Krisis Energi, Petani Eropa Optimalkan Lagi Pemakaian Gua

Kontributor: Dwi Ayunintyas, tirto.id - 6 Nov 2022 16:15 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Siapa sangka, sistem penyimpanan pangan a la zaman batu kembali marak di Eropa.
tirto.id - Pandemi COVID-19 hampir saja usai, tetapi dunia kini menghadapi malapetaka baru, yakni krisis energi. Siapa sangka, sistem penyimpanan pangan a la zaman batu kembali marak di Eropa.

Badan Energi Internasional (EIA) pada pertemuan tahunan bulan Mei silam secara terbuka mengakui bahwa dunia saat ini menghadapi ancaman krisis energi, yang merupakan pertama kali terjadi dalam setengah abad terakhir.

“Kita berada di tengah-tengah krisis energi global pertama. Pada tahun 70-an dunia dilanda krisis minyak, tapi sekarang kita mengalami krisis minyak, krisis gas alam, dan krisis batu baru – semua harga meroket,” tutur Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA.


Melansir Trading Economics, harga batu bara, minyak bumi dan gas bumi meroket dan menyentuh harga tertingginya dalam 1 dekade terakhir. Harga batu bara sepanjang tahun berjalan melesat 233% dari US$ 151,75/ton menjadi US$ 353/ton pada 3 November.

Sementara itu, harga minyak Brent (acuan Eropa dan Indonesia) lompat 122% dari US$ 77,8/barel di awal tahun ke US$ 94,55/barel. Harga gas juga meningkat 160% menjadi US$ 5,98/juta standard kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd).

Perlu diketahui, krisis energi saat ini bermula dari lonjakan permintaan seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi setelah berakhirnya pandemi Covid-19. Sayangnya, lonjakan permintaan tersebut tidak seiring sejalan dengan kondisi pasokan energi.

Situasi diperparah oleh perang Rusia-Ukraina, yang berujung pada pemboikotan pasokan energi Rusia oleh negara Barat dan sekutunya. Seiring dengan itu, Tiongkok mengurangi pasokan batu baranya.

Kindisi kian pelik setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan sekutunya mengurangi suplai minyak bumi dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) ke pasar dunia.

Di sisi lain, terdapat efek domino yang belum terlihat dari krisis energi saat ini dan patut diwaspadai, yakni krisis rantai pasokan pangan akibat dari melonjaknya harga energi yang ikut memukul produksi pupuk. Harap dicatat, pupuk diproduksi dari gas alam.

Badan Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) mencatat jumlah orang yang akan menghadapi ketidakamanan pangan akut meningkat lebih dari tiga kali lipat antara tahun 2017 dan 2021. Angka ini bahkan diprediksi melonjak tahun ini menjadi 323 juta orang.


Sejak pertengahan tahun 2020, harga pangan mengalami lonjakan karena pemulihan permintaan setelah krisis Covid-19. Namun, sekarang harga pangan berisiko kembali naik karena biaya input yang meningkat, yakni biaya energi (listrik) dan pupuk.

Industri pertanian dan makanan menggunakan listrik untuk irigrasi air, bahan bakar untuk mesin, dan energi lainnya untuk proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi. IEA mencatat bahwa harga pupuk meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak pertengahan 2020.

Alhasil tingginya harga energi dan pupuk memperberat ongkos produksi pangan sehingga harganya melambung. Lembaga Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mencatat harga energi (garis biru) dan harga pangan (garis kuning) menjadi kontributor utama yang mendorong lonjakan inflasi global.

info grafik pendorong inflasi dunia. (IMF)
info grafik pendorong inflasi dunia


Sistem Pertanian “Manusia Gua” Marak Lagi


Alternatif populer untuk mengatasi krisis energi adalah dengan mengembangkan sumber energi baru terbarukan (EBT). Terlebih, pemanfaatan EBT juga sejalan dengan komitmen negara-negara dunia terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK).

Akan tetapi, pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan menghadapi banyak masalah dan protes dari masyarakat sekitar. Ambil Negara Adidaya Amerika Serikat (AS) sebagai contohnya.

Melansir dari Forbes pada tahun 2021, AS mencatat 31 komunitas masyarakat menolak proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) karena khawatir dengan masalah kesehatan dari kebisingan turbin serta potensi penurunan nilai properti mereka.

Di tengah situasi pelik demikian, para petani di Italia melansir reportase Reuters memiliki cara unik untuk memotong anggaran biaya produksi mereka, yaitu dengan memanfaatkan gua sebagaimana marak dipakai oleh masyarakat di era paleolitikum (zaman batu tua).

Sekelompok petani apel di Italia Utara menggunakan lemari es alami yang diukir di bawah lereng bukit untuk menyimpan hasil panen mereka. Gua buatan ini memiliki suhu konstan di semua musim.

Grup petani Melinda, telah menciptakan 34 area pendingin di gua-gua luas yang terletak 300 meter di bawah kebun buah apel mereka di Predaia, Italia Utara. Di gua ini mereka menyimpan sekitar 12-13% dari hasil panen, yakni di kisaran 30.000 ton apel.

Angka tersebut diperkirakan masih bisa ditingkatkan menjadi 40.000 ton.

Manfaat utama gua ini bukan saja sebagai penyimpanan, tapi juga memotong biaya listrik. “Dari sisi dampak lingkungan, kami telah melihat lebih banyak keuntungan dan kelebihan,” ujar Mauro Erlicher, manajer pabrik bawah tanah.

“Salah satunya pasti dalam hal tingkat energi, karena dari tes yang dilakukan tahun lalu.., kami mengukur penghematan listrik di gua sebesar 32%.”

Lebih lanjut, penggunaan gua untuk tempat penyimpanan makanan bukanlah hal yang baru. Pemanfaatan gua untuk memelihara ternak, bercocok tanam, dan menghasilkan tanaman dapat ditemukan di belahan dunia lainnya.

Penggunaan gua untuk menyimpan bahan makanan ini diperkirakan telah berlangsung sejak zaman batu. Sekalipun para arkeolog kini berdebat soal penggunaan gua sebagai hunian, mereka setuju bahwa gua menjadi sarana untuk menyimpan bahan makanan.

Arkeolog asal Amerika, Margaret Conkey, menemukan bahwa dalam gua terjadi berbagi jenis aktivitas dan pertukaran budaya lintas generasi. “Orang-orang jelas berada di dalam gua – melukis, menggambar, dan melakukan kegiatan budaya lainnya.”

Conkey juga menambahkan bahwa terdapat bukti beberapa gua digunakan kembali oleh generasi berbeda. “Kami melihat beberapa alat yang mungkin dibuat penghuni sebelumnya dan kemudian dikerjakan ulang jau kemudian dengan teknik yang berbeda.”

Salah satu tempat wisata popular dunia, yakni Cappadocia di Turki memiliki ratusan gua yang bersifat fungsional dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Cappadocia
Wisata Balon Udara di Cappadocia, Turkey. foto/istockphoto


Salah satu kompleks gua di sana terbukti menjadi hunian dan juga gudang pangan, yang disinyalir terjadi sejak zaman perunggu. Sejak era Bizantium sampai sekarang, petani Cappadocia melanjutkan teknik pemanfaatan gua untuk mendukung aktivitas pertanian.

Periset dan wirausaha dari Universitas Purdue (Amerika Serikat/AS), Doug Ausenbaugh dan Carry Mitchell menilai gudang bawah tanah dan gua bekas tambang dapat meningkatkan produktivitas panen.

Terlebih lagi, buah dan sayuran dapat tumbuh tanpa pestisida karena umumnya tidak ada serangga di gua. “Jika sistem pencahayaan bisa lebih efisien, sistem gua dapat merevolusi pertanian AS,” ujar Mitchell dalam wawancaranya terkait penelitian bioteknologi.

Solusi untuk Petani Indonesia?


Berbeda dari petani Italia, Turki, ataupun AS, petani Ibu Pertiwi belum bisa memanfaatkan gua sebagai lahan pertanian atau tempat penyimpanan hasil pangan. Pasalnya, gua-gua di Indonesia umumnya masih sulit diakses dan sangat lembap.

Merujuk pada beberapa penelitian ilmiah terkait gua, fungsi gua di Indonesia umumnya terbatas sebagai sumber air bawah tanah (irigasi), sumber pupuk alami yang berasal dari kelelawar gua, dan sebagai lokasi wisata.

Peneliti Universitas Atmajaya Yogyakarta Sugita melakukan observasi pada Gua Ngguwo di Gunung Kidul dan menemukan bahwa masyarakat setempat memanfaatkan gua sebagai sumber mata air untuk pengairan lahan sawah dengan potensi ekowisata.

Selain itu studi oleh mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta terkait Gua Snawi di Sumatra Selatan, juga berkesimpulan pada manfaat gua sebagai sumber air tanah.

Lalu, adakah alternatif lain agar petani Indonesia terhindar dari dampak krisis energi? Pasalnya, petani tradisional di Indonesia umumnya masih menggunakan bahan bakar minyak (utamanya solar) untuk irigrasi, mesin traktor dan penggiling padi.

Oleh karena itu, solusi harus fokus pada pengurangan pemakaian solar. Peralihan solar ke listrik dapat membantu menghemat biaya operasional para petani Tanah Air. Proyek ini dikenal dengan nama electrifying agriculture (pertanian berbasis listrik).

Program yang dicetus oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dan PT Perusahaan Listrik Negra (PLN) diharap dapat meningkatkan produktivitas komoditas pertanian, serta membantu menciptakan efisiensi biaya operasional aktivitas petani di lapangan.

Annisa, petani dari Kelompok Tani Mayang Maurai, mengaku sukses menekan biaya produksi hingga 90% dan menjaga kualitas panen dengan memakai penggilingan listrik. Pemakaian listrik untuk irigasi diklaim menghemat biaya hingga 60% ketimbang genset.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi baru dan terbarukan (EBT) besar. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensinya mencapai 3.686 gigawatt (GW) dari surya, air, biomassa, angin, panas bumi dan arus laut.
Sayangnya, dari beragam sumber energi terbarukan di Tanah Air, hanya sumber energi panas bumi yang dapat diandalkan. Hal ini mengingat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) memiliki produktivitas hingga 95%.

Sementara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ada di kisaran 60-65% tergantung faktor cuaca. Selain itu, meskipun berada di garis khatulistiwa, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memiliki tingkat ketersedian hanya 17-20% dalam setahun.

PLTP yang digadang-gadang jadi unggulan memiliki kelemahan yakni anggaran investasi yang tidak sedikit. Belum lagi masalah perizinan hutan dan pembangunan akses jalan mengingat sumber panas bumi umumnya di atas gunung atau di tengah hutan lindung.

Infografik Potensi Energi Terbarukan di Indonesia
Infografik Potensi Energi Terbarukan di Indonesia. tirto.id/Ecun


Alhasil, harta karun energi hijau di Indonesia yang memiliki potensi tinggi, urung menjadi solusi utama karena banyaknya pekerjaan rumah dan anggaran yang harus dikeluarkan.

Baca juga artikel terkait GUA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Dwi Ayunintyas
Editor: Arif Gunawan Sulistiyono

DarkLight