Kwame Nkrumah: Sang Pembebas yang Berujung 'Tangan Besi'

Ilustrasi Mozaik Kwame Nkrumah. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 27 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Kwame Nkrumah dikenal sebagai aktivis Pan Afrikanisme dan pembebas Ghana dari kolonialisme Inggris. Terpaksa hidup di luar negeri karena kudeta.
Jika ada tokoh Afrika lain yang dikenal oleh anak sekolah Indonesia selain Nelson Mandela, dia adalah Kwame Nkrumah. Namanya selalu disebut ketika mata pelajaran sejarah sampai pada bahasan Non-Aligned Movement alias Gerakan Non-Blok. Nkrumah adalah salah satu inisiator gerakan ini bersama Gamal Abdul Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), Josip Broz Tito (Yugoslavia), dan Sukarno.

Bukan sekali itu saja jalan hidup Perdana Menteri Ghana pertama ini bertaut dengan Indonesia. Semua diawali karena ia punya visi yang nisbi sama dengan Sukarno di masa itu: membabat imperialisme dan kolonialisme. Ketika berkunjung ke Ghana pada Mei 1961, Sukarno dan Nkrumah saling tukar pikiran soal rencana penyelenggaraan konferensi negara-negara Non Blok. Di luar itu, mereka berdiskusi soal nasionalisme dan masalah Irian Barat—topik yang tentu menarik hati Sukarno.

“Nkrumah mendukung seratus persen perjuangan Sukarno merebut kembali Irian Barat yang saat itu masih dikuasai Belanda,” tulis diplomat Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno (2017, hlm. 284).

Setelah bersama-sama menginisiasi Gerakan Non-Blok, dua pemimpin ini kian dekat dan saling dukung. Itu tampak, misalnya, ketika Nkrumah menerima dengan hangat misi muhibah Indonesia yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Subandrio pada medio 1965. Ganis Harsono menyebut misi yang disebut Safari Berdikari itu bertujuan menjajaki kemungkinan diadakannya konferensi negara-negara New Emerging Forces (Nefo).

Dalam enam minggu Safari Berdikari mengunjungi 14 negara Timur Tengah dan Afrika, di antaranya Ghana. Misi itu cukup sukses karena semua negara itu bersedia mendukung ide Sukarno, kecuali Sudan. Di antara nagara-negara pendukung itu, Ghana adalah yang paling antusias. Nkrumah—yang wafat pada 27 April 1972, tepat hari ini 48 tahun silam—setuju bahwa negara Nefo musti bersatu dan tak boleh bergantung pada dua adidaya belaka.

Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno (1989, hlm. 197), mengutip tanggapan Nkrumah saat itu: “Perang nuklir takkan pernah terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bahkan sebaliknya, di antara mereka telah terjalin koeksistensi damai. Dan tidak mustahil bahwa kedua raksasa ini akan bersekongkol untuk mengahadapi kita.”

Siapa sangka, kedua tokoh itu tak hanya punya kesamaan visi, tapi juga nasib. Keduanya sama-sama digulingkan dari tampuk kekuasaannya melalui kudeta militer.

Kemerdekaan Ghana dan Pan Afrikanisme


Francis Nwia Kofi Nkrumah lahir pada 21 September 1909 di kawasan perdesaan Nkoful, Gold Coast, atau yang kini dikenal sebagai Ghana. Setelah menamatkan pendidikannya pada 1930, Nkrumah memulai kariernya sebagai guru di sekolah-sekolah menengah Katolik dan seminari lokal. Sambil jadi guru, Nkrumah mengembangkan perhatiannya pada politik dan mulai berkenalan dengan ideologi serta gerakan antikolonial.

Nkrumah tak lama menekuni profesinya jadi guru. Pada 1935, ia merantau ke Amerika Serikat untuk menempuh studi pascasarjananya. Lain itu ia juga rajin ikut kursus-kursus sosiologi, teologi, dan filsafat. Di masa studi ini pula Nkrumah berkenalan dengan ide-ide perlawanan Pan-Afrikanisme, nasionalisme kulit hitam, dan literatur Marxisme.

“Selama tinggal di Amerika Serikat ia membenamkan diri mempelajari teori-teori politik Karl Marx, Vladimir Lenin, dan Marcus Garvey. Teori-teori ini, terutama Marxisme-Leninisme, sangat mempengaruhi pilihan intelektual dan ideologisnya,” tulis Akwasi Kwarteng Amoako-Gyampah, pengajar sejarah di University of Education, Ghana, di laman The Converstion.

Pada 1947 Nkrumah ikut menyelenggarakan Kongres Pan Afrika kelima yang diselenggarakan di Manchester, Inggris. Sejak itu reputasinya kian naik dan kian dekat dengan tokoh-tokoh Afrika yang sevisi perihal kemerdekaan Afrika. Nkrumah percaya betul bahwa kolonialisme Eropa di Afrika dapat ditamatkan jika masyarakat Afrika bersatu secara politik dan ekonomi. Di masa ini pula gerakan kemerdekaan Afrika mulai berdenyut di benua itu, setelah beberapa dekade santer dikampanyekan di Amerika.

Nkrumah lantas pulang kampung ke Gold Coast dan terlibat aktif dalam gerakan kemerdekaan. Ensiklopedia Britannica menyebut ia mulanya ditunjuk jadi sekretaris jenderal United Gold Coast Convention (UGCC). Pada Juni 1949, ia mendirikan Convention People’s Party (CPP). Partai itu punya program tegas mengusahakan pemerintahan sendiri untuk Ghana.

Gara-gara kampanye kemerdekaannya, Nkrumah sempat dipenjara oleh pemerintah kolonial Inggris. Meski begitu, CPP meraih kemenangan dalam pemilu 1951 dan Nkrumah pun dibebaskan. Setahun kemudian parlemen menunjuk Nkrumah untuk jabatan perdana menteri. Puncak kesuksesan Nkrumah adalah keberhasilannya mengantarkan Ghana kepada kemerdekaannya pada 1957.

Meski begitu, komitmen Nkrumah pada gerakan Pan Afrikanisme tak kendur juga. Nkrumah tetap memacak ambisi politik yang lebih besar untuk membantu kemerdekaan total benua Afrika. Maka itu, pada 1958, Nkrumah mensponsori konferensi All African Peoples Organization di Accra yang dihadiri delegasi Ethiopia, Liberia, Mesir, Maroko, Tunisia, dan Libya.

“Dalam konferensi tersebut, negara yang hadir membicarakan masalah antikolonialisme, rasisme, perjuangan kaum nasionalis di Afrika Selatan dan Aljazair, serta problem dalam mencapai persatuan Afrika. Menurut Nkrumah, yang membuat negara-negara Afrika tersebut berkumpul di Accra bukanlah kebudayaan atau pun bahasa melainkan kesamaan cita-cita terhadap kemerdekaan Afrika,” Wildan Sena Utama dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 (2017, hlm. 164-165).


Warisan yang Diperdebatkan


Pada 1950an dan 1960an, Nkrumah telah menjelma sebagai negarawan Afrika yang paling terkemuka. Pengaruhnya di Afrika, kata banyak pengamat, sudah setara Mahatma Gandhi, Lenin, atau Mao Zedong. Terlebih ia aktif dalam berbagai forum internasional. Selain konferensi All African Peoples Organization, namanya juga menjulang dalam KTT Non Blok pertama di Beograd, Yugoslavia, pada 1961.

Nkrumah, bersama Sukarno, dengan lantang mengajak negara-negara peserta menjadikan imperialisme dan kolinialisme sebagai musuh nomor satu yang musti dilenyapkan. Bagi Sukarno, perdamaian dunia dan tatanan dunia yang berkeadilan tak mungkin terwujud jika dua momok itu masih eksis.

“Nkrumah berbicara lebih tajam lagi dengan menyatakan bahwa problem pelucutan senjata adalah prioritas kedua di bawah kolonialisme. Sukarno dan Nkrumah mendapatkan respons antusias dari peserta setelah menyelesaikan pidatonya,” tulis Wildan (hlm. 188).

Di kawasan Afrika, Nkrumah kian vokal menyerukan pembebasan benua melalui gerakan massa yang egaliter. Ia sangat percaya pada sosialisme dan mengajak bangsa-bangsa Afrika bersatu dalam model pemerintahan dan ekonomi sosialis. Sementara di Ghana, ia bersama penasehatnya, George Padmore, merancang ideologi Nkrumaisme yang bersandar pada nasionalisme kulit hitam, pan-Afrika, Marxisme, non-kekerasan, kebijakan luar negeri yang netral.

“Nkrumaisme menyerukan pembebasan benua melalui gerakan-gerakan nasionalis berbasis massa tanpa merujuk pada etnis, suku dan agama. Ia menyeru agar bangsa-bangsa yang baru merdeka bersatu di bawah satu bendera. Ia juga menyerukan pembangunan benua melalui ekonomi terencana sosialis,” tulis Matteo Grilli dari University of the Free State, Bloemfontein (South Africa), dalam artikelnya di laman The Conversation.

Namun begitu, jalan hidup Nkrumah laiknya dua sisi mata uang. segala reputasi internasional yang mentereng itu seakan tak ada gaungnya di negerinya sendiri. Bagi sekalangan oposisinya, ide Pan Afrikanisme adalah impian yang tak realistis. Di mata mereka, ide itu lebih tampak sebagai kecenderungan Nkrumah untuk menjadi diktator. Dianggap sebagai pembebas di dunia internasional, Nkrumah justru memerintah dengan tangan besi di negeri sendiri.

Kecenderungan itu mulai tampak ketika Nkrumah mengesahkan aturan penjara tanpa pengadilan bagi kelompok yang dianggap mengganggu keamanan pada 1958. Lalu pada 1960, ia memegang kendali pemerintahan dan parlemen dengan menerbitkan konstitusi baru. Saat itu Ghana berubah jadi negara republik dan Nkrumah menjabat sebagai presiden sekaligus perdana menteri.

Gaya politiknya yang keras diimbangi dengan kebijakan-kebijakan populis agar rakyat tetap setia padanya. Ia menggalakkan pembangunan infrastruktur, industri, sekolah, hingga fasilitas kesehatan. Namun, kebijakannya itu justru membawa Ghana jatuh dalam krisis ekonomi karena utang luar negeri yang kelewat besar. Pemerintahannya pun diduga dikotori skandal korupsi.

Gara-gara kepemimpinannya yang tak beres itu pula, Nkrumah beberapa kali mengalami ancaman pembunuhan. Ketidakpuasan terhadapnya kian menjadi kala ia diangkat jadi presiden seumur hidup. Di tengah karut marut negara Nkrumah justru sibuk menggelar pendidikan indoktrinasi dan utopia Pan Afrika. Puncaknya, Nkrumah harus menelan kenyataan ia dikudeta oleh militer pada 1966.

Ensiklopedia Britannica menulis, “Pada 24 Februari 1966, ketika Nkrumah mengunjungi Beijing, kelompok militer dan polisi Ghana merebut kekuasaannya. Setelah itu Nkrumah mendapat suaka di Guinea dan menghabiskan sisa hidupnya di sana. Dia meninggal karena kanker di Bukares pada tahun 1972.”

Baca juga artikel terkait GERAKAN NON BLOK atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight