Kumpulan Puisi tentang Muhammadiyah untuk Rayakan Milad ke-110

Penulis: Maria Ulfa, tirto.id - 17 Nov 2022 11:05 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Berikut ini adalah kumpulan puisi tentang Muhammadiyah untuk merayakan milad yang ke-110 pada tahun 2022.
tirto.id - Membuat puisi tentang Muhammadiyah biasanya menjadi salah satu cara untuk memperingati milad organisasi tersebut yang dilakukan setiap tanggal 18 November.

Tahun ini, organisasi Muhammadiyah sudah menginjak usia 110 tahun sejak berdirinya pada 18 November 1912.

Saat itu, pengajuan pengesahan Muhammadiyah dilakukan pada 20 Desember 1912 dengan mengirim Statuten Muhammadiyah (Anggaran Dasar Muhammadiyah). Gubernur Jenderal Belanda mengesahkannya pada 22 Agustus 1914.


Sementara itu, puisi tentang Muhammadiyah biasanya ditulis oleh beberapa anggota sebagai bentuk syukur atas rahmat yang telah berikan Allah untuk organisasi tersebut. Selain itu, puisi tersebut juga berisi tentang pujian-pujian kepada organisasi Muhammadiyah.

Kumpulan Puisi tentang Muhammadiyah


Berikut ini adalah kumpulan puisi tentang Muhammadiyah untuk merayakan milad yang ke-110 pada tahun 2022 yang dirangkum dari beberap sumber:

1. 107 Tahun Muhammadiyah

Puisi berjudul 107 Tahun Muhammadiyah ditulis oleh Ahmad Zia Khakim pada 2019 dan dirilis di laman resmi PWM Jateng:

Muhammadiyah Organisaku
Muhammdiyah Gerakan islamku
Muhammadiyah tetap menjadi Surya
Muhammadiyah Menyinari Bumi menghangatkan semua ciptaaNYA

Muhammadiyah Amal Ikhlas tanpa Pamrih

Muhammdiyah Gerakan Pembaharuan sejati
Muhammadiyah setia menemani umat
Muhammadiyah satu kata dengan tindakan

Muhammdiyah tidak haus jabatan
Muhammadiyah adalah Pendidikan
Muhammadiyah adalah Amal Sosial
Muhammadiyah adalah kesehatan
Muhammadiyah bukan Korporasi

Muhammadiyah bukanlah Agama
Muhammadiyah adalah Ajaran adi luhung
Muhammadiyah bukanlah sekedar komunitas Islam
Muhammadiyah memandu umat untuk terus maju, tanpa meninggalkan Agama.

Muhammadiyah Mendidik kader-kader Bangsa tanpa pandang bulu.

Muhammadiyah bukanlah negara
Muhamamdiyah bukanlah Kyai dahlan
Muhammadiyah juga bukanlah Nyai Walidah atau ‘Aisyiyah

Muhammadiyah adalah Mengikuti Ajaran Nabiyuna Muhammad SAW.

Muhammadiyah tak suka sembrono
Muhammadiyah bukanlah Partai Politik

Muhammadiyah bukanlah kumpulan intelektual murni
Muhammadiyah bukanlah kumpulan Agamawan yang terpandang,

akan tetapi Muhammadiyah adalah mengajak siapa saja tanpa pandang bulu, untuk berAgama yang baik Amar ma’ruf Nahi mungkar,

Muhammdiyah poenya banyak kekurangan
Muhammadiyah akan terus berbuat dan Memberi Negeri menyinari Semesta.
Al Yadul Ulya Khoirun Min yadisufla.

Mari Berkidmat Bersama Muhammadiyah

Aku yakin seribu yakin Muhammadiyah akan bertahan Satu Jam Sebelum Kiamat datang, jadi bukan hanya
100-1000-5000 tahun Mimpi Adanya Muhammadiyah
tapi Hingga Kiamat datang.
Bi Idznillah.
Mari Bersyukurlah
Ucapkan Alhamdulillah
dan bersujud Syukurlah

Selama ada Muhammadiyah anak cucu kita insyaAllah akan aman, damai dan nyaman berAgama.
Sekali lagi beryukurlah wahai warga Persyarikatan Muhammadiyah.
Jangan kufur apalagi alpa kenikmatan
Semoga Muhammdiyah mampu menghantar Negara kita kepada “Baldatun Toyyibatun Wa robbun Ghofur”
Inilah Muhammadiyah dari langgar Kidoel Kauman menerabas kepelosok penjuru dunia.


2. Ragamu Makin Bahari, Jiwamu Abadi

Puisi berjudul Ragamu Makin Bahari, Jiwamu Abadi ditulis oleh Ma’rifah Saifullah pada 2019 lalu dan diterbitkan di laman Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan:

18 November 1912, semesta sibuk menyambutmu, Muhammadiyah: Bayi yang dilahirkan oleh ghirah Islam, reaksi pada kelam keterbelakangan, juga ide-ide cemerlang berkemajuan.

Dibidani langsung oleh KH Ahmad Dahlan dan para serdadu Tuhan, menjadikan tiap hembus nafasmu selaksa iluminasi zaman
Tengkurap, duduk, merangkak hingga berjalan kau lalui di tengah gempuran koloni anti pribumi.
Sinarmu gagah,
Menopang hujaman ragam ideologi yang sesekali anarki.

Balitamu diasuh langsung oleh Ilahi, melalui tangan-tangan yang juga meletakkan Tuhan dan RasulNya dalam hati.
Kau semakin tumbuh.
Tegak dan berani meski terkadang berpeluh.
Asupan gizimu terpenuhi oleh jernih-jernih keikhlasan juga semangat juang.

Tak heran, dunia terkagum pada ragamu
yang kokoh menopang puluhan ribu amal usaha
Pada jiwamu,
yang sehat merawat ideologi jutaan hamba untuk meraih ridhoNya.

Tekadmu mencerdaskan kehidupan bangsa, jelas bukan bualan belaka.
Muhammadiyah, kini dirimu semakin menua.
Namun tak kulihat kerapuhan meski hanya sejengkal badan.
Punggungmu tidak membungkuk meski sesekali berjalan tertatih di sebuah medan.

Artikulasi lisanmu terdengar semakin fasih meski samudera syiarNya kau gaungkan hingga sudut-sudut pedalaman.
Pendengaranmu semakin tajam, pandanganmu semakin mengelang menerjang titik-titik kemajuan serta menyongsong bukit-bukit peradaban.
Kepada gerakanku, selamat menggenap pada bilangan 107.
Bayamu hanya soal deretan angka: Ragamu makin bahari, jiwamu abadi.

2. Puisi Milad 109 Muhammadiyah

Puisi yang ditulis untuk milad Muhammadiyah yang ke-109 tersebut ditulis oleh Diyah Puspitarini pada 2021 lalu dan diterbitkan di laman UMSU:

Muhammadiyah semakin bersinar
Laku dan gerak organisasi terpancar
Menuntaskan persoalan bangsa yang
sulit lagi mengakar
Tak letih karena ini adalah ikhtiar

Selamat milad Muhammadiyah
Meskipun pandemi belum usai, selalu
optimis dan pantang menyerah


Baca juga artikel terkait EDUKASI DAN AGAMA atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Yantina Debora

DarkLight