KRI Irian: Uni Soviet, Operasi Trikora, dan Dihilangkan Orde Baru

KRI Irian. FOTO/indomiliter.com
Oleh: Petrik Matanasi - 23 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
KRI Irian dibawa dari Uni Soviet ketika Indonesia menghadapi Belanda dalam perebutan Irian Barat.
Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev dan Perdana Menteri Nikolai Bulganin pada 1956 berkunjung ke Inggris. Kala itu Perang Dingin sedang berlangsung antara Blok Barat yang liberal dan Blok Timur yang komunis. Keduanya datang naik kapal penjelajah milik Angkatan Laut Soviet, Ordzhonikidze (310), yang dikawal dua kapal perusak. Kapal-kapal itu tiba pada 18 April dan bersandar di Pelabuhan Portsmouth. Setelah kunjungan itu, hubungan Inggris-Soviet memburuk.

Seorang perwira pasukan katak Inggris, Lionel Crabb, hilang secara misterius di sekitar kapal Soviet. Majalah Life (28/05/1956) menyebut Crab muncul di antara dua kapal perusak dan akhirnya menghilang. Ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di dekat kapal-kapal itu. Crab dianggap sedang melakukan misi intelijen di sekitar kapal penjelajah itu. Perdana Menteri Inggris Sir Anthony Eden mengakui Crab telah melakukan tes katak disekitar kapal. Pemerintah Inggris mengaku menyesal atas insiden tersebut.

Ordzhonikidze (310) buatan galangan kapal di Saint Petersburg, Rusia, yang pengerjaannya dimulai sejak 19 Oktober 1949 dan diluncurkan pada 17 September 1950. Sejak 30 Juni 1952 kapal ini mulai menjadi bagian dari armada Angkatan Laut Uni Soviet yang dikenal sebagai Armada Merah. Kapal dengan bobot kosong seberat 13.600 ton ini berukuran 210x22 meter dan mampu menjelajah 60.19 km perjam.

Bertahun-tahun setelah insiden di Pelabuhan Portsmouth yang menewaskan Lionel Crab, hubungan Indonesia dan Belanda memanas dalam perebutan Irian Jaya. Untuk mengimbangi kekuatan Angkatan Laut Belanda yang mempunyai HNLMS Karel Doorman, Ordzhonikidze (310) didatangkan ke Indonesia dan namanya diganti menjadi KRI Irian dengan nomor lambung 201.

Timbang terima kapal terjadi pada 3 Oktober 1961, dan dua hari kemudian kapal tersebut resmi menjadi milik Indonesia. Dari Uni Soviet kapal ini dibawa oleh para pelaut Indonesia di bawah komando Kolonel Frits Suak.

”Kapal penjelajah KRI Irian 201, belasan unit kapal selam wiskey class bersenjatakan torpedo dan rudal, serta pembom jarak jauh Tu-16KS badger dengan rudal AS-1 Kennel potensial menenggelamkan HNLMS Karel Doorman,” tulis Achmad Taufiqoerachman dalam Kepemimpinan Maritim (2019:258).

Saat terjadi konflik tersebut, seperti dicatat Bernard Kent Sondakh dan kawan-kawan dalam Laksamana Kent Menjaga Laut Indonesia (2014:38), Indonesia memiliki 12 fregat, 12 kapal selam, 22 kapal cepat bertorpedo dan berpeluru kendali, 4 kapal penyapu ranjau, dan KRI Irian.

”Itu sebabnya, melalui proses perundingan dan saran dari Amerika Serikat, Belanda kemudian memilih hengkang dari Papua,” tulis Achmad Taufiqoerachman.


KRI Irian adalah kapal terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Ketika bersandar di perairan Surabaya, seperti digambarkan I Nyoman Suharta dalam Arek Bumi Moro: Menelusuri Jalan Hree Dharma Shanty (2015), ”Panjang KRI Irian hampir memenuhi separuh panjang dermaga. Di depannya bersandar beberapa destroyer dan di bekalangnya sebuah kapal tanker. Kedua kapal itu tampak kecil dibandingkan dengan KRI Irian.”

Jumlah awak kapal ini sebanyak 1.050 orang. Beberapa alumni KRI Irian antara lain dr. Tarmidzi Taher (Kepala kesehatan KRI Irian antara 1963-1965), dr. Kartono Muhammad (dokter kapal), dan Widodo AS yang kelak menjadi KSAL.

Setelah Belanda hengkang, KRI Irian membuat Angkatan Laut Indonesia disegani di bumi belahan selatan. Namun sayang kondisi itu tidak bertahan lama. Setelah Sukarno didongkel dari kursi kekuasaannya, alat utama sistem persenjataan (alutsista) ALRI kemudian mulai menurun.

Menurunnya kekuatan ALRI dibarengi dengan menghilangnya KRI Irian dari armada laut Indonesia. Kapal tersebut dihilangkan di zaman Laksamana Sudomo menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL). Seperti dilaporkan majalah Exspres (8 Agustus 1970), saat itu anggaran ALRI seret, sementara biaya opersional KRI Irian dinggap terlalu besar.

Selain itu, ukuran KRI Irian yang sangat besar juga membuatnya hanya bisa singgah dan bersandar di Jakarta, Surabaya, dan Ambon. Sebelum dihilangkan, alasan lain yang muncul adalah karena kapal ini dianggap sudah tidak lincah lagi.




Menurut Sudomo dalam biografinya yang ditulis Julius Pour, Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan (1997:178), kebanyakan kapal perang dari Blok Timur kondisinya menurun karena tidak tersedianya suku cadang yang cukup sehingga tak ada jalan lain kecuali tak lagi memakainya.

Ketika Indonesia lebih mesra dengan Amerika Serikat dan Blok Barat, alat tempur buatan Blok Timur yang ada di Indonesia pun jadi perhatian agen Uni Soviet. Menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007:97), terdapat Proyek 055 di Surabaya yang memantau sisa bantuan Uni Soviet kepada Indonesia.

Di era Orde Baru, menghilangkan KRI Irian dianggap solusi terbaik demi kemajuan ALRI. Kapal tersebut kemudian dibesituakan. Sebagian pihak menyebutnya ke Taiwan, sementara Tempo (1977) menyebutnya ke Jepang. Setelah itu tak ada lagi kapal ALRI yang sebesar dan sesangar KRI Irian.

Yang tersisa kemudian hanya kenangan, termasuk bagi Sukarno. Seperti dicatat Julius Pour dalam Pengalaman dan Kesaksian Sejak Proklamasi sampai Orde Baru (1995:48) ”Bung Karno mengajak Haryati berbulan madu di KRI Irian.”

Setelah menempuh perjalanan Jakarta-Makassar dengan pesawat terbang, sebagaimana ditulis dalam Hariyatie Soekarno The Hidden Story: Hari-hari Bersama Bung Karno, 1963-1967 (2001), keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke Papua dengan menggunakan KRI Irian.

Baca juga artikel terkait KAPAL REPUBLIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight