Komunitas Indonesia Queensland Bantu Korban Bushfire dan Kekeringan

Oleh: Ibnu Azis - 29 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Penggalangan dana untuk korban bushfire dan kekeringan ini bukan yang pertama oleh komunitas Indonesia di Australia.
tirto.id - Komunitas Indonesia di Queensland berkolaborasi dengan Rotary Club menggelar malam amal untuk korban kebakaran semak (bushfire) dan kekeringan di hall Australian International Islamic College (AIIC), Brisbane, Australia, Sabtu (29/2/2020) malam.

Dalam acara bertajuk "Bushfire and Drought Appeal Indonesia Fundraising Night" itu sekitar 400-an orang dari beragam warna kulit, agama, dan kebangsaan menikmati tampilan angklung dari para siswa Indonesia di Ironside State School.

Dari rilis yang kami terima, hadirin juga menikmati beragam atraksi seni dari Seharum Nusantara, Viva Lestari, Rindik Balinese Instrumental, dan Kusuma Indonesia Community Australia (KICA).

"Saat ini bushfire memang sudah padam, tetapi justru inilah periode yang sangat penting. Masyarakat yang terdampak sedang mulai menata kembali kehidupan mereka sehingga butuh bantuan kita," kata Ketua Indonesian Diaspora Network di Queensland, Noel Pranoto.

Sambil menikmati sajian khas nasi kapau lengkap dari Sendok Garpu dan beragam jajanan Indonesia, hadirin bisa membeli kupon raffle. Kupon ini diundi untuk mendapatkan sejumlah hadiah dari sponsor.

Keberadaan hadiah itu hanya untuk memeriahkan acara saja karena yang utama adalah terkumpulnya dana untuk disumbangkan pada korban bushfire dan kekeringan.

"Selain dari tiket gala dinner yang dijual 35 dolar Australia per orang dan raffle, dana juga didapat dari silent auction alias lelang sunyi," ujar Rizka Laya, salah satu panitia.

Rizka mengatakan, hadirin menuliskan tawaran harga mereka atas barang-barang yang dipajang dekat pintu masuk. Tawaran harga tertinggi menjadi pemenangnya.


Menggandeng Rotary Club

Dalam beberapa tahun terakhir, Rotary Club menyalurkan bantuan untuk warga terdampak kekeringan dan bushfire bekerja sama dengan Rural Financial Adviser (RFA) di masing-masing kota kecil atau wilayah pedesaan.


RFA inilah yang biasanya tahu persis warga yang paling membutuhkan, jenis bantuan yang dibutuhkan, dan apakah mereka menerima bantuan dari pihak lain atau tidak.

Dengan demikian, bantuan sampai kepada yang membutuhkan, tidak tumpang tindih, dan hadir dalam bentuk yang paling dibutuhkan.

Pendekatan Rotary Club dalam menyalurkan bantuan terbilang presisi dan menyeluruh. Di sinilah keputusan menggandeng Rotary Club menjadi keputusan tepat.

Warga terdampak mendapatkan debit card yang sangat spesifik, tak bisa untuk membeli rokok, minuman beralkohol, dan tak pula bisa digunakan untuk berjudi.

Tak hanya itu, debit card ini juga hanya bisa digunakan untuk berbelanja di wilayah penerima saja, tak bisa dipakai untuk berbelanja di tempat lain.

Uang yang tersimpan dalam debit card itu terpakai untuk membeli kebutuhan dapur di grocery shop lokal, membeli daging di butcher lokal, membeli bensin di SPBU lokal, membayar obat di toko obat lokal, dan lainnya yang serba lokal.

Debit card yang dananya didapat dari donasi beragam kalangan itu bukan hanya membantu pribadi-pribadi yang mendapatkan bantuan, tetapi juga menggerakkan perekonomian lokal.

Mekanisme serupa akan diberlakukan untuk penyaluran bantuan bagi para korban bushfire dan kekeringan yang didapat dari malam penggalangan dana ini.


Bukan yang Pertama

Penggalangan dana untuk korban bushfire dan kekeringan ini bukan yang pertama oleh komunitas Indonesia di Australia. Sebelumnya, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Darwin, Adelaide, dan Sydney.

Di Brisbane sendiri juga sudah dilakukan penggalangan dana dengan menjual makanan khas Indonesia yang digawangi oleh Bakso Rawit Ani.

Beberapa waktu lalu, misalnya, komunitas Indonesia di Brisbane dan sekitarnya turut serta dalam penggalangan dana berupa bantuan air minum untuk warga terdampak kekeringan dan bushfire di Stanthorpe dan sekitarnya.

"RFA biasanya yang memberi tahu kami ke mana bantuannya sebaiknya diberikan. Hasil donasi malam ini juga akan kami koordinasikan dengan RFA untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan," kata Lester Drew, Sekretaris Rotary Archerfield.

Dari komunitas Indonesia di antaranya tampak perwakilan dari NU, Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB), Indonesian Muslim Center of Queensland, Indonesian Catholic Family, kelompok-kelompok kesenian, dan beragam kelompok lainnya.

"Tidak ada yang meminta bencana. Tugas kita adalah membantu semampu kita terhadap mereka yang sedang tertimpa bencana. Saat orang butuh, kita menolong seperti diperintahkan oleh Allah SWT 'tolong menolonglah kalian dalam urusan yang baik dan ketakwaan'," kata Badai Aqrandista, imam dari Association of Islamic Dakwah in Queensland.

Hal senada disampaikan David Wijaya, warga keturunan Indonesia yang kini menjadi warga negara Australia. Menurutnya, kegiatan seperti ini membuat dan membuktikan komunitas Indonesia engage dengan komunitas Australia secara umum.

"Kita hadir bukan hanya saat butuh bantuan, namun juga dengan memberi bantuan dan menunjukkan kepedulian," kata David.

Ekonomi Australia sendiri mengalami pelambatan yang cukup berarti.

Ketika para petani dan peternak masih sempoyongan dihantam kekeringan dan banyak warga di beragam kota belum bangkit dari kebakaran semak, ekonomi Australia kembali mendapat tekanan akibat pelambatan di sektor pariwisata, pendidikan dan beberapa sektor lain akibat virus corona.

Namun, warga Australia memiliki kohesivitas yang terbilang tinggi dan keinginan membantu warga lain yang tertimpa musibah.


Baca juga artikel terkait KEBAKARAN AUSTRALIA atau tulisan menarik lainnya Ibnu Azis
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Siaran Pers
Penulis: Ibnu Azis
Editor: Agung DH
DarkLight