Kondisi Tol Cipali Saat Ini Terkini & Penyebab Amblas Menurut PVMBG

Oleh: Nur Hidayah Perwitasari - 10 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kondisi lalu lintas Tol Cipali, masih padat dan saat ini diberlakukan contraflow dari Km 117 sampai Km 126.
tirto.id - Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di KM 122+400 arah Cirebon ke Jakarta amblas pada Selasa pagi. Hingga saat ini, Rabu (10/2/2021) menurut Jasa Marga arus lalu lintas di Tol Cipali masih padat dan diberlakukan contraflow dari Km 117 sampai Km 126.

Direktur Operasi ASTRA Tol Cipali Agung Prasetyo mengatakan perbaikan jalan yang ambles di Tol Cipali KM 122+400 diperkirakan akan membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 bulan, untuk sementara kendaraan yang melintas di daerah itu dilakukan lawan arah.

"Perbaikan jalan diperkirakan memakan waktu satu setengah bulan," kata Agung Prasetyo seperti dilansir Antara.

Menurut Agung, setelah adanya jalan yang ambles, pihaknya langsung berkoordinasi dengan kontraktor untuk perbaikan.

Namun setelah peninjauan lokasi di KM 122+400, maka perbaikan membutuhkan waktu cukup lama, sehingga pihak tol Cipali membuka lajur sementara di bahu jalan agar bisa mengurangi beban lalu lintas.

"Untuk mengurangi beban lalu lintas, akan dibangun lajur sementara di median, diperkirakan memakan waktu sampai 10 hari," tuturnya.

Agung mengatakan untuk panjang jalan yang ambles yaitu sekitar 40 meter dan pertama kali ditemukan adanya retakan di daerah tersebut pada 8 Februari 2021 sekitar pukul 16.00 WIB,

Namun, dengan intensitas dan curah hujan tinggi mengakibatkan banyak volume air yang masuk melalui retakan dan ditambah dengan kendaraan berat yang melintas untuk menghindari banjir di jalur Pantura.

"Sehingga keretakan bertambah besar hingga jalan tidak bisa dilewati kendaraan," katanya.

Analisis penyebab amblasnya Tol Cipali KM 122+400 menurut Badan Geologi PVMBG



Menurut Badan Geologi, PVMBG, secara umum lokasi bencana merupakan daerah landai hingga agak curam yang berada di bantaran Sungai Cipunagara dengan kemiringan lereng <20º.

Lokasi berada pada ketinggian antara 20 - 25 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan Peta Geologi lernbar Bandung, Jawa (Silitonga, 1973), daerah bencana tersusun oleh batupasir tufaan, lempung dan konglomerat (Qos). Di sekitar area gerakan tanah tidak terdapat struktur geologi berupa lipatan maupun sesar/patahan.

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Februari 2021 di Kabupaten Subang, Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), ruas Jalan Toi Cipali KM 122 berada pada wilayah dengan potensi gerakan tanah rendah.

Artinya daerah ini mempunyai potensi rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah kecuali pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai dan gawir atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama telah mantap kembali.

Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan:

• Kemiringan lereng yang tidak terlampau curam sehingga gerakan tanah relatif lambat.

• Kemungkinan material timbunan yang kurang padu atau mudah tererosi.

• Pengaruh dari erosi air permukaan (air hujan maupun aliran sungai) di kaki lereng mengingat lokasinya yang berada tidak jauh dari sungai besar.

• Curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah.

Rekomendasi Badan Geologi PVMBG:
Mengingat curah hujan yang masih tinggi, maka untuk menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian yang lebih besar, direkomendasikan sebagai berikut:

• Segera memperbaiki badan jalan yang retak dan amblas agar lalu lintas di jalan tol kembali normal;

• Segera menutup retakan dan dipadatkan agar air tidak meresap ke dalamnya yang dapat mempercepat pergerakan;

• Mengarahkan aliran air permukaan agar menjauhi area retakan;

• Membuat perkuatan lereng di tepian badan jalan yang berada dekat dengan sungai untuk mengurangi laju erosi dan meningkatkan kestabilan lereng;

• Perlu penyelidikan geologi teknik sebagai landasan untuk perkuatan lereng (bor pile/sheet pile)

• Pengalihan arus kendaraan agar terus dilakukan hingga perbaikan jalan selesai dan tidak tampak adanya pergerakan tanah susulan;

• Melakukan pemantauan terhadap area retakan, jika retakan berkembang dan bertambah luas agar segera menutup jalan dan mengalihkan kendaraan yang melintas (contra-flow);

• Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah beserta gejala yang mengawalinya;

• Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari BPBD/aparat pemerintah daerah setempat.



Baca juga artikel terkait TOL CIPALI atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Agung DH
DarkLight