Lagi, Tuberkulosis Hantui Eropa: Salah Imigran?

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 28 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Semua imigran, baik warga Eropa maupun non-Eropa, bisa jadi penyebar penyakit Tuberkulosis jika ia berkunjung atau tinggal di negara lain.
tirto.id - Kota Odessa terletak di bagian barat Ukraina. Selain jadi salah satu destinasi wisata paling populer di negara tersebut, Odessa juga disesaki oleh para imigran dari Asia hingga Afrika yang turut meningkatkan ekonomi lokal. Mahasiswa dari berbagai negara di Eropa juga menetap di sana. Sayang, sejak 2016, Odessa terancam oleh penyakit lama yang mewabah kembali: tuberkulosis (TB).

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyebar saat seseorang menghirup udara berbakteri hasil pernapasan penderita penyakit. Seperempat populasi dunia pernah terinfeksi, demikian menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan sepersepuluhnya jatuh sakit hingga ada kemungkinan meninggal.

Odessa menjadi kota dengan tingkat penyebaran TB tertinggi di Ukraina. Menurut catatan WHO, sejak dua tahun silam Ukraina menjadi salah satu negara dengan kasus TB terbanyak di Eropa. Pada 2016 tercatat ada 110 kasus per 100.000 penduduk Odessa dan hingga setahun berjalan peningkatan jumlah pasiennya di rumah sakit masih tergolong cepat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di antara para pengambil kebijakan.

Alexy Bobrik, misalnya. Petugas teknis WHO untuk urusan Human Immunodeficiency Virus (HIV), TB dan virus hepatitis di Ukraina itu menegaskan “Ukraina harus memberikan perhatian khusus pada TB karena ini adalah topik yang sangat sensitif untuk Eropa. Saya berbicara tentang keamanan global dan penularan TB melalui perbatasan (negara),” demikian sebagaimana dikutip Politico.

Mewabah Jauh Sebelum Gelombang Imigrasi Muncul

Perkembangan TB di Eropa bisa ditelusuri sejak Abad Pertengahan dan masa Renaisans. Di antara dua zaman tersebut, TB masih dianggap penyakit misterius dan telah menelan nyawa ribuan orang, terutama di kota-kota di Inggris. Beranjak ke abad ke-17 dan 18, TB masih jadi momok menakutkan terutama bagi para warga yang tinggal di daerah kumuh. TB memang lebih cepat berkembang biak dan menyebar di lingkungan yang tak dijaga kebersihannya.

Pada abad ke-19 mulai muncul kemajuan-kemajuan dalam upaya pengungkapan misteri TB, terutama dipelopori oleh ilmuwan Robert Koch yang mengenalkan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada tahun 1882. Setelah penemuan vaksin pertama oleh Albert Calmette dan Camille Guerin pada 1906, penyembuhan dan penanggulangan wabah TB makin digiatkan oleh masing-masing negara.

Setelah itu, angka kasus dan kematian akibat TB bisa lebih ditekan dan sosialisasi tentang pencegahan TB mulai lebih digiatkan oleh para pemangku kebijakan. Namun faktanya, TB tak pernah benar-benar musnah. Bak bom waktu, TB akan senantiasa muncul ke permukaan jika kondisinya mendukung. Kekhawatiran ini berubah jadi kenyataan pada era 1980-an ketika muncul persoalan baru: sebuah varian baru TB yang resisten terhadap obat.

Kasus TB di Inggris Raya pada 1913 mencapai 117.000 buah dan telah turun menjadi 5.000-an pada 1987. Kemunculan varian baru TB membuat angkanya naik menjadi 6.300 pada 2000 dan lima tahun berselang sudah mencapai 7.600 kasus. WHO merespon fenomena ini sejak jauh-jauh hari, tepatnya pada 1993 ketika mereka mendeklarasikan darurat kesehatan global.

Baca juga: Sebanyak 17,1 Juta Orang di Dunia Terkena Tuberkulosis


Kini kematian akibat TB di tingkat global mencapai setengah juta kasus per tahunnya, baik untuk kasus baru maupun hasil dari resisten multi-obat TB (TB-MDR). Kasus TB-MDR belakangan marak karena bakteri TB kian kuat bahkan bisa bertahan dari dua jenis obat penangkalnya: Ripampisin (R) dan Izoniasid (INH).

Beban Eropa atas kasus TBC sebenarnya termasuk yang terendah di dunia, tetapi jumlah kasus akibat TB MDR (Tuberkulosis Multi Drug Resistance) tercatat yang tertinggi di dunia. Artinya, meskipun terjadi penurunan yang stabil pada kasus baru TB hingga 50 persen sepanjang periode 2006-2015, TB tetap jadi ancaman utama bagi warga Benua Biru. Ini dikarenakan tingkat TB MDR mendorong epideminya ke tingkat yang paling mengkhawatirkan dibanding kawasan lain.

Pada 2015 ada 323.000 kasus TB dan merenggut nyawa 32.000 di antaranya. Artinya, tiap hari ada 900 orang yang jatuh sakit TB per harinya. Para korban kebanyakan tinggal di Eropa bagian tengah dan timur. Ada 18 negara yang menurut WHO punya prioritas tertinggi dalam pengendalian TB sebab menanggung 85 persen dari total kasus TB dan 99 persen dari kasus TB MDR.

Ke-18 negara tersebut meliputi Armenia, Azerbaijan, Belarus, Bulgaria, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kirgizstan, Latvia, Lituania , Republik Moldova, Rumania, Rusia, Tajikistan, Turki, Turkmenistan, Ukraina dan Uzbekistan.

Empat puluh lima persen kasus TB baru di Eropa menyerang generasi dalam usia paling produktif, yakni 25-44 tahun, sehingga berdampak pada ekonomi domestik dan kawasan. Anak di bawah usia 15 tahun mewakili sekitar 4 persen dari total pasien TB. Eropa punya proporsi kasus TB MDR tertinggi, baik yang baru maupun lama, yakni sebanyak 74.000 kasus.

Sebanyak 16 persen kasus baru TB dan 48 persen kasus yang telah diobati sebelumnya adalah jenis resistan TB MDR ini. Data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa menunjukkan kasus TB baru dan kematian yang diakibatkan olehnya di 53 negara Eropa turun 4,3 persen per tahun. Total penurunan sepanjang periode 2011-2015 sebesar 8,5 persen. Sayangnya, di periode yang sama, kasus penderitaan penyakit TB dan HIV dalam tubuh satu pasien naik 40 persen.

Menurut WHO koinfeksi antara TB dan HIV menyebabkan 400.000 kematian per tahunnya. Orang yang terkena HIV lebih rentan terkena TB sebab sistem kekebalan tubuhnya menurun drastis. Risiko kematiannya juga jadi berlipat-lipat kali lebih besar. Ahli kesehatan memperkirakan risiko kemunculan penyakit TB pada seorang penderita HIV lebih besar 26 hingga 31 kali dibanding non-penderita HIV.

Baca juga: Penderita TBC Indonesia Terbanyak Kedua Dunia Setelah India

infografik wabah tuberkulosis


Imigran Kulit Putih Juga Menyebar TBC

Beberapa pihak menyimpulkan gelombang imigrasi dari daerah yang dikoyak perang ke Eropa menjadi salah satu penyebab utama lahirnya kembali wabah TB. Misalnya Express, kanal online yang berbasis di Inggris, pada akhir Oktober 2015 memuat tajuk provokatif: “London adalah ibukota TB Eropa akibat migrasi besar-besaran dan kemiskinan.”

Media asal Swedia, Sverige, juga memberitakan pada Agustus 2016 ada empat pekerja di pusat suaka untuk anak-anak pengungsi yang dilaporkan telah terinfeksi oleh TB. Pusat kesehatan setempat menambahkan ada peningkatan infeksi TB yang mencolok akibat krisis imigran di Eropa. Sepanjang periode 2014-2015, klaim mereka, tercatat kenaikan jumlah kasus TB sebesar 22 persen.

WHO sendiri menyatakan bahwa migrasi manusia memiliki dampak besar pada penyebaran Tuberkulosis. Temuan yang dipaparkan dalam laporan Express dan Sverige juga bukan dikategorikan berita bohong mengingat fakta yang terjadi memang demikian (walaupun framing-nya tetap bisa dikritisi).

Namun sebenarnya, kejadian atau pola yang sebaliknya juga kerap terjadi. Artinya, kehadiran TB di berbagai tempat juga muncul sebagai dampak dari migrasi orang-orang kulit putih Eropa ke negara tersebut.

Dalam rilis WHO satu dekade silam, disebutkan bahwa “Orang-orang Eropa barat membawa TB ke Afrika tengah, selatan dan Asia tenggara dan kawasan Amerika, Hal ini mengakibatkan epidemi besar di wilayah-wilayah tersebut. Sementara kejadian TB telah menurun drastis di Eropa barat sejak tahun 1950-an, akan tetapi angkanya tetap tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah itu.”

Baca juga: Eropa Setelah Teror Brussel


Sejak 1980-an migrasi manusia telah mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut data yang dikutip WHO, sepuluh tahun yang lalu ada lebih dari 150 juta orang yang menjadi penduduk jangka panjang (long-term resident) di negara lain.

Sebagian besar migran melakukan perjalanan dari negara-negara yang tingkat TB-nya tinggi (lebih dari 40 kasus per 100.000 penduduk) ke negara-negara yang jumlahnya rendah (kurang dari 20 per 100.000). Mengingat tingkat TB negara atau kawasan itu dinamis (kadang tinggi, kadang rendah), maka bisa disimpulkan bahwa semua orang dari semua negara bisa jadi penyebar TB ke negara yang didatangi dan ditinggalinya. Semua orang, tanpa memandang warna kulit, bisa jadi pelaku.

Baca juga artikel terkait TUBERKULOSIS atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf