KPAI Minta Pesantren Bertanggung Jawab Terkait Tewasnya Santri

Oleh: Yandri Daniel Damaledo - 19 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Komisioner KPAI Putu Elvina meminta pihak pesantren agar bertanggung jawab atas meninggalnya salah seorang santri yang dikeroyok oleh temannya sendiri.
tirto.id - Pihak pesantren di Nagari Balai Gadang Koto Laweh, Kecamatan X Koto Tanah Datar, Sumatera Barat, diminta oleh Komisioner Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina, untuk bertanggung jawab atas kasus santri berinisial RA (18) yang tewas dikeroyok beberapa temannya sendiri.

"Sudah saatnya pesantren menerapkan pesantren ramah anak," kata Putu yang merupakan komisioner KPAI penanggung jawab bidang Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Dia berharap pihak pesantren mengevaluasi proses pembinaan, pengawasan dan pola relasi antarsantri yang lebih baik.

Maka, kata dia, saat terjadi masalah di antara santri, penanggung jawab santri bisa segera mengetahui dari awal sehingga aksi-aksi kekerasan dan main hakim sendiri bisa dihindari.

KPAI, lanjut Putu, menyesali kurangnya tanggung jawab pihak pesantren dalam melakukan pengawasan terhadap para santrinya sehingga pengeroyokan secara terus menerus dan berujung maut luput dari pengawasan.

Kasus tewasnya RA saat ini ditangani Satreskrim Polres Padang Panjang. Putu meminta prosedur penanganan anak-anak tersebut dilakukan sesuai dengan UU Sistem Peradilan Anak, seperti mengutamakan upaya rehabilitasi agar mereka tidak kembali melakukan perbuatan tersebut.

"Mereka juga harus didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum sehingga hak-hak mereka selama menjalani proses dilindungi," kata dia.

Putu mengatakan kasus kekerasan terhadap anak di lingkup pendidikan memiliki dinamika yang luar biasa baik dari tempat terjadinya kekerasan maupun jenis kekerasan.

"Pengeroyokan yang dilakukan sekelompok anak terhadap salah satu teman mereka, korban yang sempat dirawat di rumah sakit akhirnya meninggal dunia. Duka cita mendalam KPAI untuk keluarga korban. Saya sebelumnya berencana mau membesuk korban tapi Allah lebih sayang dia," katanya.

Pengeroyokan pada RA terjadi lantaran korban diduga beberapa kali mencuri barang milik temannya seperti ponsel, speaker dan lain-lain. Pelaku kesal karena RA kerap mengulang tindakannya meski sudah diingatkan beberapa kali dan meminta maaf.

Setelah dilakukan gelar perkara dan prarekonstruksi, polisi setempat menetapkan 17 tersangka dari 19 santri yang dimintai keterangan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Padang Panjang Iptu Kalbert Jonaidi mengatakan pelaku mengaku kemarahan terjadi karena korban sudah mengakui kesalahan dan minta maaf tapi tetap saja mencuri.



Baca juga artikel terkait KASUS PENGEROYOKAN atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Abdul Aziz