Kultum Ramadhan 2021: Pengamalan Puasa Syariat, Tarekat, & Hakikat

Oleh: Fitra Firdaus - 21 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kultum Ramadhan hari ini: 3 jenis puasa menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani yaitu puasa lahir (syariat), puasa batin (tarekat), dan puasa hakikat.
tirto.id - Dalam Sirrul Asrar karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, terdapat 3 jenis puasa, yaitu puasa lahir atau puasa syariat (shaum al-syari'ah), puasa batin atau puasa tarekat (shaum al-thariqah), dan puasa hakikat atau shaum al-haqiqah.

Dalam setiap ibadah, selalu terdapat aspek lahir dan batin. Seorang muslim yang bertujuan mendekati Allah senantiasa berupaya membersihkan diri dari keterikatan-keterikatan lahiriah (duniawi) dan melekatkan diri pada hal-hal yang membawa kepada cinta ilahiah.

Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani, terkait hal ini, ibadah puasa dapat dibedakan ke dalam tingkatan demi tingkatan. Yang pertama, puasa lahir, yaitu puasa yang diperintahkan oleh syariah agama, dengan tidak makan, minum, dan berhubungan badan sejak fajar shadiq hingga matahari terbenam.

Ada tingkatan yang kedua, yaitu puasa batin, dengan cara menjaga semua anggota tubuh dan pikirannya dari segala perbuatan yang dilarang. Maknanya, menjauhi segala yang tercela baik dari aspek lahiriah maupun batiniah yang kesemuanya membatalkan puasa tarekat.

Perbedaan besar antara seseorang yang sekadar mengerjakan puasa lahir dan mereka yang melibatkan dalam puasa batin adalah kala waktunya. Puasa syariat dibatasi waktu, sedangkan puasa tarekat berjalan terus-menerus selama seseorang hidup dalam dunia ini, karena selama itu pula perang mengendalikan kesadaran diri tetap berlangsung.

Nabi Muhammad saw. bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar". Ada seseorang yang mengakhiri puasanya ketika mereka berbuka, yaitu yang menjalani puasa syariat.

Namun, ada pula orang yang tetap melanjutkan "berpuasa" bahkan meski sudah berbuka. Orang jenis kedua ini adalah mereka yang menjaga agar perbuatan dan pikiran bebas dari hal-hal tercela, juga menjaga tangan dan mulut agar tidak menyakiti orang lain.

Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika bertemu Rabb-nya".

Mereka yang memahami bentuk lahiriah puasa akan berkata, kebahagiaan pertama (berbuka) adalah kenikmatan menyantap makanan setelah berpuasa sehari penuh. Sementara, kebahagiaan kedua (bertemu Rabb) adalah ketika seseorang yang sudah berpuasa sebulan penuh selama Ramadan (29 atau 30 hari) melihat hilal tanda bulan baru (Syawal).

Mereka yang memahami bentuk batiniah puasa, akan melihat riwayat di atas dari sudut pandang lain. Kebahagiaan pertama (berbuka) adalah lambang hari ketika seorang yang beriman masuk ke surga. Sedangkan kebahagiaan kedua (bertemu Rabb) adalah kebahagiaan ketika orang beriman melihat kebenaran Allah dengan mata rahasia dari hatinya.

Setelah puasa syariat (lahir) dan puasa tarekat (batin), terdapat puasa lain yang lebih utama lagi yaitu puasa hakikat. Puasa jenis ini adalah puasa yang mencegah hati dari menyembah apa pun selain Allah.

Cara menjalankan puasa ini adalah dengan menutup mata dan menutup telinga dari segala yang mewujud, bahkan termasuk dunia rahasia di luar dunia fana ini, kecuali hanya demi cinta Allah. Jika hal sekecil apa pun memasuki hati seseorang yang berpuasa hakikat selain cinta Allah, maka puasa ini akan batal.



Biografi Singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani


Syekh Abdul Qadir al-Jailani bernama lengkap Abdul-Qadir bin Musa bin Abdillah al-Jailani. Nasabnya sampai kepada Abdullah al-Mahdi bin Hasan bin Al-Mustanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dari jalur ibu, nasabnya sampai ke Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Abdul Qadir al-Jailani lahir pada 23 Maret 1078 atau 1 Ramadan 470H di Gilan pada masa Kekaisaran Seljuk. Sepanjang hidup hingga berusia 87 tahun, ia menulis karya-karya penting yang menunjukkan keunggulan dalam bidang fikih, tauhid, tasawuf, akhlak, hadis, tafsir, dan disiplin ilmu lain.

Di antara karya Abdul Qadir al-Jailani yang paling terkenal adalah Sirrul-Asrar, Futuh al-Ghaib, al-Ghunyah li Thalibi Thariqi Haq, as-Risalah al-Ghautsiyah, hingga al-Fathur-Rabbani wal-Faidhur Rahmani.

Dalam Ngaji Filsafat Edisi 153 "Syaikh Abdul Qadir al-Jalani - Ibadah Lahir Ibadah Batin" oleh Fahruddin Faiz di kanal Youtube Majelis Jenderal Sudirman (MJS), dipaparkan terdapat ilmu lahir dan ilmu batin menurut Abdul Qadir Jailani.

Ilmu lahir (syariah) yang isinya adalah perintah, larangan, dan semua jenis hukum menjadi dasar seseorang atau lapisan terluar untuk masuk ke level yang lebih dalam, yaitu ilmu batin. Terkait hal ini, ilmu batin dibedakan menjadi tarekat yang merupakan batin syariah, ilmu makrifat yang merupakan batin tarekat, dan ilmu hakikat yang merupakan batinnya batin (batin al-bawatin).

"Ada hadis yang dikutip Syekh Abdul Qadir al-Jailani, syariat itu pohon, dan tarekat itu dahannya, makrifat itu daun-daunnya, hakikat itu buahnya ... dan semua itu dikompilasi oleh Allah dalam Al-Qur'an," terang Fahruddin Faiz.

Agar cinta ilahi dapat menempati hati seorang manusia, maka yang harus dilakukan adalah menyucikan diri dari hawa nafsu. Seorang muslim mesti memerangi nafsu hewani seperti rakus, tidur berlebihan,atau lalai/malas. Setelahnya, ia mesti pula mengalahkan sifat sabu’iyah, yaitu sifat kebuasan (amarah, keras, suka menyakiti kejam). Berikutnya, menjauhkan diri dari kebiasaan jahat.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2021 atau tulisan menarik lainnya Fitra Firdaus
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight