Kudeta Para Sersan Membuat Batista Berkuasa

Oleh: Petrik Matanasi - 26 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Dalam posisinya yang hanya sersan, Fulgencio Batista sanggup memimpin sebuah plot kudeta yang terbukti berhasil.
tirto.id - Kemiskinan membuat Ruben Fulgencio Batista Zalvidar masuk tentara. Putra dari petani miskin bernama Belisario Batista ini lahir di kota kecil Banes, Provinsi Oriente, di timur Kuba. Ia memulai karier militer sebagai prajurit rendahan pada 1921 saat usianya masih 20 tahun.

Sebelum menjadi serdadu, menurut Jorge I Dominguez dalam artikel "The Batista Regime in Cuba" dalam buku Sultanic Regimes (1998), “Sebagai remaja dia hanya seorang buruh migran (dengan pekerjaan: pemotong tebu, tukang kayu dan kuli jalan raya).”

Saat mulai merintis karier militer, saat masih jadi prajurit rendahan di ketentaraan Kuba, masa depannya masih jauh dari jelas. Tidak ada bayangan ia akan menjadi penguasa di negeri kelahirannya itu.

Pemuda yang dulunya dibaptis di Gereja Katolik Fray Bonito ini pernah belajar di sekolah umum American Quaker School di Banes. Menurut Frank Argote-Freyre dalam Fulgencio Batista: The Making of a Dictator (2006), empat tahun ia sekolah di sana. Sekolahnya rampung pada 1913 saat ia berusia 12 tahun.

Baca juga:
Saat duduk di bangku sekolah, dia punya sifat kritis dan suka membaca. Sejak muda dia punya keahlian stenografi yang membuatnya sebetulnya bisa saja merintis karier di perusahaan-perusahaan sebagai staf kantoran.

“Batista menyelesaikan dinas militernya di ketentaraan Kuba pada 1923, dan bersiap terjun ke bidang komersial,” tulis Edmund A. Chester dalam A Sergeant Named Batista (1954).

Setelah sempat menjadi guru stenografi, dia kemudian menjadi polisi daerah pinggiran. Namun, menurut Frank Argote-Freyre, Batista masuk lagi ke dalam dinas ketentaraan pada Mei 1925. Setahun kemudian, pada Juni 1926, ia menjabat sebagai Kopral Stenografi. Jabatan itu diperolehnya setelah mengalahkan 40 kandidat lain.

Karier militernya yang kedua sama-sama tidak terlalu menonjol, namun kenaikan posisi mulai ia nikmati. Bulan Agustus 1928, pangkatnya naik jadi Sersan. Kariernya sempat terancam oleh kasus perkelahian karena pengaruh alkohol. Mayor Ovidio Ortega yang memeriksanya hendak menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara, namun Kolenel Rasco Ruiz menganggapnya tak bersalah dan berhasil mencegah ia ditangkap.

Ketika Depresi 1929 ikut memporak-porandakan ekonomi dunia, Kuba sedang berada di bawah pemerintahan Presiden Gerardo Machado. Sang Presiden pun dipaksa mundur oleh kelompok oposisi yang juga mendapatkan dukungan Amerika melalui duta besar mereka di Havana.

Baca juga: Depresi Besar yang Menghancurkan Amerika

Rupanya, menurut Edmund A. Chester, “Machado kehilangan dukungan tentara dan diberi perintah oleh militer untuk mundur. Dia terjungkal lalu kursi kepresidenan beralih ke Jenderal Alberto Herrera (1874-1954).”

Alberto Herrera y Franchi kemudian menjadi presiden dalam waktu yang sangat pendek. Ia hanya menjadi presiden dari 12 hingga 13 Agustus 1933 saja. Dia digantikan oleh Carlos Manuel de Céspedes y Quesada (1871-1939).

Di tengah suksesi yang labil itu, rupanya sekelompok kader tentara yang dipimpin Sersan Batista merencanakan pengambilalihan kekuasaan. Pada 4-5 September 1933 mereka bergerak dalam peristiwa yang dikenal sebagai Sergeants' Revolt (Pemberontakan Sersan) atau Revolusi Kuba 1933.

Setelah presiden berhasil digulingkan, sebuah Komisi Eksekutif Pemerintah Provinsial Kuba terbentuk dan berkuasa selama lima hari. Setelahnya, Dr. Ramon Grau San Martin (1881-1969), seorang profesor Universitas Havana, pun naik menjadi Presiden Kuba -- lagi-lagi hanya untuk sebentar saja antara 10 September 1933 hingga 15 January 1934.

Baca juga: Kudeta-Kudeta Sepanjang Sejarah Venezuela

Kala itu, usia Batista baru 32 tahun. Kepemimpinannya membuat posisinya menjadi kuat dan menentukan. Bayangkan, seorang sersan berhasil memimpin sebuah plot kudeta.

“Dengan dukungan Pemerintah Amerika Serikat, Batista menjadikan dirinya orang kuat di Kuba. Dari 1934 hingga 1940 dia (hanya) menjabat Kepala Angkatan Perang sementara itu orang-orang sipil silih berganti menduduki kursi kepresidenan,” tulis Jorge.

Meski posisinya nampak lebih rendah dari Presiden, hanya menjadi pemimpin militer, namun dia menjadi penentu tertinggi di negara kawasan Karibia itu. Jika presiden boneka tidak sepaham dengan Batista, maka akan ada pergantian presiden baru. Batista pun mirip Ne Win di Burma. Siapapun presidennya, Ne Win adalah penguasanya.

Baca juga:
Batista baru terpilih sebagai Presiden Kuba pada 1940. Setelah empat tahun menjabat, Batista pun turun dari kursi kepresidenan pada 1944. Presiden setelahnya, dari tahun 1944 hingga 1948, adalah Ramón Grau San Martín yang pernah menjadi presiden sebelumnya. Pada 1948 hingga 1952, tokoh bernama Carlos Prío Socarrás yang menjadi presiden.

Batista yang masih berpengaruh di kalangan tentara, kembali jadi Presiden karena sebuah kudeta pada 10 Maret 1952. Tentu saja dengan dukungan militer. Kudeta dilakukan tiga bulan sebelum Pemilu.

Infografik Dari kudeta ke kUDETA


Bekas sersan yang telah memerintah Kuba bertahun-tahun silam itu kembali ke kursi kepresidenan. Jack Colhoun dalam Gangsterismo: The United States, Cuba and the Mafia, 1933 to 1966 (2013) mencatat bagaimana ocehan Batista di radio saat kembali ke tampuk kekuasaan: “Untuk menjaga negara dari kekacauan.”

Batista ingin berkuasa lagi, tapi dia tidak bisa mencapainya dengan jalan yang sah. Sebenarnya Batista juga jadi calon presiden Kuba dalam Pemilu yang diadakan pada Juni 1952. Namun, jalan menuju kursi kepresidenan lebih mudah diraihnya lewat penggulingan Presiden Carlos Prío Socarrás.

Baca juga: Cerutu, Sobat Dekat Che Guevara Hingga Amunisi Revolusi

Di zaman Batista, kota Havana — yang jadi ibukota Kuba — sering disinggahi mafia yang bercokol di Amerika. Salah satunya Mayer Lanski, gembong mafia Yahudi, yang disebut-sebut sebagai sahabat Batista.

“Lansky sudah mengusai meja judi Havana's Montmartre Club pada pertengahan dekade 1930an, dan segera setelah Batista meraih kekuasaan [lagi] pada 1952, Batista mengundang Lanksy untuk memperluas,” catat Encyclopedia of White-Collar & Corporate Crime, Volume 1 (2005).

Menurut Jack Colhoun, Batista mendapat pemasukan reguler dari judi. Bisnis haram selain judi tentunya adalah pelacuran dan pariwisata.

Batista yang sudah kaya-raya itu, dimusuhi oposan macam Fidel Castro. Meski terusir hingga Meksiko, Castro kembali lagi bersama 81 kameradnya. Diantaranya terdapat adik Fidel, Raul Castro dan dokter muda Che Guevara. Turun dari kapal Granma pada November 1956, mereka bergerilya sekitar 25 bulan.

Baca juga:
Menjelang tahun baru 1959, kursi kepresidenan Batista mulai goyah oleh perlawanan para gerilyawan yang dipimpin Castro dan Che Guevara. Pada dinihari 1 Januari 1959, ia pun terpaksa meninggalkan istananya.

Batista hidup nyaman dalam pengasingan, tak seperti di masa kecilnya dulu. Dia sempat tinggal di Portugal, lalu Spanyol. Sempat menjadi petinggi perusahaan asuransi Spanyol yang berinvestasi di bidang properti di Costa del Sol Andalusia—sebelum meninggal karena serangan jantung pada 6 Agustus 1973 di Guadalmina, Spanyol.

Baca juga artikel terkait KUBA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS