Kuasa Arung Palakka: Kompeni Keki, Lawan Politik Dibuang ke Afrika

Arung Palakka. Tirto.id/Quita
Oleh: Husein Abdulsalam - 1 Agustus 2019
Dibaca Normal 6 menit
Arung Palakka begitu berharga bagi VOC. Apa yang ia mau, termasuk mengasingkan lawan politik ke Tanjung Harapan, sebisa mungkin dituruti VOC.
Tiga abad lalu, salah satu anggota keluarga bangsawan Gowa tiba di Tanjung Harapan, suatu daerah di Afrika bagian selatan. Ia bernama Karaeng Lambengi. Ia datang bukan sebagai turis, melainkan eksil, orang-orang yang dibuang.

Mengasingkan orang bukan hal yang tak lazim. Pengasingan adalah bagian dari kehidupan berpolitik kerajaan-kerajaan di kepulauan Nusantara semasa itu. Orang-orang yang diasingkan biasanya musuh politik, kriminal, atau orang yang dianggap membelot. Lokasi pengasingan bisa di daerah kekuasaan kerajaan atau di pulau lain. Berkat jalinan kerja sama dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), para penguasa di Nusantara itu pun bisa mengasingkan orang hingga ke Tanjung Harapan.

Orang yang ingin Karaeng Lambengi diasingkan sudah dekat dengan VOC sejak awal 1660-an. Ia adalah Arung Palakka.

Arung Palakka merupakan putra mahkota kerajaan Bone. Namun, saat Arung Palakka lahir, Bone lebih pas disebut kerajaan tanpa raja sebab ia telah ditaklukkan koalisi kerajaan Gowa-Tallo. Bahkan, saat Arung Palakka berusia 9 tahun, Bone benar-benar diperintah langsung oleh Sultan Gowa.

Pada warsa 1660-an, Arung Palakka menyerang Gowa. Ia dibantu para loyalisnya dari Bone. Ini cukup untuk membebaskan orang-orang Bone yang dipekerjakan paksa oleh Gowa. Namun, armada militer Gowa tidak kalah dan justru membuat Arung Palakka harus melarikan di ke Buton.


Dari Buton, Arung Palakka pergi ke Batavia pada 1663. Keberangkatan Arung Palakka ke pusat kantor VOC tersebut ialah untuk menyambut tawaran bantuan dari VOC. Namun, perusahaan dagang asal Belanda ini juga ingin melihat kemampuan Arung Palakka. Walhasil, sebagaimana dituliskan Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia (2000), Arung Palakka berjibaku dulu untuk VOC memadamkan perlawanan di beberapa tempat selama tiga tahun.

Pada 1666, barula Arung Palakka dan VOC bekerja sama menyerang Gowa. Setelah berbulan-bulan digempur melalui laut dan darat serta diblokir jalur perdagangannya, Sultan Gowa Hasanuddin akhirnya menyerah dan mau berunding. Pada 18 November 1667, ia meneken Perjanjian Bungaya. Sebagian besar dari 30 pasal isi perjanjian itu merugikan Gowa. Misalnya, VOC mendapatkan benteng Ujung Pandang yang kelak diubah namanya jadi Fort Rotterdam. Gowa pun harus menanggalkan kekuasaanya atas wilayah Bugis dan Luwu.

Makassar melengkapi jumlah bandar-bandar di Samudera Hindia yang telah dikuasai VOC. Di bagian paling barat, VOC punya Tanjung Harapan dan pulau di sebarang daerah itu, Robben Island. Di bagian paling timur, ada Deshima di Jepang. Di antara kedua tempat ini terbentang bandar VOC di kepulauan Nusantara, Sri Lanka, Jazirah India, pulau Madagaskar, dan pantai timur benua Afrika.

Kerry Ward menuliskan dalam Networks of Empire: Forced Migration in the Dutch East India Company (2009) bahwa Tanjung Harapan, Sri Lanka, dan Batavia merupakan tiga lokasi favorit pengasingan VOC. Menurut penelusuran Ward, daerah tujuan pengasingan saat itu adalah yang dianggap VOC aman dari penduduk sekitar.

Dari semua kota yang dikuasai VOC, Tanjung Harapan merupakan kota yang paling memenuhi syarat. Kecil peluang bagi penduduk pribuminya untuk menaklukkan kota yang sekarang masuk wilayah Afrika Selatan ini. Kekuatan politik di sekitarnya juga kecil.

Apapun Untukmu, Arung Palakka

Tanpa dukungan Arung Palakka, VOC tidak akan mampu berdagang dengan nyaman di Nusantara bagian timur. Bagian ini penting karena di situlah terbentang Maluku, tempat rempah-rempah diproduksi. Karena itu, permintaan Arung Palakka untuk mengasingkan Karang Lambengi, anak salah satu bangsawan Gowa Karaeng Lengkese, tidak mudah ditolak.

Perihal sebab pengasingan ini, Ward menuliskan Karaeng Lambengi dituding Arung Palakka menggoda istrinya saat mengunjungi istana Bone pada 1675.

Walaupun Arung Palakka bersikeras Lambengi dihukum segera, tapi baru berbulan-bulan kemudian Bone dan VOC bersepakat mengenai status Lambengi. Kedua pihak setuju Lembengi diasingkan ke daerah manapun yang dipilih VOC. Bangsawan Makassar juga harus kasih satu istrinya kepada Arung Palakka sebagai ganti rugi.

Sebelum ke Tanjung Harapan, Karaeng Lambengi dipenjara selama tiga tahun di Batavia. Di dokumen-dokumen yang ditemukan di Batavia, namanya dicatat "Crain Lambengi" atau "Crain Lambungi". Di Tanjung Harapan, ia disebut "Crain Lambungu". Selama di Tanjung Harapan, ia dan di berikan pakaian, makanan, dan uang. Seorang istri dan dua budak juga menemani Karaeng Lembengi di Tanjung Harapan.

Selain itu, bangsawan Gowa yang disebut Ward tiba di Tanjung Harapan pada 1681 ialah Daeng Mangale. Dalam arsip dan catatan perjalanan, nama orang satu ini ditulis "Daijn Manalle", "Daim Mengale", "Dain Bengale", atau "Dain Bengali". Sedangkan sejarahwan penulis Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan abad ke-17 (2004), Leonard Andaya, menyebutnya Daeng Mangappa.


Daeng Mangale merupakan saudara laki-laki Karaeng Bisei, sultan Gowa yang juga punya nama Mohammad Ali. Pada 1678, Arung Palakka marah ketika ia tahu Komandan VOC di Fort Rotterdam memberikan suaka kepada sultan Gowa dan keluarganya. Arung Palakka pun memprotes keputusan ini ke Gubernur Jenderal VOC Van Goens di Batavia.

Andaya menyebut Batavia bergantung betul ke Arung Palakka untuk menjaga stabilitas di Sulawesi bagian selatan dan dukungan militer di Jawa. Karena itu, pejabat VOC di Batavia rela mengesampingkan sikap pejabatnya sendiri di Makassar.

VOC pun ambil sikap. Mohammad Ali dan keluarganya diasingkan ke Batavia. Sedangkan Daeng Mangale digelandang ke Tanjung Harapan.

Di Tanjung Harapan, Daeng Mangale ialah orang pertama yang disebut "musuh berbahaya Kompeni". Meski demikian, Gubernur Jenderal VOC Van Goens dan Raad van Indië (Dewan Hindia) memberinya upah enam rixdollar tiap bulan serta pakaian untuk ia dan pelayannya.

Mati di Tanjung Harapan

Daeng Mangale dan lima orang rombongannya dipulangkan pada April 1689. Pemulangan Daeng Mangale ialah usul yang diajukan Komisioner VOC Adriaan van Rheede tot Drakenstein kepada Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys dan Dewan Kebijakan VOC.

Pemulangan orang-orang yang diasingkan bukan hal aneh, terutama jika pejabat tinggi Kompeni mengusulkannya atau para eksil serta keluarganya menuntutnya terus-menerus. Keputusan akhir bergantung apakah kelanjutan pengasingan seorang individu dan keluarganya tidak memiliki tujuan politik lebih lanjut untuk Kompeni, atau malah hal itu bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan dari keluarga yang tengah berkuasa di kerajaan.

"Para eksil pada umumnya dibebaskan ketika mereka dianggap terlalu tua untuk menjadi ancaman politik. Para eksil yang direpatriasi diberi izin untuk kembali ke rumah mereka atau dijaga anggota keluarga di tempat lain," sebut Ward.

Namun, tidak semua eksil dapat kesempatan untuk menghirup lagi udara kampung halamannya. Beberapa di antara mereka mati di lokasi pengasingan.

Daeng Mattuju, eks raja Luwu, meninggal dalam perjalanan menuju Tanjung Harapan. Care Roepa ditembak mati personel garnisun setelah berusaha kabur dari Kastil Tanjung Harapan. Begitu pula Daeng Tjitjo. Pada 10 Oktober 1699, bangsawan itu mengacau sehingga personel garnisun membunuhnya.

Salah satu tahanan paling penting bagi VOC yang menghembuskan nafas terakhirnya di Tanjung Harapan ialah Syekh Yusuf Makassar.


Syekh Yusuf, dari Gowa, ke Mekah, ke Banten

Syekh Yusuf lahir pada 1627. Ia merupakan anggota keluarga bangsawan Gowa dan dibesarkan di istana semasa Sultan Alauddin, kakek Sultan Hasanuddin. Di Sulawesi, ia dipanggil Tuanta Salamaka ri Goa. Di Jawa, Tuwan Seh. Sedangkan di Batavia dan Tanjung Harapan, orang-orang Belanda menyebutnya Syakh Josep van Makassar.

Ia diajari Islam di istana oleh Daeng ri Tasammang serta orang Arab dan Aceh yang berpindah ke Sulawesi bagian selatan. Syekh Yusuf menikah dengan Mangarangi Daeng Maurabiya, putri Sultan Gowa.

Sejak umur 18 tahun, Syekh Yusuf mengembara mencari ilmu. Di Banten, ia berkawan dengan Pangeran Surya. Kemudian, ia menimba ilmu ke Syekh Nuruddin di Aceh dan mendapatkan ijazah tariqah Qadariyyah. Di Yaman, ia dapat ijazah tariqah Naqshbandiyyah dan Ba’Alawiyyah. Setelah naik haji, ia melanjutkan belajar Islam di Madinah, lalu memperoleh ijazah Khalwatiyyah di Damaskus. Syekh Yusuf pun menjadi guru di Mekah.

Sejarahwan M.C. Riklefs dan Chritian Pelras mengatakan bahwa setelah perjalanan itu, Syekh Yusuf pulang ke Makassar untuk melakukan pembaharuan Islam. Namun, menyusul kegagalan pembaharuannya dan situasi politik di Makassar, ia pergi Banten pada 1672 dan diterima Pangeran Surya yang telah jadi penguasa Banten bergelar Sultan Abdul Fattah alias Sultan Ageng Tirtayasa.

Namun, Abu Hamid, sejarahwan penulis Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang (1994), mengatakan Syekh Yusuf tiba di Banten pada 1664 dan menetap di sana karena gejolak politik di Makassar.

Yang jelas, menurut Ward, orang-orang Banten memahami betul kondisi politik Makassar yang tengah berkecamuk akibat peperangan antara Sultan Hasanuddin melawan koalisi Arung Palakka dan VOC. Karena itu, Sultan Ageng Tirtayasa pun mengajak Syekh Yusuf berlindung di Banten. Di kesultanan ini, Syekh Yusuf jadi mufti, penasehat kerajaan, dan akhirnya menantu Sultan.



Syekh Yusuf juga didapuk jadi guru anak pertama Sultan Ageng Tirtayasa, yakni Pangeran 'Abd al-Qahhar alias Sultan Haji. Pangeran satu ini, kemudian hari, melancarkan pemberontakan sebab Sultan Ageng Tirtayasa menunjuk Pangeran Purbaya, adik Sultan Haji, sebagai putra mahkota. Sultan Haji pun berkomplot dengan VOC yang waktu hubungannya tidak baik dengan Banten. Sedangkan Syekh Yusuf memilih mendukung Sultan Ageng Tirtayasa.

Singkat cerita, Sultan Ageng Tirtayasa menyerah. Setelah bergerilya, Syekh Yusuf pun ditangkap VOC di daerah Pangandaran. Dari situ, Syekh Yusuf dibawa ke Cirebon, lalu Batavia. Pada 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Sri Lanka. Menahan Syekh Yusuf lama-lama di Batavia adalah risiko besar yang tak ingin diambil Gubernur Jenderal VOC Cornelis Speelman dan Dewan Kebijakan VOC.


Arung Palakka dan Syekh Yusuf

Di Sri Lanka, keilmuan Syekh Yusuf menarik perhatian cendekiawan muslim setempat. Syekh Yusuf pun berkomunikasi dengan calon jamaah haji yang menepi di Sri Lanka. Kaisar Mughal Aurangzeb juga meminta Belanda menjaga Syekh Yusuf.

Pada 1689, orang-orang Makassar ramai-ramai menuntutnya dipulangkan. Daeng Talele, bangsawan Goa yang merupakan istri Arung Palakka, serta Karaeng Abdul Jallil, sultan Gowa yang baru, mendukung tuntutan itu. Mereka bahkan menyerahkan tebusan dua ribu rixdollar ke Fort Rotterdam.

Komandan VOC di Fort Rotterdam Hartsink menyetujui tuntutan mereka, tanpa berkonsultasi dengan Batavia. Ketika melaporkan tuntutan itu ke Batavia, ia malah menyarankan Batavia menolaknya dan mengirim bala tentara ke Makassar.

Diam-diam Arung Palakka memberi tahu pejabat VOC di Batavia bahwa ia tidak setuju Syekh Yusuf dipulangkan. Akhirnya, hubungan VOC Makassar dengan Arung Palakka pun tegang sampai-sampai Dirk de Haas dikirim ke Makassar untuk menjadi komisioner dan meredakan ketegangan. Ini, lagi-lagi, menandakan betapa berharganya Arung Palakka bagi VOC.


Tuntutan bangsawan Makassar pada 1691 kepada Dirk de Haas untuk memulangkan Syekh Yusuf, menurut Ward, sangat mungkin jadi alasan Batavia untuk mengasingkan Syekh Yusuf ke Tanjung Harapan. Fakta bahwa Banten merupakan kerajaan merdeka di luar daerah kekuasaan VOC waktu itu dan status Syekh Yusuf sebagai tahanan penting kerajaan membuat Syekh Yusuf urung dieksekusi. Status itu pula yang memungkinkan Syekh Yusuf ditemani 49 anggota keluarga, pengikut, dan budaknya waktu diasingkan ke Tanjung Harapan.

Syekh Yusuf tiba di Tanjung Harapan pada 2 April 1694. Di sana, Syekh Yusuf tinggal di Kastil, kemudian di Zandvliet. Ia dapat upah 12 rixdollar tiap bulan. Zandvliet merupakan lahan pertanian yang sengaja dibeli VOC untuk tempat tinggal Syekh Yusuf. Lokasinya di dekat muara Sungai Eerste yang kemudian dikenal sebagai "Makassar Downs".

"Berita kematian Syekh Yusuf pada 23 Mei 1699, oleh sebab-sebab alamiah pada usia tujuh puluh tiga tahun, memicu kelegaan luar biasa dari Batavia. Salah satu alasan yang disebutkan adalah bahwa Kompeni telah menghitung biayanya untuk memelihara Syekh dan rombongannya di 26.221,12 gulden, dan sangat ingin terbebas dari beban keuangan ini," sebut Ward.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight