Kronologi Munculnya Aksi Boikot Produk Perancis di Berbagai Negara

Oleh: Yantina Debora - 2 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Kronologi munculnya aksi boikot terhadap produk Perancis yang dilakukan di berbagai negara.
tirto.id - Aksi boikot produk Perancis bergema di berbagai negara usai Presiden Perancis Emmanuel Macron mengeluarkan pernyataan terkait kartu Nabi Muhammad SAW.

Kronologi aksi boikot ini berawal saat, Samuel Paty, guru di Perancis dibunuh pada 16 Oktober 2020 oleh remaja berusia 18 tahun asal Chechnya yang tinggal di kota Evreux, Normandia, dikutip dari Al Jazeera.

Guru tersebut dibunuh usai menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW kepada murid-murudnya. Hal ini menjadi salah satu hal yang dilarang dalam kepercayaan agama Islam.

Saat itu Samuel Paty mengajar di kelas kebebasan berpendapat. Samuel Paty lalu menunjukkan kepada siswanya beberapa karikatur Nabi Muhammad SAW yang telah diterbitkan oleh majalah satir Charlie Hebdo pada tahun 2015.

Tak hanya membunuh Samuel Paty, dikutip dari DW, kartun tersebut pernah menginspirasi banyak serangan kelompok Islamis termasuk pembantaian 12 orang di kantor Charlie Hebdo pada 2015.

Sementara di Perancis, kartun Charlie Hebdo telah menjadi ikon tradisi sekuler yang telah dimulai sejak Revolusi.

Hingga kini, otoritas Perancis telah menahan Sembilan orang sehubungan dengan peristiwa pembunuhan Samuel Paty. Kini, beberapa orang lain sedang diperiksa untuk mengetahui lebih lanjut peristiwa naas tersebut.

Tanggapan Presiden Macron


Sejumlah negara Muslim mengecam aksi "menunjukkan kalikatur Nabi Muhammad SAW" yang dilakukan Samuel. Aksi tersebut dianggap "menistakan" umat Muslim dunia.

Macron merespons dengan menyampaikan pembelaan penuh semangat terhadap kebebasan berbicara dan nilai-nilai sekuler yang berlaku di Perancis.

Dikutip dari BBC, pada sebuah upacara, Macron memuji aksi Samuel Paty dan bersumpah untuk "melanjutkan perjuangan kebebasan berpendapat, perjuangan untuk mempertahankan Republik tersebut."

Pemerintah Macron juga merencanakan RUU baru untuk memerangi kelompok Islamis. Macron mengatakan bahwa kelompok Islamis telah menciptakan budaya paralel di Perancis yang menolak nilai-nilai, adat istiadat, dan hukum negara tersebut.

Penggambaran Nabi Muhammad SAW secara luas dianggap tabu dan dilarang dalam Islam, dan dapat menyinggung banyak umat Muslim.

Sementara Perancis adalah negara sekuler. Sekularisme atau di Perancis dikenal dengan nama laicite. Identitas nasional ini meyakini "membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu dapat merusak persatuan."

Boikot Produk Perancis


Negara-negara Islam mengutuk pernyataan Macron dan kalikatur Nabi Muhammad SAW tersebut. Negara Islam menyerukan pemboikotan barang-barang Perancis.

Turki "memimpin" tuntutan itu, dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan Macron membutuhkan "pemeriksaan kesehatan mental" dan menuduhnya menjalankan agenda anti-Islam.

"Anda dalam arti sebenarnya adalah fasis, Anda dalam arti sebenarnya adalah mata rantai dalam rantai Nazisme," katanya tentang Eropa, membandingkan perlakuan terhadap Muslim di Eropa dengan perlakuan Nazi terhadap orang Yahudi.

"Jangan pernah membeli barang-barang berlabel Perancis," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi setempat.

Arab Saudi, turut mengecem Perancis dengan mengatakan penolakan terkait gambar "ofensif" dari nabi Islam mana pun.

"Kerajaan Arab Saudi menolak setiap upaya untuk menghubungkan Islam dengan terorisme, dan kartun yang menyerang Nabi Muhammad SAW atau nabi lainnya," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan.




Pengguna media sosial di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab turut menyerukan aksi boikot terhadap raksasa supermarket Perancis, Carrefour.

Pedagang di Yordania, Kuwait dan Qatar telah memindahkan barang-barang Perancis dari rak-rak toko, sementara Universitas Qatar telah membatalkan pekan budaya Perancis.

Ada juga protes yang diadakan di Irak, Suriah, Libya, Jalur Gaza, dan Bangladesh. Aksi protes ini diikuti puluhan ribu demonstran. Mereka membakar patung Macron.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan juga mengatakan Macron mendorong sentimen anti-Muslim dan dengan sengaja memprovokasi umat Islam. Dia juga memanggil duta besar Perancis untuk mengajukan protes.

Komentar Pemimpin Eropa

Para pemimpin Eropa mendukung Macron dan mengkritik serangan terhadap Perancis, terutama dari Turki.

Di Jerman, juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert mengatakan: "Itu adalah komentar fitnah yang sama sekali tidak dapat diterima, terutama dengan latar belakang pembunuhan mengerikan guru Perancis Samuel Paty oleh seorang fanatik Islam."

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menggambarkan serangan pribadi Erdogan terhadap Macron sebagai "serangan baru".

Perdana Menteri Italia, Belanda dan Yunani juga menyatakan dukungannya untuk Perancis.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dalam cuitannya mengatakan "Kata-kata Presiden Erdogan kepada Presiden Emmanuel Macron tidak dapat diterima," menambahkan bahwa Belanda berdiri "untuk kebebasan berbicara dan melawan ekstrimisme dan radikalisme."

Beberapa pejabat Uni Eropa mengecam komentar Erdogan. Komisi Eropa memperingatkan Erdogan bahwa komentarnya itu akan semakin menyulitkan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan komentar Erdogan "tidak dapat diterima" dan mendesak Turki untuk "menghentikan konfrontasi yang berbahaya ini."

Serangan di Nice dan Lyon, Perancis

Tak lama usai kasus pembantaian Samuel Paty, tepatnya pada 29 Oktober 2020, terjadi penusukan tiga warga Perancis di gereja basilika Notre-Dame di Nice, Perancis.

Dikutip dari AP News, serangan itu diduga dilakukan oleh Brahim Aioussaoi (21), pemuda asal Tunisia. Tragedi ini dianggap merupakan reaksi atas penunjukan kartun Nabi Muhammad SAW.

Tiga korban yang terbunuh karena penyerangan tersebut adalah perempuan tua (60) yang nyaris terpenggal kepalanya, staf laki-laki penjaga kebersihan gereja (55), dan seorang perempuan setengah baya (44) yang sempat melarikan diri ke kafe dekat basilika sebelum meninggal dunia.

Berselang dua hari kemudian, pada 31 Oktober 2020, serang kembali terjadi di Perancis, dikutip dari BBC. Kali ini serangan terhadap seorang pastor Ortodoks Yunani. Ia terluka parah dalam penembakan di kota Lyon, Perancis.

Motif serangan itu masih belum jelas. Pihak berwenang telah membuka penyelidikan terkait percobaan pembunuhan.

Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut pembunuhan itu sebagai "serangan teroris Islam" dan mengerahkan ribuan tentara tambahan untuk melindungi situs publik, termasuk tempat ibadah.

Bagaimana dengan Indonesia?

Presiden Jokowi menyatakan, Indonesia mengecam Presiden Perancis Emmanuel Macron. Dia menyampaikan hal itu, sekaligus mengecam tindakan kekerasan yang terjadi di Kota Nice di Paris.

"Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Perancis yang menghina agama Islam yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia," kata Jokowi melalui konferensi persnya yang disiarkan secara langsung melalui akun Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (31/10/2020).

Pernyataan Marcon, kata Jokowi, bisa memicu perpecahan antar umat beragama di dunia. Padahal menurutnya, saat ini sesama umat membutuhkan persatuan untuk menghadapi pandemi COVID-19.

"Dan kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol nilai agama, sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan," imbuhnya.

Menurut Jokowi, mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Dia menegaskan, terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun.

"Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama," tuturnya.



Baca juga artikel terkait BOIKOT PRODUK PERANCIS atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Yantina Debora
Editor: Agung DH
DarkLight