Miroso

Kupang Lontong di Antara Suka dan Benci

Penulis: Nuran Wibisono, tirto.id - 7 Agu 2022 12:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kupang lontong adalah makanan khas dari Sidoarjo yang banyak ditemukan di daerah Jawa Timur lain.
tirto.id - Ada jam sakral di hari-hari libur yang panjang sebagai seorang siswa SMP. Itu adalah jam selepas makan siang, jelang sore. Semua piring lauk sudah dibersihkan. Meja makan kosong, kecuali bakul isi sisa nasi, beberapa keping kerupuk, botol kecap Cap Orang Jual Sate, dan saos sambal ekstra pedas.

Tapi perut sudah melantunkan orkestra keroncong lagi usai berenang di sungai, dan saya terlalu malas untuk memasak mie instan.

Di saat itulah penyelamat tiba. Dengan mengendarai gerobak pancal, suara sendok yang diadu dengan piring terdengar merdu.Ting, ting, ting! Tiga kali denting. Saya hapal suara khas itu.

“Kupang, kupang!”

Tak perlu dikomando, kami, anak-anak piyik penghuni rumah bernomor 99 itu berhamburan keluar membawa piring masing-masing. Orangtua kami ikut keluar, mencomot satu dua tusuk sate kerang. Kami semua kemudian melantukan pesanan masing-masing. Punya saya: ekstra pedas!

Bapak penjual kupang masih terbilang muda, baru akhir 30an, dan sayangnya saya lupa namanya. Cara membuat kupang lontongnya khas. Alih-alih memakai ulekan, dia akan menaruh cabai dan bawang putih di piring, lalu menguleknya di sana. Suara ulegan dari kayu yang bertumbuk dengan permukaan piring, bikin perasaan bergidik yang aneh.

Setelahnya baru si Bapak kupang akan menaruh petis yang hitam pekat, kemudian mengguyurnya dengan kaldu kupang yang panas, menaburkan bawang putih goreng, dan memberinya lentho srawut, gorengan yang terbuat dari singkong goreng serut.

Setelah semua dapat pesanan, ayah akan membayar totalnya, dan kami akan menyantap kupang lontong ramai-ramai di teras depan sembari ngobrol tanpa juntrungan hingga sore benar-benar datang, dan para kawan keluar dari rumah masing-masing sembari meneriakkan ajakan untuk main sepak bola.


***

Kupang lontong, juga dikenal sebagai lontong kupang, adalah makanan khas dari Sidoarjo, Jawa Timur. Posisinya unik karena bisa dibilang ia cukup underated. Secara popularitas, ia jelas tak sepopuler rawon, rujak cingur, pecel, bahkan tahu telur sekalipun.

Secara pembuatan dan rasa, ia masuk dalam golongan hidangan acquired taste. Tak semua orang bisa suka hidangan ini. Biasanya, makanan yang masuk dalam kategori ini akan membelah orang jadi dua: suka atau benci. Tak ada yang di tengah, nihil area abu-abu.

Dari ngobrol dengan beberapa orang kawan yang tak suka hidangan ini, setidaknya ada beberapa faktor yang bikin mereka menggelengkan kepala tiap ditawari kupang lontong.

Pertama: perpaduan antara kupang putih (Corbula faba) yang berukuran kecil dan bertekstur sedikit kasar, dengan kuah kupang yang berpadu dengan petis dan bawang putih dalam jumlah banyak. Petis sendiri, dengan aroma dan rasa yang tajam, sudah masuk dalam bahan makanan yang tak semua orang suka.

Kedua, sejak dulu, ada semacam mitos tentang habitat kupang yang dianggap tak bersih. Ini bikin orang luar Jawa Timur seringkali skeptis untuk sekadar mencicipi kupang lontong.

Namun kupang memberikan hal lain: spektrum rasa yang lebar dan unik.

Infografik Miroso Kupang Lontong
Infografik Miroso Rasa Jawa Timur dalam Kupang Lontong. tirto.id/Tino


Jika kebanyakan makanan Jawa Timur bisa ditebak rasanya —gurih, asin, dan mungkin sedikit manis— maka kupang bisa menghadirkan rasa yang luas. Jika ingin masam, bisa campurkan kecrutan jeruk nipis. Maka ada rasa asam segar di piring kupangmu. Kalau ingin rasa strong, tambahkan ekstra bawang putih dan bawang putih goreng. Maka ia hadir sebagai hidangan dengan rasa bawang putih kuat, satu jejer dengan pi oh atau soto Kudus.

Saya pernah mengajak dua kawan saya, penyair Beni Satrio dan pekerja media Fifa Chazali, untuk makan kupang lontong. Saya agak was-was sebenarnya, takut mereka tak suka. Ternyata ketakutan saya tak beralasan. Mereka doyan. Alasannya: rasanya unik.

"Kuah kaldunya rasanya nano-nano!" kata mereka.

Di Jawa Timur, termasuk di dua kota tempat saya tumbuh besar, Jember dan Lumajang, menemukan kupang lontong adalah perkara sepele. Namun beda kasus ketika saya harus pindah ke Yogyakarta circa 2011, lalu migrasi ke Jakarta pada 2014. Kupang lontong serupa populasi badak bercula satu.

Hingga suatu ketika, di akhir tahun 2014, saya sedang iseng melintas di depan kantor pos Fatmawati. Jakarta malam hari seperti biasa, perpaduan macet dan gerah. Ini bikin saya ingin segera mengemasi tas dan pulang menuju timur. Ditambah, saya belum bisa benar-benar beradaptasi di kota ini.

Dari depan kantor pos, saya melihat tulisan di spanduk warung tenda bernama Pawon Memez: kupang lontong. Saya kaget sekaligus bersorak dalam hati. Kupang lontong!

Tak perlu pikir panjang, saya langsung pesan. Ekstra pedas. Plus 10 tusuk sate kerang, dan sinom (!) Sama seperti kupang, sinom yang terbuat dari daun asam Jawa berusia muda, juga termasuk minuman yang sulit dicari di Jakarta, kalah dengan saudara tuanya: kunyit asam.

Malam itu, kerinduan terhadap kampung halaman sedikit terobati. Kupang lontongnya medok, sama seperti yang biasa saya makan di Jawa Timur. Kuahnya gurih. Petisnya juga top, dengan aroma dan rasa laut yang kuat.

Saya lantas menyimpan nomor pemiliknya, pria usia 40-an yang akrab dipanggil Arry Bhogenk. Ini trik yang selalu saya pakai kalau menemukan makanan enak di pinggir jalan. Jakarta adalah kota yang tak tertebak. Warung enak di trotoar yang kamu temukan hari ini, belum tentu ada di tempat yang sama beberapa bulan kemudian.

Dari Mas Arry juga saya tahu kalau kaldu kupang mereka unik: menggunakan air kelapa muda. Biasanya, kupang lontong memang nyaris selalu berpasangan dengan kelapa muda. Ini untuk jaga-jaga jika seseorang ternyata punya alergi kupang.

“Tapi karena dulu di tempat jualan kami ada yang jual kelapa muda, jadi kami mengakali kelapa mudanya dipakai untuk merebus kupang. Ternyata orang-orang juga suka,” ujar Arry.


Di Pawon Memez, nyaris semua bahan baku inti didatangkan langsung dari Sidoarjo dan Surabaya. Kupang dibeli di sebuah desa penghasil kupang, lalu diterbangkan ke Jakarta. Setiap bulan, mereka bisa menghabiskan 20-30 kilogram kupang dan petis kupang. Begitu juga dengan makanan langka lain, seperti daun semanggi, yang diimpor langsung dari Surabaya.

Pawon Memez sendiri mengalami beberapa kali pindah tempat. Selepas dari pelataran Kantor Pos Fatmawati, mereka pindah ke Cipete Raya. Lalu pindah ke Jalan Fatmawati, kemudian pindah ke rumahnya. Sekarang mereka kembali berjualan di bilangan Jalan Manggis Raya, Cinere.

Malam itu saya pulang dengan perut kenyang dan hati senang. Walau ya tetap sedikit melankolis, mengingat usai makan kupang lontong tak ada lagi panggilan bermain sepak bola dari kawan-kawan masa kecil. []

Baca juga artikel terkait MIROSO atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight