Lagu-Lagu yang Dilahirkan Para Pekerja dan Bergema di Seluruh Dunia

Oleh: R. A. Benjamin - 1 Oktober 2021
Dibaca Normal 5 menit
Musik dan pekerja selalu terkait satu sama lain. Bahkan, ada pula jenis-jenis musik yang kelahirannya dibidani para pekerja itu sendiri.
tirto.id - Tukang ketoprak langganan saya kerap menyetel Scorpions kala bertugas di balik gerobaknya. Saya sebetulnya tidak tahu lagu-lagu itu, tapi itu pasti Scorpions karena ia terdengar dari orang-orang yang sama yang menghasilkan "Wind of Change" dan "Still Loving You" (kecuali Scorpions punya penerus yang benar-benar mirip, seperti Led Zeppelin "punya" Greta Van Fleet).

Entah itu di balik gerobak seraya mengulek bumbu kacang atau menghadap laptop sembari kesakitan menahan low back pain karena kelamaan duduk, manusia yang sedang bekerja akan mendengarkan musik selama ada kesempatan. Fenomena dunia musik dan internet seperti "lofi hiphop radio - beats to relax/study to", misalnya, selalu disetel puluhan ribu orang pada jam berapa pun.

Berbagai studi menunjukkan mendengarkan musik membantu kita fokus dan meluputkan semua hal di luar kerjaan. Dalam hal ini musik membantu sebagian orang menjadi produktif yang tentu disukai para bos.

Tapi ia juga barangkali dibenci para bos jika digunakan sebagai sarana protes. Ia menyatukan massa dan tentunya menjadi sarana keluh kesah. We're the first ones to starve, we're the first ones to die, seru Dropkick Murphys dalam "Worker's Song". Kita, para pekerja, adalah yang pertama yang bakal mengalami kelaparan, bukan para bos. And we are the ones to bring them hell, amuk Kartika Jahja pada lagu Tika & The Dissidents soal hari buruh, "Mayday". Kita, para buruh, andai bersatu, bisa menghadirkan neraka untuk mereka yang berbuat sewenang-wenang.

Ringkasnya, musik dan pekerja selalu terkait satu sama lain. Bahkan, ada pula jenis-jenis musik yang kelahirannya dibidani para pekerja itu sendiri.

Dari Mulut Pekerja

Lagu-lagu kerja (work songs) terdiri dari dua kategori besar, menurut Britannica. Pertama, lagu-lagu protes seperti "Worker's Song" atau "Mayday"; kedua, "lagu-lagu yang digunakan sebagai iringan ritmis dalam mengerjakan sebuah tugas."

Sea shanty, yang iramanya menyesuaikan dengan berbagai kerja-kerja kolektif para awak kapal layar, merupakan contoh terbaik dari kategori kedua. Penerapannya fleksibel, bisa berubah-ubah dan berbeda untuk tiap jenis tugas. Lagu-lagu semacam ini biasa dinyanyikan dengan format call and response (pemimpin memulai, lalu diikuti para awak ketika lagu memasuki chorus).

Setelah pertama kali dinyanyikan para pelaut abad ke-19, sea shanty menemukan tempatnya lagi di dunia yang diterpa pandemi Covid-19 ketika dibawakan banyak orang di TikTok. Lagu-lagunya sekarang menembus kembali chart musik.


Format call and response juga ditemukan pada lagu-lagu kerja orang-orang Afrika-Amerika. Lagu-lagu kerja yang berangkat dari musik-musik folk orang kulit hitam ini terbentuk pada masa perbudakan di AS pada abad ke-18. Karena itu kadang ia juga disebut sebagai lagu-lagu budak (slave songs). Dengan sejarah kelam perbudakan, AS memang memiliki andil besar dalam melahirkan pelbagai macam lagu-lagu kerja. Library of Congress menulis "orang-orang Amerika telah mengembangkan lagu kerja untuk banyak pekerjaan, dari pekerjaan pertanian seperti memetik kapas hingga pekerjaan industri seperti membangun rel kereta."

Para penggembala sapi di wild west pun tak luput menghasilkan lagu-lagu macam ini. "Semua mawar punya durinya, seperti halnya koboi menyanyikan lagu-lagu sedihnya," nyanyi band glam rock Poison dalam tembang terpopuler mereka yang bukan main cheesy tapi kita sukai, "Every Rose Has Its Thorn". Kisah-kisah muram seperti perpisahan yang pahit, kematian, dan luka-luka akibat cinta bisa dibilang menjadi tema dominan pada balada-balada koboi yang musiknya berakar dari lagu-lagu folk Britania dan Meksiko.

Sebelum berkembang menjadi lagu yang sarat akan kepedihan pada musik western dan country, lagu-lagu kerja para koboi mulanya adalah suara-suara seperti gumaman, gerutu, dan sesekali teriakan yang digunakan untuk mengendalikan kawanan kuda atau sapi. Bebunyian sederhana ini lantas digabungkan menjadi lagu-lagu yang dinyanyikan agar hewan-hewan mereka tetap tenang.

Ketika rel-rel kereta mulai dibangun di wild west, lagu-lagu kerja menemukan bentuknya yang lain, industrial folk. Para pekerja menerapkan lagu-lagu itu layaknya sea shanty yang dinyanyikan sesuai ritme tugas. Kendati sama-sama mengusung nama industrial, industrial folk sungguh beda dengan musik industrial yang kita kenal saat ini, yang melekat pada band seperti Throbbing Gristle apalagi turunannya seperti industrial rock dan metal yang dimainkan band seperti Nine Inch Nails dan Godflesh.

Sebelum dinyanyikan para pekerja rel di benua seberang, industrial folk telah muncul ketika Revolusi Industri lahir di Britania Raya. Para pendendang sebenarnya hanya memindahkan balada dan lagu-lagu kerja agrikultural ke situasi kerja yang baru, di mana yang dihadapi bukan lagi tanah dan tanaman melainkan pembangkit listrik atau mesin uap yang bukan main bising.

Lagu-lagu industrial folk baru keluar sarang pada kebangkitan kedua musik folk abad ke-20 berkat nama-nama seperti Ewan MacColl, Peggy Seeger, hingga Woody Guthrie. Rumusnya kira-kira seperti ini: dari lagu-lagu rakyat (folk) + keluh-kesah pekerja atau modifikasi sesuai ritmik pekerjaan=musik baru.

Kembali lagi ke orang-orang Afro-Amerika, lagu-lagu folk tradisional yang dibawa para leluhur kala menyeberangi Atlantik bertransformasi menjadi lagu-lagu kerja entah itu kala berladang jagung atau bertani kapas. Lagu-lagu itu lantas dipadukan dengan, salah satunya, ragtime (jenis musik orang kulit hitam lainnya) dan menghasilkan salah satu jenis musik yang kelak melahirkan lebih banyak lagi genre: blues.

Tetapi blues dan beragam pengaruhnya adalah soal yang lain lagi. Kali ini kita campurkan dulu blues dan rock (yang notabene turun dari blues juga), lalu biarkan anak-anak muda kelas pekerja yang tumbuh mendengarkan dentam logam pabrik setiap hari mendefinisikan ulang semuanya.

Salah satu genre paling dirayakan di seluruh penjuru dunia, yang terus menghasilkan subgenre baru di mana rekaman-rekaman album dirilis tiap minggu kalau bukan tiap hari, muncul dari kombinasi itu. Sebuah genre yang namanya sesuai dengan karakteristik pula reputasinya: heavy metal.


Dari Pabrik Menjadi Musik

Bayangkan set muram kota industrial Birmingham seperti yang ditampilkan dalam seri Peaky Blinders, yang tak hanya puluhan tahun lebih maju namun juga terkoyak perang. Sebagai lokasi produksi persenjataan kala Perang Dunia II, kota terbesar kedua di Inggris itu menjadi sasaran serbuan udara pasukan Nazi, Luftwaffe.

Rob Halford kecil yang tumbuh melihat Birmingham hancur berupaya bangkit mengejar modernisasi setelah perang. "Kau berada di kelas, mencoba untuk belajar dan kau betul-betul bisa mendengar benturan palu logam dan kompresor, dan semua asapnya melayang ke dalam kelas. Buku-buku di meja bermentalan. Aku benar-benar menghirup logam itu ke paru-paruku--masuk ke darahku," tutur Rob Halford.

Orang itu memang bernapas metal. Dia biasa terlihat mengenakan kacamata hitam, jaket dan celana kulit penuh paku, dan mengenakan moge ke atas panggung. Dia vokalis salah satu pionir heavy metal, Judas Priest, yang tidak malu mengakui bahwa dirinya gay. Dan julukannya menggentarkan: Metal God.

Fondasi musik ini telah ditanam di kota yang sama beberapa tahun sebelum Judas Priest menyempurnakan sound heavy metal dan membuatnya benar-benar menjadi genre baru.

Ozzy Osbourne kecil tumbuh dan melihat Birmingham yang sama seperti yang dilihat Rob Halford. Memasuki akhir 1960-an, ketika dua anak itu tumbuh remaja, musik-musik hippie dan generasi bunga bermekaran. Mereka menyanyikan lagu-lagu perdamaian dan mengejar pencerahan spiritual lewat jalan darat menuju India.

Musik penuh imaji hidup yang rileks itu tentu tidak sesuai bagi Ozzy. "Bagi kami, itu (flower power) adalah omong kosong, tinggal di kota Birmingham yang suram dan tercemar. Kami sangat marah karenanya. Kami pikir, mari menakut-nakuti orang."

"Menakut-nakuti orang" versi Ozzy adalah membawa musik dari kondisi dunia yang sebenarnya, yang tercermin dari gitar dan drum yang keras, berat, dan pastinya penuh angkara. Tidak ada lirik penuh bunga, tiada pula utopia yang ditulis teman bandnya, Geezer Butler. Lirik-lirik yang bakal diteriakkan Ozzy itu soal perang, kematian, keterasingan, keputusasaan. Sementara drummer mereka, Bill Ward, selain berangkat dari rekaman-rekaman jazz, permainan perkusinya pun terpengaruh bebunyian pabrik-pabrik yang mengelilingi rumahnya di Birmingham.

Sedangkan sound gitar yang dihasilkan tangan-tangan mahir Tony Iommi berangkat dari kerja-kerja industrial di kota itu. Lebih akuratnya, dari kecelakaan kerja. Beberapa jari Iommi terputus kala bekerja di pabrik. Suatu waktu, ia harus menggantikan pekerjaan rekannya yakni memotong lembaran logam, yang sebelumnya sama sekali belum pernah ia lakukan. Benar-benar ide buruk dari siapa pun yang menugaskan dia.

Kita beruntung Iommi tahu satu-dua hal soal gitar. Kondisi jari-jari yang demikian menginspirasinya, atau memaksanya bermain gitar dengan cara berbeda, yang kelak menjadi sound pelopor lahirnya heavy metal.


Infografik Lagu Kerja
Infografik Lagu-Lagu Kerja. tirto.id/Fuad


Kelahiran grup keempat kawanan itu, Black Sabbath, turut ditandai sebagai hari lahirnya heavy metal. Secara umum, genre yang dilahirkan Sabbath dan Priest kelak dimainkan dan dimodifikasi ribuan orang di seluruh penjuru dunia, negara maju maupun berkembang, bahkan menembus Afganistan di bawah kekuasaan Taliban.

Pengaruh besar Black Sabbath bahkan melahirkan subgenre tersendiri, doom metal. Itu adalah ketika para band-band yang lahir di kemudian hari macam Pentagram, hingga dari generasi berikutnya macam Electric Wizard dan Yob, menyadari masih banyak yang bisa digali dan dikembangkan dari apa yang telah dibuat Ozzy dkk.

Menyetel doom metal saat bekerja mungkin menimbulkan efek yang baik bagi sebagian orang, tapi bikin ngantuk sebagian orang lain. Kerja-kerjamu bisa jadi tertunda lantaran kau memilih untuk tenggelam dalam musik macam ini. Kau juga dapat memilih mendengarkan variasi heavy metal lain: Scorpions yang memilukan, sea shanty yang memberi semangat, atau santai bersama "lo-fi hip-hop 24/7".

Atau kau bisa membuat lagu-lagu kerja baru yang terinspirasi dari ritmik ketikan laptop atau dari bunyi bumbu kala diulek. Lagu-lagu kerja kang toprak, lagu-lagu kerja desainer, lagu-lagu kerja akuntan, atau lagu-lagu apa lah yang terbentuk akibat menyetujui persyaratan "mampu bekerja di bawah tekanan".

Baca juga artikel terkait LAGU atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Musik)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Rio Apinino
DarkLight