Seri Rivalitas Tentara

Kuasa Besar Ali Moertopo Picu Perlawanan Jenderal-Jenderal Intel

Infografik Seri Rivalitas Moertopo Vs Juwono
Ali Moertopo dan Sutopo Juwono. tirto.id/Lugas
Oleh: Petrik Matanasi - 14 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ali Moertopo pernah dijadikan Deputi Kepala Bakin, tapi dia berkeras masih memegang pasukan intel bernama Opsus. Dia pun dimusuhi jenderal-jenderal Bakin.
tirto.id - Hilangnya tas berisi dokumen pernah menjadi sandungan bagi Jenderal Yoga Sugama. Kala itu, seperti diceritakan dalam Memori Jenderal Yoga (1990) yang disusun B. Wiwoho dan Banjar Chaerudin, Yoga hendak pergi ke Dusseldorf, Jerman bersama sekretaris G-1 Hankam, Mayor Mufti. Mereka membawa tas berisi dokumen. Waktu pesawat yang ditumpanginya, Thai International Airways, singgah di Singapura, tas yang dibawa mayor Mufti tertukar. Sementara tas Yoga tidak (hlm. 220).

Desas-desus pun beredar di Jakarta: dokumen hilang di hotel tempat Yoga menginap. Konon, ada seorang perempuan masuk ke kamar Yoga.

“Orang bilang, itu pekerjaan Ali Moertopo, dengan maksud mendiskreditkan Yoga Sugama sebagai sebagai intelijen paling senior pada saat itu. Tapi ini baru indikasi yang tidak pernah dibuktikan kebenarannya," aku Soemitro dalam autobiografinya, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari '74 (1998: 275), yang disusun Heru Cahyono.

Pada masa lalu, Yoga Sugama pernah jadi atasan Ali Moertopo waktu di Banteng Raider Jawa Tengah.

Maka digantilah Yoga selaku Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) pada 1969. Penggantinya adalah Sutopo Juwono. Ada alasan kuat mengangkat Sutopo sebagai kepala intel negara di awal Orde Baru berkuasa. Setelah berkarier satu dekade sebagai perwira intel, Sutopo pernah menjadi akademisi militer di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (kini disingkat Seskoad) dan terlibat pula dalam dunia penelitian.

Sutopo, seperti dicatat Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1988: 52), mengisi jabatan itu sejak Januari 1970 hingga meletusnya Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari). Raden Sutopo Juwono Prodjohandoko yang kelahiran 14 Mei 1927 dan NRP 14530 ini, berkarier dari level bintara lalu perwira intelijen di bawah kementerian pertahanan pada era Revolusi (1945-1949).

Sementara itu, Ken Conboy dalam Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2008: 52) menyebut, “Sutopo, yang mantan perwira PETA ini telah bergelut dengan intelijen semenjak zamannya Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI).” Dia salah satu anak didik Zulkifli Lubis.


Di tubuh Bakin, menurut Soemitro dalam autobiografinya, terdapat empat deputi. Ada bidang keamanan dalam negeri, yang dijabat Brigadir Jenderal Soeprapto (belakangan diganti Brigadir Jenderal Slamet T.W.); bidang penggalangan, yang dipegang Brigadir Jenderal Ali Moertopo; bidang intel luar negeri, yang diisi Brigadir Jenderal Nichlany Soedardjo; dan bidang pendidikan, yang diemban Brigadir Jenderal Hernowo (hlm. 68).

Sutopo sebagai Kepala Bakin, menurut Soemitro, “terlihat sangat kikuk mengenai bagaimana menghadapi Ali Moertopo sebagai salah satu deputinya.” Pertama, secara usia, Ali Moertopo yang kelahiran 23 September 1924 jelas lebih senior dari Sutopo. Kedua, Ali Moertopo adalah perwira di Bakin yang paling dekat dengan Presiden Soeharto. Ketiga, yang paling mengganjal, Ali Moertopo punya kekuatan “super” bernama Operasi Khusus (Opsus).

Ali Moertopo orang yang bikin pusing Sutopo. Waktu Ali berinisiatif menggunakan bekas Darul Islam (DI), Sutopo Juwono selaku kepala intel negara menolak. Soemitro menirukan larangan dan argumen singkat Sutopo, “Jangan, resikonya terlalu besar nanti, sebab orang-orang DI suka macam-macam, karena merasa punya jasa ikut menghancurkan G30S segala macam, nanti mereka bisa menagih janji. Maka lebih baik jangan.”

Tapi, Ali Moertopo jalan terus. Orangnya Ali di Opsus, Pitut Soeharto, yang dikerahkan. Ali selalu punya dasarnya sendiri. Ali tinggal bilang: “masalah ini tidak perlu saya pertanggungjawabkan kepada Pak Topo (Sutopo Juwono), tapi kepada Pak Harto.”

Ali berani bilang begitu tentu saja karena dia punya sumber daya bernama Opsus.


Para Jenderal Menentang Ali

Menurut Soemitro yang kala itu menjadi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), ada tumpang tindih kewenangan yang bikin kacau Bakin. Kisruh pun terjadi di dunia intelijen pada awal era 1970-an. Ada konflik antara intel resmi yang dipimpin Sutopo melawan Opsus yang dipimpin Ali.

Soemitro melihat Brigadir Jenderal Nichlany sebagai orang yang sangat keras menentang Ali Moertopo. Bagi Nichlany, Ali Moertopo bukan orang lama di Bakin tapi tiba-tiba masuk dan melakukan sesuatu di luar kebijakan lembaga, termasuk soal penggunaan bekas DI. Nichlany berani menentang Ali yang kala itu sedang di atas angin. Bagaimanapun, Ali adalah asisten pribadi Soeharto yang menguasai Opsus.

Perseteruan antara Nichlany vs Ali Moertopo tentu saja dimenangkan Ali Moertopo. Nichlany terpental dari Bakin.

David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1983 (2010: 44) menyebut, Nichlany kemudian dikirim ke Amerika Serikat setelah 48 jam berdebat dengan Mayor Jenderal Ali Moertopo. Lebih dari enam tahun Nichlany dikandangkan di negara adidaya itu.

Nichlany, menurut catatan Ken Conboy, pernah memerintahkan Satuan Tugas Intelijen (Satsus Intel) di bawah Bakin untuk menyadap kantor Ali Moertopo. Ini dilakukan agar Bakin tahu tingkah laku Ali.

Sutopo Juwono juga jengkel kepada Ali Moertopo karena Ali menolak menggabungkan aset Opsus ke Bakin. Di Bakin, secara umum Sutopo Juwono banyak didukung. Sutopo juga sekubu dengan Pangkopkamtib. Tapi mereka tidak dekat dengan Soeharto seperti Ali Moertopo.

Pertarungan para jenderal dengan Ali itu, menurut Ken Conboy (2008:82-84), terbuka lebar di masa-masa pecahnya Malari pada awal 1974. Bakin, pada 14 Januari, sudah tahu akan ada demonstrasi esok harinya. Operasi Bunglon demi mengumpulkan data para aktivis mahasiswa pun dilancarkan. Peristiwa Malari pun akhirnya mencoreng muka Soeharto yang suka gembar-gembor soal stabilitas keamanan. Demonstrasi 15 Januari itu nyatanya jadi ajang kerusuhan.

Jenderal-jenderal petarung di Bakin pun jadi abu. Setelah malapetaka itu, para jenderal intelijen bernasib sial. Tak hanya Soemitro selaku Pangkopkamtib dan Sutopo Juwono sebagai Kepala Bakin (yang tentu saja dianggap gagal menjaga keamanan) yang sial, tapi juga Ali Moertopo. Dalam demonstrasi, ada plakat yang menuntut pembubaran lembaga asisten pribadi presiden (Aspri).





Saran Soemitro untuk Soeharto

Meski Sutopo dan Soemitro kemudian terpental dari jabatan penting mereka, Ali pun kehilangan jabatan sebagai Aspri. Tak hanya kehilangan Aspri, Opsus juga lenyap dari tangan Ali Moertopo. Opsus pun akhirnya dimasukkan ke Bakin.

“Ali Moertopo harus melepaskan diri dari Opsus, suapaya Bakin bisa berfungsi sebagai mana mestinya yakni sebagai lembaga intel resmi,” ujar Soemitro dalam autobiografinya (hlm. 63).

Ketika Sutopo Juwono hendak dipensiunkan, Soemitro dipanggil Soeharto.

“Mitro begini, Sutopo Juwono sudah selesai, turunnya sebentar lagi. Menurut pendapatmu siapa yang tepat menggantikan Sutopo Juwono? Bagaimana pendapatmu kalau Ali Moertopo?” kata Soeharto seperti ditirukan Soemitro (hlm. 275). Soemitro sudah pasti menolaknya.

“Saya rasa kalau Pak Harto menunjuk Ali Moertopo sebagai pengganti Pak Topo, itu keliru Pak. Kalau dijadikan menteri, silahkan. Bukan saya tidak setuju atau tidak senang dengan Ali, tapi Ali karena tugasnya sebagai Opsus, rekayasa, telah meninggalkan luka di mana-mana. Sehingga nanti banyak orang yang belum apa-apa sudah berprasangka buruk terhadapnya. Padahal Bakin adalah tempat kepercayaan seluruh masyarakat Indonesia,” kata Soemitro pada Soeharto.

“Lantas siapa kalau kamu ndak setuju Ali?” tanya Soeharto.

Untuk pertanyaan itu, Soemitro punya jawaban mantap, “Yoga, Pak. Yoga Soegama.”

Maka kembalilah Yoga untuk masa jabatan keduanya. Belasan tahun Yoga isi jabatan itu. Ketika Yoga jadi kepala Bakin, Ali Moertopo diberi Soeharto jabatan yang cukup mentereng, tapi tak disukai Ali, yakni Menteri Penerangan.


==========

Menjelang HUT TNI ke-73, Tirto menayangkan dua serial khusus tentang sejarah militer Indonesia: "Seri Para Panglima Soeharto" dan "Seri Rivalitas Tentara". Serial pertama ditayangkan tiap Kamis, serial kedua tiap Jumat. Edisi khusus ini hadir hingga puncak perayaan HUT TNI pada 5 Oktober 2018.

Baca juga artikel terkait INTELIJEN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight