Kuliah di Jurusan Astronomi Bukan Berarti Jadi Calon Astronot

Oleh: Husein Abdulsalam - 20 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Apa yang dipelajari di jurusan astronomi? Bagaimana peluang kerjanya?
tirto.id - Mengapa bintang berkelap-kelip di malam hari? Apakah manusia bisa tinggal di Bulan? Kapan alam semesta ini lahir dan mati?

Pertanyaan demi pertanyaan di atas menyeruak dalam kepala Yogi Arief Putra (24) ketika duduk di bangku SMP. Beberapa jawabannya dapat ia temukan dalam majalah-majalah yang dia baca saat itu. Bacaan itu pula yang mengantarkan Yogi menemukan cita-citanya: "Aku ingin jadi astronot," katanya ketika diwawancarai.

Dari membaca, imajinasi tercipta. Yogi pun semakin senang dengan ilmu yang mempelajari benda-benda langit, astronomi. Ilmu ini tidak menjadi satu mata pelajaran khusus di SMP maupun SMA. Meski demikian, pengetahuan tentang benda-benda langit—planet, Tata Surya, bintang, galaksi, dan alam semesta—tetap ada di kurikulum sekolah Indonesia dan disampaikan dalam mata pelajaran fisika. Di SMA pun ada olimpiade sains cabang Astronomi. Ajang adu pengetahuan astronomi ini digelar dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.


Semasa SMA, Yogi jadi 'atlet' olimpiade astronomi. Dia mendapat medali emas di tingkat nasional. Ketika semakin dalam berkenalan dengan astronomi, Yogi sadar cita-citanya semasa SMP itu merupakan buah dari pemahaman yang salah kaprah. Sebagian besar astronot di Amerika Serikat (AS), misalnya, berlatar belakang militer. Setidaknya mereka ahli menerbangkan pesawat yang kemudian dilatih menerbangkan pesawat luar angkasa dan diberi bekal pengetahuan astronomi.

Namun, Yogi sudah kadung mesra dengan astronomi. Menginjak akhir SMA kelas IX, Yogi mendaftar ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) lewat jalur undangan. Di FMIPA ITB, ada program studi (prodi) Astronomi. Lamaran Yogi diterima, dia pun kuliah di prodi Astronomi FMIPA ITB.

Astronomi dan Peradaban Manusia

Astronomi kerap dipandang remeh. Namun, konsep serta instrumen yang dihasilkan dari penelitian astronomi telah memicu perkembangan teknologi dan ekonomi peradaban manusia.

Manusia menggunakan letak bintang untuk menyusuri lautan. Keterampilan mengamati pergerakan matahari, bulan, dan bintang-bintang menuntun pelbagai peradaban dalam menentukan jumlah hari, bulan, tahun, dan waktu tanam, sampai menciptakan kalender untuk itu. Orang-orang Jawa, misalnya, mengembangkan kalender pranatamangsa pada 1300 tahun lalu dari pengamatan mereka tentang pergerakan matahari.

Wi-fi yang mungkin Anda gunakan untuk mengakses artikel ini juga ada berkat John O'Sullivan. Ilmuwan Australia itu menemukan cara mengakses komputer tanpa kabel ketika mengaplikasikan tranformasi Fourier ke astronomi radio.

Seorang alumni Astronomi ITB, Ahmad Bismillahi Normansyah (27), membahas cara menambang di asteroid dalam tugas akhirnya—salah satu syarat lulus sarjana Astronomi ITB. Laki-laki yang kini bekerja di bidang konsultan teknologi informasi tersebut mengatakan untuk menelaah topik itu, dia tidak hanya mengaplikasikan astronomi, tapi turut menggunakan ilmu pertambangan dan penerbangan.


"Di teknologi penerbangannya, saya bahas cara mengirim wahana, menentukan trajektori, ke asteroid itu. Lalu, asteroid itu kita geret ke titik seimbang antara Bumi dan Bulan. Dari aspek pertambangan, yang dicari pertama itu air. Kalau mau menambang ya butuh air, maka dicari asteroid yang mengandung air. Lalu, saya analisis kandungan logamnya. Ada ferum, nikel, hingga logam tanah-jarang," ujar Ahmad kepada Tirto.

Ahmad mengatakan topik itu baru pertama kali diangkat dalam tugas akhir Astronomi ITB olehnya. Di luar Indonesia, menambang di asteroid sudah jadi ambisi pelbagai perusahaan semacam Deep Space Industries hingga Planetoid Mines Company.

Yang jelas, ini hanya sekelumit saja aplikasi astronomi dalam kehidupan sehari-hari.

ITB, Bosscha, dan Astronomi

ITB merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Asia Tenggara yang membuka prodi Astronomi. Berada di bawah FMIPA, pendidikan Astronomi di ITB dibuka untuk jenjang sarjana, magister, dan doktor. Tiga jenjang tersebut berakreditasi A, menurut data termutakahir Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Prodi ini didirikan pada 1951, seiring diangkatnya Gale Bruno van Albada sebagai guru besar Astronomi pertama di Unversitas Indonesia di Bandung. Van Albada mendapatkan gelar Ph.D bidang astrofisika di University of Amsterdam, Belanda. Sebelum jadi guru besar Astronomi, laki-laki kelahiran Maret 1911 itu menjabat direktur Observatorium Bosscha sejak 1950.

Observatorium itu ada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sekitar satu jam perjalanan menggunakan motor dari ITB. Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging (NISV) alias Perhimpunan Astronom Hindia Belanda memprakarsai pendirian observatorium ini pada 1920-an. Juragan perkebunan teh nan dermawan bernama Karel Albert Rudolf Bosscha menjadi penyandang dana utamanya dan keluarga Ursone, pengusaha susu, menyediakan lahan tempat membangunnya.


Pada 1951, NISV menyerahkan Observatorium Bosscha kepada pemerintahan Republik Indonesia. Pada 1959, Universitas Indonesia di Bandung bersalin menjadi ITB. Sejak itu hingga sekarang, Bosscha pun dikelola ITB. Ia jadi salah satu tempat penelitian mahasiswa Astronomi ITB.

Mereka yang ingin kuliah di Astronomi ITB mesti memilih FMIPA ITB saat mendaftar kuliah ITB, apapun jalurnya. Ini berlaku karena di dua semester pertama kuliah, mahasiswa ITB menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB) dan belum dijuruskan ke prodi.

Selain Astronomi, dalam FMIPA ITB juga ada prodi Matematika, Fisika, dan Kimia. Semasa TPB, mahasiswa bakal diberi kuesioner berisi pertanyaan prodi mana yang hendak diambil. Bila diterima, untuk semester ke-3 hingga lulus, mahasiswa akan kuliah di prodi tersebut.

Belajar Apa di Astronomi?

Dian Puspita Triani (26) mengira bakal belajar mengenai nama-nama bintang atau rasi bintang saat kuliah di Astronomi. Ternyata, di tahun pertama dan kedua, dia dididik untuk mempelajari fisika lebih dalam. Termodinamika dan mekanika, misalnya, mesti dia lahap di tahun kedua perkuliahan.

"Tingkat tiga kuliah baru belajar astronominya. Tingkat empatnya sudah harus tugas akhir," kata Dian.

Untuk tugas akhirnya di Astronomi ITB, penelitian Dian membahas inti galaksi aktif. Topik itu juga jadi bahan tesis magisternya di University of Groningen, Belanda.

Infografik Kuliah astronomi
Infografik Kuliah astronomi. tirto.id/FUad


"Kalau galaksi yang biasa kita lihat bentuknya seperti piring. Tapi, ada galaksi yang bentuknya titik terang seperti bintang. Nah, itu terjadi karena inti galaksinya aktif banget sehingga menyilaukan pandangan kita untuk melihat bintang-bintang yang mengelilinginya," ujarnya kepada Tirto.

Sekarang, Dian tengah menempuh studi doktoral di Swinburne University of Technology, Australia. Topik penelitiannya: komputasi evolusi galaksi.


Sebelum kuliah S3 di Australia, Dian sempat bekerja sebagai management trainee sebuah perusahaan swasta. Ketika menghadapi tes wawancara masuk perusahaan tersebut, Dian "menjual" kemampuan yang diperolehnya dari kuliah di Astronomi: kemampuan berpikir analitis untuk menyelesaikan persoalan. Menurutnya, astronomi mengajarkannya untuk berpikir runut, mulai dari menurunkan rumus hingga mengamati langit secara langsung.

Sedangkan Yogi mengatakan sense of research merupakan warisan utama yang dia dapat semasa berkuliah di Astronomi ITB. Menurutnya, ini berguna saat dia harus mencerna data di tempatnya bekerja sekarang. Di perusahaan itu, Yogi membidani bagian human resource.

Ahmad juga sependapat dengan Yogi. Sebagian lulusan prodi Astronomi ITB bekerja di bidang yang berurusan dengan astronomi lagi seperti di observatorium, lembaga riset, atau di kampus jadi pendidik. Kalau tidak di bidang itu, lulusan astronomi, karena biasa bergulat dengan data, bisa jadi data scientist atau data analyst.

"Ketiga, lulusan Astronomi bisa masuk ke industri teknologi informasi jaringan, juga satelit. Kami juga belajar soal trajektori yang dibutuhkan satelit," katanya.

Baca juga artikel terkait ASTRONOMI atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Pendidikan)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf