Menuju konten utama

Kurs Rupiah Diprediksi Rp14.600-Rp14.725 Per Dolar AS Pekan Ini

CSA Research Institute Reza Priyambada memproyeksikan mata uang rupiah pada pekan ini bakal berada di kisaran Rp14.600 hingga Rp14.725 per dolar AS.

Kurs Rupiah Diprediksi Rp14.600-Rp14.725 Per Dolar AS Pekan Ini
Ilustrasi petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

tirto.id - Nilai tukar rupiah tercatat berada di posisi Rp14.741 per dolar AS pada Senin (12/11/2018) pagi. Rupiah menunjukkan pelemahan mengingat posisinya pada penutupan Jumat (9/11/2018) lalu berada di Rp14.677 per dolar AS.

Mengacu pada pergerakannya sampai dengan saat ini, mata uang rupiah tercatat melemah hingga 0,41 persen. Sejumlah mata uang negara lain pun ikut mengalami pelemahan. Kendati demikian, tingkat pelemahannya tidak sebesar yang ditunjukkan rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang won melemah 0,18 persen, peso Filipina melemah 0,16 persen, mata uang ringgit melemah 0,14 persen, yen Jepang melemah 0,13 persen, dan mata uang baht melemah 0,05 persen.

Meski menunjukkan pelemahan namun analis senior dari CSA Research Institute Reza Priyambada memproyeksikan mata uang rupiah pada pekan ini bakal berada di kisaran Rp14.600 hingga Rp14.725 per dolar AS. Laju pergerakannya sendiri akan cenderung konsolidasi mengingat masih ada sentimen yang dinantikan para pelaku pasar.

Lebih lanjut, Reza menilai pergerakan laju mata uang rupiah pada pekan ini juga masih akan dipengaruhi imbas dari sentimen pada pekan lalu. Salah satunya terkait dengan rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) sebelum akhir tahun ini.

“Tapi kalau belum ada sentimen negatif banget, tidak akan sampai ke Rp15.000 per dolar AS. Masi terbilang aman,” kata Reza kepada Tirto pada Senin (12/11/2018).

Oleh karena kenaikan suku bunga The Fed yang tidak bisa dihindari, Reza menyebutkan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah bisa memanfaatkan momentum tren penguatan rupiah yang tengah berlangsung.

Untuk BI misalnya, Reza mengatakan pemanfaatan momentum bisa dilakukan dengan mendorong agar penggunaan instrumen bisa dilakukan dalam mata uang rupiah. Sedangkan bagi pemerintah, dinilai masih perlu menyiapkan langkah-langkah konkret guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

“Tentu kalau pelaku pasar melihat adanya sentimen yang negatif, maka mereka pun akan langsung meresponsnya,” ujar Reza.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR atau tulisan lainnya dari Damianus Andreas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Yantina Debora