Periksa Fakta

Koran Australia "Tangan Jokowi Berlumur Darah": Koran 4 Tahun Lalu

Fact Check Ilustrasi Tangan Jokowi Berlumuran Darah
Header Periksa Fakta. tirto.id/Quita
Oleh: Frendy Kurniawan - 29 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Koran Australia itu membicarakan eksekusi mati dua warga negara Australia yang terkait narkoba di Indonesia pada 2015.
tirto.id - “ILUSTRASI MEDIA AUSTRALIA TENTANG MUKIDI ADLH KEJUJURAN YG TDK DISENGAJA”

Akun Facebook JayaEmEs menulis kalimat itu pada 27 Mei 2019, pukul 13:55 WIB. Ia menyertakan tautan berita lama Republika yang membahas berita koran Australia, The Courier Mail, yang kesal atas eksekusi mati terpidana kasus narkoba, Rabu (29/04/2015) di Indonesia. Dua warga negara Australia turut dieksekusi mati.

JayaEmEs pun menuliskan komentar: “Kenapa jae tak pernah meminta maaf atas janji2 yg diingkarinya ? TIDAK berempati atas jatuhnya 700 anggota KPPS, 11.000 dlm keadaan sekarat. Jatuhnya korban 20 & ratusan luka2 pd peristiwa 22 mei? Krn ia tdk dirancang ut menjadi pemimpin NKRI selain menjadi alat berbagai kepentingan aseng asing”.

Jika dicermati, tidak hanya JayaEmEs yang membagi kembali artikel berita lama, ataupun ilustrasi tangan Jokowi “berlumuran darah” itu. Di Twitter, setidaknya sejak 25 Mei, ilustrasi lawas The Courier Mail memang kembali bermunculan. Tentu dengan tambahan berbagai macam komentar.



FAKTA

Mukidi

Akun Facebook JayaEmEs menyebut sosok “Mukidi” dalam judul komentarnya. Meski demikian, dalam kalimat komentar selanjutnya, penyebutan Mukidi dapat ditafsir merujuk pada Presiden Joko Widodo.

Mukidi sendiri adalah sosok fiktif di era 90-an melalui Radio Prambors. Ditulis Republika, Soetantyo Moechlas, yang kala itu kerap mengirim cerita-cerita ke radio Prambors, sering memunculkan sosok Mukidi. Mukidi dianggap tokoh yang dapat menjadi siapa pun atau apa pun.

Dalam perbincangan di media sosial, terutama menyangkut polarisasi pendukung Jokowi dan bukan pendukung Jokowi, nama Mukidi kerap dijadikan semacam sindiran bagi sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Berita Lama dari Australia, Tak Terkait

Artikel berita Republika yang membahas ilustrasi The Courier Mail itu terbit pada Kamis. Berita di Republika itu memberi konteks terkait ilustrasi, yakni kekesalan Australia atas keputusan eksekusi mati terpidana narkoba. Dua di antaranya memang warga negara Australia, yakni Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Mereka menyebut hukuman mati itu kejam.

The Courirer Mail sendiri memang memuat ilustrasi itu, seperti terekam dalam akun Twitter mereka pada 29 April 2015 pukul 1:16 AM saat membandingkan “front-page news in Australia and Indonesia” dalam memberitakan Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Ilustrasi itu sendiri adalah gambar sampul edisi cetak mereka. Artinya, ilustrasi koran The Courier Mail yang memuat tangan Jokowi “berlumuran darah” benar adanya. Namun, konteks atas ilustrasi itu tidak sesuai dengan komentar dari JayaEmEs yang mengaitkannya dengan kematian anggota KPPS Pemilu 2019..

Data JayaEmEs pun Salah

Kami juga memeriksa klaim JayaEmEs yang menyebut 700 anggota KPPS (tewas) dan 11.000 dalam keadaan sekarat karena pemilu dan klaimnya bahwa ada 20 korban (tewas) dan ratusan yang luka-luka pada peristiwa 22 Mei.

Menurut data Kementerian Kesehatan hingga 15 Mei 2019, jumlah petugas Pemilu 2019 yang meninggal adalah 527 jiwa, sementara yang sakit mencapai 11.239 orang. Jumlah itu tersebar di 28 provinsi di seluruh Indonesia. Artinya, data soal korban KPPS dari JayaEmEs keliru.

Klaim 20 korban dan ratusan luka-luka pada peristiwa 22 Mei pun tidak tepat. Menurut data terakhir yang kami miliki, 23 Mei 2019 pukul 11.00 WIB, merujuk informasi dari Gubernur DKI Jakarta, total korban dalam aksi unjuk rasa 22 Mei 2019 yang berakhir dengan rusuh itu 737 orang dan 8 orang meninggal.

KESIMPULAN

Melalui pemeriksaan fakta ini, kami menyimpulkan unggahan akun Facebook JayaEmEs pada 27 Mei 2019 pukul 13:55 WIB soal ilustrasi lawas The Courier Mail berikut klaim tentang jumlah korban KPPS dalam penyelenggaraan Pemilu 2009 dan aksi 22 Mei 2019 adalah informasi dengan konteks yang tidak tepat.

Informasi yang dia berikan mengarah pada kategori disinformasi. Informasinya tidak tepat, dikaitkan dengan konteks lain, serta ditambahi “bumbu-bumbu” komentar tertentu.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight