Menuju konten utama
Miroso

Kue Lontar: Akulturasi Kuliner Komplit dari Bumi Cenderawasih

Kue lontar adalah sejenis pai susu ala Papua, mendapat pengaruh kuliner dari Belanda.

Kue Lontar: Akulturasi Kuliner Komplit dari Bumi Cenderawasih
Header Miroso Kue Lontar. tirto.id/Tino

tirto.id - Beberapa minggu lalu, teman saya mengunggah IG story bahwa ia baru saja membeli “piring kue lontar” di lokapasar (marketplace). Piring keramik tebal dengan gambar ikan berwarna biru itu biasanya digunakan sebagai cetakan kue lontar.

Ia membeli piring tersebut karena ingin mendapatkan memori kue lontar yang sempurna. Dulu, kami pernah mencicipi kue lontar saat bekerja di Bumi Cenderawasih, Papua. Menurutnya, kue lontar yang dibuat dengan piring gambar ikan tersebut bisa menciptakan kesan yang lebih istimewa dari sekadar pai susu.

Ingatan saya pun melayang kembali ke tahun 2010, ketika saya perdana datang di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Saat itu, sedikit banyak saya mengalami culture shock, salah satu karena soal makanan. Sebelum tiba di sana, saya selalu membayangkan bahwa saya akan sering bertemu sagu dan olahannya, sebagaimana yang dituturkan teman saya.

Namun, rupanya kami ditakdirkan untuk bekerja di wilayah berbeda. Saya mendapatkan bagian kerja untuk mendampingi masyarakat desa di sekitar LNG Tangguh. Sebelum menuju desa tempat saya bekerja, saya tinggal di basecamp kantor di Distrik (kecamatan) Babo dan belajar beradaptasi dengan suasana sekitar bersama tim kerja tahun sebelumnya.

Sagu nyatanya tak selalu ada di menu makan. Meski, ada juga rekan yang memiliki kebiasaan baru terkait sagu ini. Sejak bekerja di Papua, rekan ini gemar menyantap sagu kering dengan cara mencelupkannya dalam segelas teh atau susu.

Di Pasar Babo, saya cukup gembira karena bisa bertemu Rumah Makan Minang dengan foto Ungku Sali’ah terpajang di dindingnya. Sepiring nasi dengan gulai nangka dan sepotong ikan saat itu dibanderol Rp20 ribu. Di pengajian warga yang menggelar hajat, kudapan yang muncul pun tak jauh berbeda dengan yang ada di kampung halaman saya di Jawa Tengah. Kacang oven, arem-arem, dan sepotong kue yang mirip pai susu tertata rapi di kotak snack.

Kue itu yang pada akhirnya membetot perhatian saya. Karena sedikit asing dengan bentuk dan rasanya, saya bertanya pada kawan-kawan. Tak ada yang tahu.

Hari-hari berikutnya, saya berpisah dengan mereka dan menuju ke lokasi bertugas. Dalam suatu hajatan warga di Desa Otoweri, kawasan pesisir di perbatasan Fak Fak, saya bertemu kue yang mirip pai itu lagi. Nah, kali ini saya dapat jawabannya. Dari para mama yang duduk dekat saya, barulah saya tahu kalau kue itu adalah kue lontar. Seorang mama, Mama Zaenal, bahkan menawari untuk membuat kue lontar bareng kelak.

Kesempatan itu pun tiba. Suatu sore Mama Zaenal dan Mama Yosep mendatangi saya di mes dan membawa serta peralatan memasak. Saya dapat bagian membeli bahan di kios milik Umi Sadia di sebelah mes. Mama Zaenal meminta saya sendiri yang mengolah bahan-bahan tersebut dengan memberi arahan.

Bahan kulit sederhana dapat dibuat dari 20 sendok makan terigu, 10 sendok makan margarin, dan sebutir telur. Saya campur ketiganya dalam baskom. Mama Zaenal menyarankan saya menambah air putih 2-3 sendok makan saja hingga agak kalis.

Selanjutnya, adonan diletakkan pada piring keramik gambar ikan berdiameter 20 cm untuk diratakan hingga menutup seluruh permukaan. Tusuk adonan dengan garpu secara merata untuk mendapatkan kematangan menyeluruh ketika dipanggang.

Sembari Mama Yosep menyiapkan oven di atas kompor Hock, Mama Zaenal membimbing saya membuat adonan isi. Saya campurkan sebutir kuning telur dan setengah kaleng susu kental manis dalam baskom. Saya aduk hingga menyatu, lalu saya tuangkan segelas air putih dengan 1 sendok makan maizena dan sepercik vanili.

Setelah adonan bertekstur lembut, tuang perlahan di atas adonan kulit. Selanjutnya, sepiring adonan kue lontar tersebut saya masukkan dalam oven yang telah panas. Lima belas menit kemudian, aroma sedap mulai keluar dari sela-sela oven.

Infografik Miroso Kue Lontar

Infografik Miroso Kue Lontar. tirto.id/Tino

Seraya menunggu kue lontar matang sempurna, Mama Zaenal dan Mama Yosef bercerita tentang keluarganya. Kedua mama tersebut memiliki satu garis keturunan, mereka adalah sepupu dua kali. Nenek Mama Zaenal menikah dengan seorang keturunan Arab dari Fak Fak, sedangkan nenek Mama Yosep menikah dengan orang Merauke. Nenek buyut mereka telah mengenal kue lontar sejak era Hindia Belanda. Bahkan, resep kue lontar diwariskan secara lisan oleh nenek mereka.

“Lidah nenek kita dulu-dulu toh susah bicara bahasa Belanda, dong ada bilang kue londart kah, ada juga bilang rondart, begitu,” jelas Mama Yosep saat saya menanyakan tentang sejarah kue lontar.

Rupanya penamaan kue lontar berasal dari serapan bahasa Belanda. Setahu saya, taart memang berarti kue (tart), juga bahan-bahan yang dipakai bukanlah bahan lokal. Hal yang menjadi PR saya adalah mencari term (lon-) dalam kata lontar. Saat itu belum ada jawaban yang memuaskan saya.

Dua minggu kemudian, dalam sebuah kapal cepat menuju Kota Distrik Babo, Bapak Osok, salah seorang koordinator program pendampingan masyarakat bercerita pula tentang penamaan kue lontar.

“Itu kan kue bulat ya. Oma kami dulu-dulu bilang ronde taart. Lalu kami sebut lontar biar mudah toh,” ujarnya. Ronde dalam bahasa Belanda berarti bundar. Akhirnya rasa penasaran saya tertuntaskan.

Dari dapur, aroma kue lontar semakin menyeruak. Ada wangi susu dan vanili di sana. Tibalah saatnya kue lontar dikeluarkan dari oven. Hari itu saya merasa sangat bahagia karena telah mempelajari pengalaman baru – saya tak harus menunggu ada hajatan untuk menikmati kue lontar.

Selain wangi dan rasanya, yang bagi saya juga menarik dari kue lontar adalah penggunaan piring keramik bergambar ikan sebagai cetakannya. Piring ini adalah gerabah Tiongkok. Mereka menyebutnya ‘piring gantung’ karena kerap digantung sebagai hiasan di ruang tamu pada rumah sebagian keluarga. Piring semacam itu dapat digunakan sebagai salah satu seserahan perkawinan sejak zaman nenek buyut mereka. Hubungan perkawinan tentunya memberikan pengaruh pada tradisi.

Selain sebagai seserahan perkawinan, piring keramik bergambar ikan tersebut juga sebagai barang yang kerap ditukar dengan burung cenderawasih di masa lampau. Kini mereka dapat memiliki piring ikan semacam itu dengan cara memesan pada ongko atau cece pemilik toko terdekat. Kita juga dapat membelinya di lokapasar. Tinggal ketik saja petunjuknya: piring kue lontar.

Sembari mengunyah kue lontar yang legit dengan tekstur fla manis, saya berpikir bahwa kue lontar ini adalah salah satu contoh sempurna akulturasi kuliner. Rasa Eropa, alat Tiongkok, dan disantap dengan nikmat di Papua. Komplit!

Baca juga artikel terkait MIROSO atau tulisan lainnya dari Laras Aridhini

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Laras Aridhini
Editor: Nuran Wibisono