify didasarkan pada seberapa sering lagu dimainkan oleh para pengguna, bukan panjang-pendek durasinya.


Dengan demikian, dipandang dari segi bisnis, akan lebih menguntungkan jika musisi membuat lagu berdurasi pendek dengan jumlah banyak daripada lagu berdurasi panjang dengan jumlah sedikit.

Situasi tersebut bisa menjadi penjelasan mengapa total durasi album Drake, Kanye dan musisi lain kini lebih panjang namun terdiri dari lagu-lagu berdurasi lebih pendek ketimbang karya terdahulu mereka.

Baru-baru ini editor-in-chief The Verge Nilay Patel membicangkan topik yang sama dengan penulis musik Charlie Harding dan ahli musik Nate Sloan.

Harding secara tegas menyetujui bahwa durasi lagu-lagu pop memang makin pendek sejak 1990-an, dan salah satunya karena dipengaruhi dominasi musik streaming.

Infografik Pop Bilboard terpasung durasi
Infografik Pop Bilboard terpasung durasi. tirto.id/Nadya


“Salah satu perubahan utama adalah bagaimana orang dibayar mempengaruhi bagaimana lagu itu diciptakan,” kata Harding.

Ia melanjutkan pada 1995 musisi dibayar per album atau single, sehingga tidak masalah jika lagunya berdurasi lebih dari empat atau lima menit.

Saat kini jualan fisik hanya dipedulikan oleh penggemar fanatik, musisi mengandalkan layanan streaming yang hanya dibayar jika orang mendengarkan musiknya selama minimal 30 detik. Pendeknya: nasib satu lagu ditentukan pada 30 detik pertamanya.


Memendeknya durasi kemudian berefek pada perubahan struktur lagu. Masih berkaitan dengan rumus 30 detik pertma, Harding dan orang-orang di industri musik menyebutnya sebagai pembukaan pop atau pop overture.

“Yakni ketika di bagian awal lagu akan memainkan sedikit bocoran chorus dalam lima hingga 10 detik pertama untuk membuat pendengar tertarik, dan harapannya pendengar akan bertahan hingga 30 detik pertama ketika chorus benar-benar masuk secara penuh.”

Sloan mengatakan rumusnya mirip seperti trailer pemanasan (teaser) film. Trailer ini sengaja dibuat untuk memancing rasa penasaran penonton dengan memberikan bocoran-bocoran serba-tanggung yang harapannya mampu mempertahankan ketertarikan penonton hingga trailer sebenarnya dirilis.

Tapi Sloan kurang setuju jika format baru dianggap membuat musisi hanya fokus berkarya demi 30 detik pertama. Meski durasinya memendek, musisi ia nilai masih mempedulikan lagu secara keseluruhan sebab masih didasarkan pada pertimbangan profit.

“Di Spotify, jika pelanggan mendengar satu lagu secara penuh, lagu tersebut memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk diputar di playlist yang lebih besar. Dampaknya adalah lebih banyak klik, alias bukan sesuatu yang merugikan,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait LAGU POP atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Musik)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf