Review:

Kritik Feast Lewat Lirik Lagu & Visual Tarian Penghancur Raya

Oleh: Alexander Haryanto - 8 November 2019
Dibaca Normal 2 menit
.Feast baru saja meluncurkan single "Tarian Penghancur Raya". Lirik dan visual lagu ini sarat akan kritik terhadap kondisi sosial dan lingkungan.
tirto.id - Tak butuh waktu lama dan biaya besar untuk .Feast memperkenalkan single baru "Tarian Penghancur Raya" ke hadapan para pendengar musik. Sebab, sejak dirilis hari ini, tepatnya 8 November 2019, karya mereka langsung menjadi trending topic di jagat maya Twitter. Tentu saja, ada banyak hal menarik untuk dibahas bila menyimak lirik lagu dan visual single baru ini.

Mula-mula, harus diakui, bahwa kehadiran .Feast dalam blantika musik tanah air ini menjadi semacam antitesis di tengah kejenuhan pendengar akan lagu-lagu, yang sering orang-orang bilang, bertemakan "senja dan kopi".

Memang tidak ada yang salah dengan lagu bertema demikian. Toh dalam musik semua orang bebas untuk berekspresi. Akan tetapi, harus diakui pula, bahwa pendengar musik memiliki algoritmenya sendiri-sendiri. Dan bila pasar sudah jenuh, maka pendengar musik akan mencari warna lain untuk menghilangkan dahaga mereka yang haus akan musik baru.

Di tengah kejenuhan itu, .Feast muncul membawa semangat baru melalui musik dan lirik-lirik yang sarat akan kritik sosial. Misalnya, dalam lagu "Peradaban" , mereka menyisipkan kalimat "tempat ibadah terbakar lagi", yang memang kontekstual bila merujuk pada bom Surabaya pada 2018 lalu, atau penembakan di Selandia Baru awal 2019 lalu.


Atau, masih dalam lagu "Peradaban", mereka juga menyisipkan lirik "hidup tak sependek penis laki-laki. Jangan coba atur gaya berpakaian kami." Meski multitafsir, penggalan lirik itu juga bisa diartikan sebagai orang-orang yang sering menyalahkan gaya berpakaian perempuan ketika sang hawa mendapatkan pelecehan seksual.

Sementara dalam lagu "Berita Kehilangan" mereka juga memasukkan sebuah kalimat "kebencian takkan pernah menang karena beberapa orang memaafkan". Potongan lirik itu seperti terdengar biasa, namun punya makna yang dalam bila dicerna dengan saksama.

Kemampuan memasukkan gejala sosial yang dikemas dalam lirik multitafsir serta musik yang segar inilah barangkali membuat .Feast cepat mendapat tempat, sehingga tak heran bila karya mereka ditunggu-tunggu, untuk melihat lagi, hal baru apa yang akan mereka suguhkan ke pendengarnya.

Tarian Penghancur Raya


Single "Tarian Penghancur Raya" ini diambil dari album .Feast berjudul Membangun dan Menghancurkan, dengan Baskara Putra sebagai penulis liriknya. Dalam visual video official lirik yang dipublikasikan oleh Sun Eater ini menampilkan seorang penari.

Menjelang akhir lagu, sang penari melepaskan mahkotanya dan mengambil masker karena ruangnya dipenuhi asap. Setelah mengambil kembali mahkotanya, barulah sang penari kembali melakukan ritual tariannya.

Dalam makna yang tersirat dalam visual itu, tak butuh waktu lama untuk kita mengaitkannya dengan kritik .Feast terhadap kabut asap yang hampir melumpuhkan Riau dan Kalimantan tempo hari, seperti yang kita saksikan dalam headline-headline pemberitaan.

Tapi ternyata, kritik yang dilancarkan .Feast lebih dari itu, yakni mengkritik sikap penolakan salah satu ormas terhadap gelaran Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi pada 2018 lalu. Dalam teks yang tercantum dalam video, .Feast menuliskan:

"Pada tahun 2018, Tari Gandrung dari Banyuwangi dipermasalahkan oleh beberapa kelompok masyarakat tertentu. Ia adalah satu dari sekian banyak warisan asli kebudayaan Indonesia yang terancam keberadaannya karena satu dan lain hal."

Dari sana, .Feast mencoba mengingatkan kembali bahwa tidak hanya lingkungan saja yang terancam eksistensinya, tetapi juga budaya lokal, seperti tari-tarian yang menjadi ciri khas nusantara.

Secara musikal, komposisi aransemen yang mereka suguhkan ini cukup baru bila mencerna karya-karya terdahulu karena memasukkan unsur nuansa tradisional Jawa, yang ditambah dengan distorsi yang kadang muncul dalam beberapa bagian. Lagu bertempo pelan ini menjadi kian menyala karena disusupi dengan cara bernyanyi yang cepat dengan lirik yang padat.

.Feast adalah grup musik yang beranggotakan Baskara Putra, Adnan Satyanugraha Putra, Dicky Renanda Putra, Fadli Fikriawan Wibowo dan Adrianus Aristo Haryo. Sepanjang berkarier mereka sudah merilis dua album Multiverses (2017) dan Beberapa Orang Memaafkan (2018).

Lirik Lagu "Tarian Penghancur Raya":


Mata dan peluh yang asin
Perlahan dihapus angin
Jogja yang beku mendingin
Menari, menghancurkan alam raya yang kecewa

Dibuatnya malapetaka

Kamar berjeruji berpenghuni bersafari berbagai fauna
Flora kerasukan freon di ruko toko bunga
Bank ahli industri teknologi etnografi produksi menggurui penghuni asli

Berbicara cepat bilang haram
Kearifan lokal yang dibungkam
Tuli pada yang belajar alam
Mati sesak nafas tengah malam

La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la

Trotoar lebar, bahan hijau, Tesla
Kalah cepat disalip kuda Asia
Tewas di lampu merah, garis zebra
Efek Rumah Kaca tiba-tiba suddenly di mana-mana

Uap terlontar mengepung kota
Berlomba ciptakan plastik kita
Saat senja kehabisan kata
Siang malampun gelap gulita

La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la

Kerja bakti menyusun neraka
Kita miliki bahan bakarnya
Perihal waktu tunggu datangnya
O2 dijual oleh negara

Oh terima kasih 'kan usahanya
Sedotan besi, plastik cycle tiga
Pun pepohonan tak berkuasa
Lawan kebijakan yang bertamasya

Burung bersiul malapetaka
Gurun menatap dingin manusia
Laut dan pegunungan kecewa
Kudeta besar alam semesta

Siarkan kabar penelan surya
Meleleh matikan kutub utara
Amalkan tarian penghancur raya
Kobarkan tarian penghancur raya

La la la, la la la, la la
Kobarkan tarian penghancur raya
La la la, la la la, la la
Kobarkan tarian penghancur raya

La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la
La la la, la la la, la la




Baca juga artikel terkait TARIAN PENGHANCUR RAYA atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight