Kurban Iduladha Keluarga Cendana & Peternakan Tapos Milik Soeharto

Formasi hampir lengkap daripada Keluarga Cendana. AP Photo
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 31 Juli 2020
Dibaca Normal 4 menit
Peternakan Tapos merupakan asal sapi-sapi kurban Keluarga Cendana. Sempat redup setelah Soeharto lengser.
Semasa masih menjabat sebagai kepala negara, Soeharto biasa melaksanakan salat Iduladha di Masjid Istiqlal, Jakarta. Setelah salat id dan khotbah, agenda Soeharto diisi dengan seremoni penyerahan sapi kurban ke pihak masjid. Kebiasaan ini terus ia lakukan hingga lengser pada 1998.

Setelah Soeharto meninggal, Keluarga Cendana tetap meneruskan kurban rutin ini. Hanya saja, kini wangsa Soeharto selalu berkurban di Masjid Agung Attin di bilangan TMII, Jakarta Timur. Mulai dibangun pada 1997, Attin ini laiknya masjid pribadi bagi Keluarga Cendana dan sebagai cara mereka mengenang Tien Soeharto. Keluarga Cendana rutin berkurban puluhan ekor sapi di masjid ini setiap tahun.

Lain itu, Bambang Trihatmojo—putra ketiga Soeharto, juga dikabarkan rutin berkurban di beberapa masjid di Purwokerto. Mayangsari, istri Bambang, diketahui adalah putri dalang terkenal di sana. Pada 2018, misalnya, Bambang menyalurkan sapi kurban ke Masjid Agung Baitussalam (MAB). Kurban dari Bambang biasanya diatasnamakan almarhum Soeharto dan Ibu Tien, orang tua Mayangsari, juga Bambang sendiri beserta keluarganya.

“Bisa dikatakan rutin tiap tahun. Kecuali tahun tertentu, mungkin di tepat lain,” kata Ketua Panitia Kurban MAB Samingan seperti dikutip laman Gatra.

Sebagaimana citra Keluarga Cendana, sapi kurbannya juga termasuk jumbo. Paling tidak berbobot kisaran 500 kilogram. Di Masjid Attin, dengan jumlah 20 sampai 25 ekor, panitia kurbannya bisa membagikan minimal 2.000 bungkus daging untuk masyarakat sekitarnya.

Dari mana sapi-
sapi kurban kualitas top itu? Asalnya tak lain adalah peternakan Tri S Ranch Tapos atau lebih sering disebut Peternakan Tapos. Peternakan sapi itu merupakan peninggalan mendiang Soeharto.

Mimpi Soeharto

Peternakan Tapos boleh dikatakan adalah situs legendaris peninggalan Soeharto. Pada masa Orde Baru peternakan ini termasuk yang paling modern di Indonesia. Peternakan yang terletak di lereng Gunung Gede-Pangrango ini jadi wahana Soeharto mewujudkan renjananya pada bidang peternakan dan pertanian.

Sebelum mewujud jadi peternakan, Laman Detik X menyebut bahwa di zaman kolonial itu adalah lahan perkebunan kina milik N.V. Cultuur Maatschappij Pondok Gedeh. Lahan tersebut lalu berpindah tangan ke Perusahaan Negara Perkebunan XI saat terjadi nasionalisasi perusahaan Belanda pada akhir 1957.


Versi lain dari Kompas (20/7/1998) menyebut, lahan itu sempat terbengkalai di masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, lahan yang sekarang masuk wilayah Desa Cibedug, Ciawi, Bogor itu digarap oleh warga sekitar. Mereka memanfaatkannya untuk bertanam padi gogo, jagung, singkong, pisang, nanas, hingga sayuran.

"Saat itu rakyat sini benar-benar makmur. Pokoknya sebelum tanah kami diambil proyek tidak ada rakyat yang kekurangan pangan" kata Nawi, seorang warga sepuh asli Cibedug sebagaimana dikutip Kompas.

Kemakmuran itu sirna ketika Soeharto mulai melirik lahan itu untuk mewujudkan peternakan impiannya. Berkebalikan dengan Nawi, orang kuat Orde Baru itu melihat lahan itu tak terurus. Ia mengaku meminta izin kepada Gubernur Jawa Barat Solihin GP untuk merombaknya jadi peternakan. Soeharto lalu memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) dari PN Perkebunan XI.

Sekira 1971 lahan bekas perkebunan kina itu dirambahnya. Kontur tanahnya yang berjurang-jurang sebenarnya cukup menyulitkan untuk digarap.

“Tapi justru saya memilih tempat yang tidak baik ini, sebab kalau memilih tempat yang baik seni-nya tidak ada. Memilih tempat yang kurang baik saja, sudah ada isyunya. Tapi ini saya buktikan, justru tempat yang kurang baik kalau diusahakan bisa akan memenuhi sasaran,” kilah Soeharto sebagaimana tersua dalam Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita VIII (2008) dan dikutip laman soeharto.co.

Pada 1985 Soeharto mengatakan kepada publik bahwa Peternakan Tapos dibangun untuk tujuan riset peternakan. Soeharto juga ingin menjadikannya sebagai pusat penghasil ternak unggulan dan percontohan peternakan modern di Indonesia. Meskipun begitu, ia tak menampik bahwa peternakan itu adalah ruang privatnya.

“Pertama-tama bagi saya sendiri pribadi dan anak-anak untuk belajar mempraktekkan teori yang kita ketahui mengenai peternakan. [...] Bagi saya sendiri sekaligus merupakan rekreasi yang murah tanpa pergi kemana-mana tapi rekreasi yang sekaligus memperoleh manfaat dari pada peternakan,” katanya.



Kabar Burung Istana Soeharto

Sebelum Peternakan Tapos resmi didirikan, pada 1973 terbentuklah PT Rejo Sari Bumi (RSB). Perusahaan yang dipimpin Sigit Harjojudanto, putra kedua Soeharto, itu dibikin khusus untuk mengelola Peternakan Tapos. RSB pula yang kemudian dilimpahi HGU-nya.

Pada 1974 Peternakan Tapos menguasai lahan seluas 750 hektar. Selain membangun kandang sapi, peternakan ini juga memiliki kebun hidroponik, kebun teh, kebun rumput gajah, hingga sarana produksi pakan ternak. Seturut catatan Kompas (20/2/2017), di peternakan ini pula varietas sapi Brangus yang merupakan persilangan sapi lokal dan sapi Bahman dari Australia pertama kali dibiakkan. Sapi ini termasuk bibit unggul karena berat sapi dewasanya bisa mencapai 2-3 ton.

Peternakan Tapos merupakan salah satu tempat kesayangan Soeharto. Ia rajin mengunjunginya. Bahkan, sampai beredar isu bahwa Soeharto membangun istana megah di sana.

Selain sebagai tempat klangenan, Peternakan Tapos juga kerap dipakai Soeharto untuk menjamu tamu penting. Tak hanya tamu dalam negeri, tapi juga kepala negara sahabat. Salah satu kepala negara yang pernah dijamu Soeharto di sana adalah Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher.

Kunjungan itu terjadi pada 5 Desember 1992. Dengan didampingi Menristek B.J. Habibie, Soeharto mengajak Thatcher meninjau sekira 800 ekor sapi dan 1.700 ekor domba di peternakan itu. Inilah momen ketika Soeharto unjuk gigi kepada Thatcher tentang renjana dan wawasannya soal peternakan.

Kepada Iron Lady itu Soeharto mengatakan bahwa Peternakan Tapos adalah bagian dari pembangunan nasional bidang peternakan. Di Indonesia bidang peternakan perlu mendapat perhatian karena dianggap belum maju. Karena itulah Peternakan Tapos ia maksudkan untuk menambal celah itu. Salah satu caranya adalah dengan pembiakan bibit sapi unggul.

“Dengan menggunakan bibit unggul, kata Presiden, bisa didapatkan seekor sapi dengan berat badan 450 kilogram dalam waktu dua tahun. Presiden lantas secara rinci menjelaskan bagaimana cara mendapat bibit unggul itu, antara lain dengan sistem silang. Dari sini Presiden masuk dalam uraiannya mengenai pengembangan peternakan di Tapos yang kemudian disebarkan ke seluruh Indonesia,” lapor Kompas (7/12/1992).

Selain kerap mengundang tamu-tamu negara, Soeharto juga pernah meninjau Tapos beserta 114 kader KNPI peserta penataran P4. Dan di peternakan itulah ia untuk pertama kalinya membolehkan mempelajari komunisme, sesuatu yang amat ditakuti di zamannya.

“Ideologi lain itu dipelajari sebagai bahan perbandingan,” ujar Pak Harto kepada para pemuda seperti dilansir Tempo (26/8/1989) dalam artikel bertajuk “Dipelajari Boleh, Disebarkan Jangan”.

Ramadhan K.H., penyusun autobiografi Soeharto: Pikiran, Tindakan, dan Ucapan Saya (1988), dalam “Mengenang Buku dari Jalan Cendana” yang dihimpun dalam Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard (2011), juga mengungkapkan bahwa proses wawancara dengan Soeharto untuk penulisan buku tersebut salah satunya dilakukan di Tapos. Dalam autobiografi itulah Soeharto menjawab pelbagai kecurigaan pihak luar terhadap Peternakan Tapos.

“Ada yang mengkhayal, seolah Tapos itu ada istana, kolam renang, tempat angker. Padahal, yang ada kandang sapi, serta sapi-sapinya,” tuturnya.

Setelah Soeharto lengser, Peternakan Tapos pun mulai terbengkalai. Penduduk menyerbu hingga hampir terjadi bentrokan dengan petugas keamanan PT Sari Rejo Bumi yang mengusai lahan tersebut.

Menurut H. Yanwar, petugas yang bekerja di Tapos, kini peternakan tersebut diurus untuk sekadar bertahan dengan memelihara sapi perah.

“Sejak reformasi, kami sulit bergerak. Jadi, keluarga mempertahankan peternakan ini sebagai kesenangan atau hobi keluarga […] Salah seorang cucu Pak Harto, kami lihat ada yang memiliki hasrat di bidang peternakan dan pertanian seperti kakeknya,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait IDULADHA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight