KPK Geledah 3 PTN terkait Kasus Suap Rektor Unila

Reporter: Fatimatuz Zahra, tirto.id - 11 Okt 2022 16:30 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Tiga PTN yang digeledah tim penyidik KPK terkait kasus suap Rektor Unila yaitu Untirta, Universitas Riau & Universitas Syiah Kuala.
tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pada penyidikan perkara dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru tahun 2022 di Universitas Lampung (Unila). Penggeledahan dilakukan tim penyidik pada 26 September 2022 hingga 7 Oktober 2022.

"Sebagai tindak lanjut pengumpulan alat bukti untuk perkara ini, Tim Penyidik sejak 26 September 2022 s/d 7 Oktober 2022 telah selesai melaksanakan penggeledahan di 3 Perguruan Tinggi Negeri," kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK, Ali Fikri, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/10/2022).

Ketiga PTN itu adalah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten; Universitas Riau, Pekanbaru; dan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.


Ali Fikri menyebut penggeledahan di tiga PTN tersebut dilakukan di sejumlah tempat, antara lain ruang kerja rektor dan beberapa ruangan lainnya.

Dari penggeledahan tersebut, KPK mengamankan sejumlah bukti terkait penerimaan mahasiswa baru.

"Bukti yang ditemukan dan diamankan yaitu berbagai dokumen dan bukti elektronik terkait dengan penerimaan mahasiswa baru termasuk seleksi mahasiswa dengan jalur afirmatif dan kerja sama," ujar Ali.

Bukti-bukti tersebut akan dikonfirmasi kepada para saksi maupun tersangka untuk menjadi kelengkapan berkas perkara.

Diketahui, KPK telah menetapkan Rektor Unila, Karomani, dan tiga orang lainnya sebagai tersangka kasus dugaan suap oleh penyelenggara negara atau yang mewakilinya terkait penerimaan calon mahasiswa baru pada Universitas Lampung (Unila) tahun 2022.

Selain Karomani, KPK juga menetapkan Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila Heryandi (HY), dan Ketua Senat Unila Muhammad Basri (MB) sebagai tersangka selaku penerima uang suap. Sedangkan sebagai pemberi, ialah pihak swasta Andi Desfiandi (AD).

KPK menduga Karonami aktif terlibat langsung dalam menentukan kelulusan para peserta Simanila dengan memerintahkan Heryandi dan Budi Sutomo, dan melibatkan Muhammad Basri untuk turut serta menyeleksi secara personal terkait kesanggupan orang tua mahasiswa.


Atas perbuatannya, Karomani, Heryadi, Muhammad Basri selaku penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan sebagai pemberi, Andi Desfiandi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.


Baca juga artikel terkait SUAP REKTOR UNILA atau tulisan menarik lainnya Fatimatuz Zahra
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Fatimatuz Zahra
Penulis: Fatimatuz Zahra
Editor: Bayu Septianto

DarkLight