Krisis Pangan Dunia, Jokowi Ingin Indonesia Bisa Ekspor Beras

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 18 Agu 2022 11:54 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Presiden Joko Widodo mengklaim harga beras di beberapa negara lebih mahal dibandingkan Indonesia, rata-rata Rp10.000.
tirto.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat bersyukur lantaran harga beras tanah air masih stabil. Dia mengklaim harga beras di beberapa negara lebih mahal dibandingkan Indonesia, rata-rata Rp10.000.

Dia menjelaskan angka tersebut masih lebih rendah daripada Jepang yang mencapai Rp66.000 per liter, Korea Selatan Rp54.000 per liter, Amerika Serikat Rp53.000 per liter, serta Cina Rp26.000 per liter.

"Kita ini harus bersyukur bahwa utamanya harga pangan utamanya lagi harga beras masih bisa kita kendalikan dengan baik harga beras di angka rata-rata masih 10an ribu," kata Jokowi saat memberikan sambutan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi tahun 2022 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/8/2022).

Indonesia berhasil mendapat penghargaan dari International Rice Research Institute untuk sistem ketahanan pangan Indonesia saat ini. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu berharap upaya Indonesia dalam proses swasembada beras bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Peningkatan tersebut bisa membuat Indonesia mampu ekspor beras demi mengatasi kelangkaan pangan.

"Swasembada beras yang harus dipertahankan dan kita tingkatkan sehingga tidak hanya swasembada beras saja tetapi nanti bisa ekport beras ikut mengatasi kelangkaan pangan di beberapa negara karena sudah mengerikan sekali," bebernya.

Lebih lanjut, Jokowi juga menjelaskan sekitar 60 negara akan ambruk dalam sektor ekonomi dan kurang lebih 345 juta orang di 82 negara akan kekurangan pangan. Angka ini sangat besar sehingga Indonesia harus bekerja luar biasa agar tidak menjadi bagian negara yang ambruk di masa depan.

"Lembaga-lembaga Internasional rentan ambruk ekonominya 60 negara. Biasanya kalau ada krisis ada krisis 4-5 negara ini sudah 60 negara yang diprediksi akan ambruk ekonominya dan 345 juta orang di 82 negara akan menderita kekurangan pangan akut dan kelaparan. Inilah Kenapa saya sampaikan kita tidak boleh bekerja rutinitas. tidak boleh bekerja standar," pungkasnya.




Baca juga artikel terkait ANCAMAN KRISIS PANGAN atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Intan Umbari Prihatin

DarkLight