Menuju konten utama

KRKP Prediksikan HET Beras Rp9.450 Sulit Tercapai

Said Abdullah mengatakan, minimal harga beras berada di kisaran Rp9.700-9.800 per Kg atau idealnya Rp10 ribu.

KRKP Prediksikan HET Beras Rp9.450 Sulit Tercapai
Buruh melakukan aktivitas bongkar muat beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat kawasan Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/2/2018). ANTARA FOTO/Khairizal Maris

tirto.id - Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) memprediksikan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras sebesar Rp9.450 per kilogram (Kg) pada tahun ini sulit tercapai. Pasalnya, harga beras medium terhitung masih berada di atas HET.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Kamis (22/2/2018), rata-rata harga beras medium di Jakarta seharga Rp12 ribu per kilogram (Kg), di Bandung sebesar Rp12.500 per Kg, Yogyakarta Rp11 ribu per Kg dan Surabaya Rp12 ribu per Kg.

Koordinasi KRKP, Said Abdullah mengatakan, minimal harga beras berada di kisaran Rp9.700-9.800 per Kg. Namun angka itu tetap di atas HET karena biaya produksinya sekitar Rp4.200 per Kg, lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) yang sebesar Rp3.700 per Kg.

"Yang jelas biaya produksi, rendemen 68 persen saja untuk jadi beras per kilogram dari gabah itu butuh plus ongkos kirim Rp500 per kilogram. Itu minimal Rp9.700-9.800 per kilogram untuk impas modalnya teman-teman penggilingan," sebut Said.

Selain itu, rantai distribusi di Indonesia juga membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk beras dari petani sampai ke konsumen (end user).

"Karena rantai distribusi dari petani ke tengkulak, tengkulak ke penggilingan, penggilingan ke pedagangan kabupaten. Dari situ ke Pasar Induk Beras Cipinang, Cipinang ke pasar umum, pertokoan, dan konsumen. Itulah kira-kira waktunya bisa 2 minggu bahkan 3 mingguan," papar Said.

Namun, ia akhirnya menilai adilnya HET beras berada di kisaran Rp10 ribu per Kg. "Kalau berharap untuk bisa sampai HET saat ini, berat. Bisa saja, tapi nanti yang jadi korban di level petaninya lagi karena nanti keuntungannya menyusut," terang Said.

Baca juga artikel terkait KEBUTUHAN BAHAN POKOK atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Alexander Haryanto